Wayang Wahyu, Seni Pertunjukan

Kesenian wayang sudah dikenal luas di Indonesia sejak masa pengaruh kebudayaan Hindu/Buddha terutama di Jawa dan Bali, yang sampai saat ini masih kerap dipertunjukkan. Pengakuan dunia atas wayang Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intagible Heritage of Humanity, yang ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis, sungguh menjadi kebanggaan tersendiri. Saat serbuan seni budaya belum sehebat sekarang, pertunjukan wayang menjadi primadona dalam sebuah hajatan dan selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Pertunjukan wayang menyerupai gelaran teater yang menggunakan boneka-boneka berbahan kulit dan kayu dengan memanfaatkan bayangan yang dihasilkan oleh pencahayaan lampu (“blencong”). Wayang yang merupakan akulturasi kebudayaan pra-Islam kerap mengambil kisah-kisah epik Hindu, Ramayana dan Bharatayuddha, dalam setiap lakon pementasannya. Dahulu, kepopulerannya wayang di masyarakat menyebabkan para wali memilih pentas wayang sebagai media penyebaran agama Islam di Jawa, dengan cerita yang tentunya dimodifikasi sesuai ajaran Islam.

Dalam perkembangannya, wayang juga dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran ajaran Kristen. Pada 13 Oktober 1957, seorang misionaris Belanda yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur Purbayan, Surakarta, bernama Bruder Timotheus L. Wignjosoebroto FIC, menyaksikan sebuah pentas wayang di gedung Himpunan Budaya Surakarta. Sang dalang, M.M. Atmowijoyo, seorang guru di Sekolah Guru Bantu II Surakarta, mengambil cerita dari kitab Perjanjian Lama dengan lakon Dawud Nampa  Wahyu Keraton (“nampa”, bahasa Jawa, artinya mendapat). Wayang yang digunakan dalam pentas tersebut adalah tokoh-tokoh wayang kulit yang namanya disesuaikan dengan jalannya cerita, misal Bambang Wijanarka untuk peran Daud, dan Raden Kumbakarna untuk peran Goliat. Pentas ini memunculkan ide dibenak Bruder Timotheus untuk menjadikan wayang sebagai sarana menyampaikan wahyu atau firman Tuhan dalam ajaran Kristen. Namun karena bentuk wayangnya tidak mencerminkan tokoh-toko dalam Alkitab, ia ingin membuat bentuk wayang baru yang bisa mengakomodir idenya. Nantinya wayang-wayang tersebut bisa menjadi alat peraga untuk mengajarkan agama Katolik di gereja-gereja atau di tempat pelajaran agama Katolik. Tokoh-tokoh yang dimaksud antara lain Adam, Hawa, Daud, Goliat, Musa, Abraham,Yesus, Maria, dan Yusup. Bruder Timotheus kemudian menggandeng M.M. Atmowijoyo (dalang), R. Roesradi Wijayasawarno (pelukis dan penatah wayang), dan J. Soetarmo (pengrawit). Idenya kemudian mendapat dukungan dari petinggi Gereja Katolik waktu itu, yaitu Mgr. A. Soegijapranoto (Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang), Romo J. Darmoyuwono Pr., Romo D. Adisoedjono MSF, Romo dan P.C. Soetapanitra S.J. Seorang pemain gendang ulung dari Surakarta, Ki Subanta, juga ikut mendukung.

Pada 2 Februari 1960, untuk pertama kalinya pertunjukan wayang wahyu diselenggarakan di gedung Sekolah Kejuruan Kepandaian Puteri Purbayan Solo. Pentas perdana ini menampilkan beberapa lakon sekaligus secara berurutan yaitu Malaikat Mbalela, Manusia Pertama Jatuh dalam Dosa, dan Kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Semula wayang ini dinamakan wayang Katolik, namun PC Soetopranito SJ memberikan nama “wayang wahyu”. Material wayang yang digunakan saat itu masih sederhana, terbuat dari karton dan kardus. Pada tahun 1966, akibat meluapnya sungai Bengawan Solo, kota Surakarta dilanda banjir besar yang menimbulkan banyak kerusakan termasuk Bruderan FIC di Purbayan. Koleksi  wayang wahyu yang terbuat dari karton pun rusak, lumat terdampak banjir. Akhirnya material wayang wahyu diganti dengan kulit kerbau sama seperti wayang kulit pada umumnya.

Wayang wahyu makin dikenal setelah mengikuti pentas pada Pekan Wayang Indonesia I (1969) dan Pekan Wayang Indonesia II (1974). Dalam perkembangannya wayang wahyu tidak hanya dikenal di Surakarta, tetapi juga Klaten, Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Malang, dan Jakarta. Wayang wahyu tidak hanya dipentaskan di lingkungan Gereja Katolik, tetapi juga di luar lingkungan gereja. Dalam pertunjukannya, wayang wahyu juga diiringi oleh gamelan tetapi dengan laras dan pathet yang sedikit berbeda dari pertunjukan wayang pada umumnya.  Lagu yang dilantunkan bernafaskan kerohanian Kristen. Peran pesinden juga tak sesignifikan dan sebesar pertunjukan wayang pada umumnya, hanya pemanis saat goro-goro (adegan chaos, huru-hara, dan sejenisnya). Iringan musik yang tidak lazim di telinga menjadikan wayang wahyu kurang memasyarakat. Pertunjukan wayang wahyu biasanya disponsori oleh gereja atau individu, dan umumnya tampil dalam perayaan hari-hari besar Kristen, ulang tahun gereja, sekolah Kristen, maupun universitas Kristen. Lama pertunjukan wayang wahyu tidak sepanjang pertunjukan wayang kulit, hanya dua hingga empat jam.