Wayang Urban, Seni Pertunjukan

Wayang Urban adalah sebuah pertunjukan wayang kontemporer yang menggabungkan wayang kulit, gamelan, musik kontemporer, teater, parodi, dan monolog. Selama pertunjukan berlangsung narasi dan dialog menggunakan bahasa Indonesia. Dalang yang biasanya duduk di depan kelir (layar lebar berwarna putih) dan menjadi pencerita tunggal, dalam pertunjukan wayang urban justru seringkali bangkit dari duduknya. Ia menyapa penonton yang hadir dan berinteraksi dengan penonton kemudian menjelaskan hal-hal yang terkait dengan pertunjukannya. Misal tentang tokoh wayang yang dibawanya sambil menyapa penonton, atau nilai-nilai filosofi dibalik gendhing iringan.

Wayang Urban lahir dari gagasan untuk menjembatani antara seni wayang tradisional dengan generasi muda yang tinggal di perkotaan. Hal ini menjadi jawaban bagi “kesulitan menikmati wayang” karena berbagai kendala seperti penggunaan bahasa Jawa yang belum tentu bisa dipahami oleh seluruh penonton, ritme pertunjukan yang terkesan lambat, dan lamanya waktu pertunjukan. Bagi masyarakat perkotaan, waktu adalah sesuatu yang harus diatur dengan baik, karena tuntutan pekerjaan dan kesibukan sebagaimana umumnya masyarakat perkotaan di era kini. Nanang Heri Priyanto, penggagas sekaligus dalang wayang urban, berupaya mendekatkan kaum muda perkotaan dengan tradisi lama yang memang tak dekat dengan keseharian mereka. Kegelisahan Nanang atas terputusnya generasi muda dari tradisi yang sebenarnya mengandung banyak filosofi serta pengetahuan tentang hidup dan kehidupan, terjawab dengan antusiasme kaum muda yang menjadi penontonnya. Pertunjukan wayang kulit purwa yang disuguhkannya tidak lagi membosankan karena dikemas secara ringkas, padat, dan jenaka. Namun baginya wayang urban tetap hanya sebagai media untuk menyampaikan muatan tradisi dengan bahasa kekinian.

Wayang kontemporer seperti wayang urban ini tetap berakar pada wayang tradisi, namun tidak harus mengikuti pakem, sifatnya dinamis agar bisa dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman. Lakon dalam pertunjukannya tidak selalu bersumber pada Epos Ramayana dan Mahabarata, melainkan lakon carangan yaitu cerita baru hasil pengembangan kreativitas dalang dalam menciptakan tokoh-tokoh serta kisah yang berbeda. Cerita yang disampaikan menggambarkan realitas sosial masyarakat, seperti keagamaan, pendidikan, hiburan, informasi, kritik terhadap pemerintah, maupun kritik sosial menyangkut kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya lakon Sukrasana Sumantri yang adegannya diawali percakapan tentang keinginan untuk  pergi ke kota. Ki Dalang Nanang kemudian mengaitkannya dengan kondisi urbanisasi dan habisnya anak-anak muda desa yang tergoda mencari peruntungan di kota.

Dalam pertunjukannya, Ki Dalang Nanang tetap menghadirkan iringan gamelan dan wayang kulit purwa sebagai permainan bayang-bayang pada kelir. Namun ia menggabungkannya dengan musik modern berupa iringan band. Lagunya tidak terbatas pada tembang-tembang tradisi yang biasa dinyanyikan oleh pesinden, tetapi juga lagu-lagu pop dan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Bahasa yang digunakannya disesuaikan dengan lokasi pementasan  yang bisa dipahami kalangan muda. Konsep pertunjukan berbentuk monolog yang menggunakan berbagai media seni semisal teater. Ceritanya diambil dari khasanah wayang tetapi diinterpretasi ulang dan disesuaikan dengan isu-isu di masyarakat yang kekinian.

Wayang Urban pertama kali dipentaskan oleh Ki Dalang Nanang pada tahun 2006 di Solo. Saat itu ia masih menggunakan bahasa Jawa tetapi dalam kemasan pertunjukan kontemporer. Pertunjukannya mendapat sambutan dari para penonton usia muda, yang memang menginginkan bentuk pertunjukan berbeda, tidak monoton serta membosankan seperti wayang kulit tradisional. Para sesepuh dan seniman wayang tidak mengkritik pertunjukannya, bahkan mendukung karena cerita yang diangkatnya tetap mengakar pada tradisi. Tahun 2009 Ki Dalang Nanang mengadakan pertunjukan di Jakarta, dan menggunakan bahasa Indonesia dalam pertunjukannya. Ia pun mendapat apresiasi dari para penonton kalangan muda. Sekat yang menghalangi kaum muda untuk bisa menikmati dan memahami pertunjukan wayang kulit pun akhirnya hilang. Uniknya dalam mementaskan wayang urban, Ki Dalang Nanang justru dibantu oleh teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Manado, Sumatera, dan Kalimantan. Hal ini sesuai dengan tujuannya untuk memperkenalkan wayang tradisi kepada siapa pun. Dalam hajatan besar Pekan Kebudayaan Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan bulan September 2019 di Istora Senayan, wayang urban juga hadir menghibur para pengunjung.