Wayang Suket, Seni Pertunjukan

Wayang adalah budaya adiluhung bangsa Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia melalui UNESCO, dengan pemberian penghargaan “Wayang Indonesia sebagai Karya Agung Budaya Dunia” (Masterpiece of the Oral and Intagible Heritage of Humanity) pada tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis. Salah satu di antara keragaman wayang Indonesia adalah “wayang suket”, yang merupakan bentuk tiruan dari figur wayang kulit, hanya saja dibuatnya dari rumput atau suket dalam bahasa Jawa. Wayang suket biasanya digunakan sebagai alat permainan atau dolanan anak-anak desa saat menggembalakan ternak. Ketika kerbau, sapi, atau kambing yang digembalakan sibuk makan rumput, bocah angon (anak gembala) bermain dengan menirukan para dalang mementaskan wayang. Rumput-rumput di sekitar mereka menggembala kemudian dijadikan bahan untuk membuat model wayangnya.

Kehadiran wayang suket berawal dari keinginan kuat Kasan Wikrama Tunut (Mbah Gepuk), seorang petani yang berasal dari Dukuh Kemangunan, Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Purbalingga, untuk membuat wayang dan mendalang. Namun karena harga bahan baku kulit tidak murah, maka timbul ide menggunakan rumput atau alang-alang liar yang bisa diperoleh secara gratis. Jenis rumput yang digunakan adalah rumput kasuran, yaitu rumput yang hanya tumbuh pada bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Bentuk rumput kasuran sebenarnya hampir sama dengan rumput lainnya, hanya tidak cepat putus dan pada bagian tengah daun memiliki lubang. Meski bisa dibilang rumput adalah tanaman liar yang biasanya untuk pakan ternak, namun bagi Mbah Gepuk rumput mempunyai nilai filosofi tersendiri. Rumput hidup  di bawah dan kerap diinjak bahkan dibabat, tetapi rumput tetap hidup dan tumbuh seiring dengan keberadaan unsur alam lainnya seperti tanah, air, udara, dan matahari. Jika diilustrasikan sama dengan pertunjukan wayang sebagai tontonan mewah untuk kalangan istana, tetapi tetap dapat dipentaskan dan dinikmati oleh masyarakat kebanyakan.

Rumput yang akan digunakan dipilih sesuai ukuran. Jika wayang suketnya berukuran besar maka harus menggunakan batang suket yang berukuran besar juga. Untuk ukuran normal, satu buah wayang suket membutuhkan 300 batang rumput kasuran. Sebelum proses penganyaman, batang-batang rumput ini direndam terlebih dahulu hingga satu jam agar layu, kemudian dipukul-pukul (digepuk) sehingga mudah dianyam. Proses pembuatan wayang ini ada 4 teknik, yakni anyaman sarang lebah, anyaman gedhěg untuk bagian tangan, anyaman kalabangan untuk bagian kepala, dan anyaman tikaran untuk kail bagian belakang kepala. Lama pembuatan antara satu tokoh wayang dengan tokoh lainnya tidak selalu sama, tergantung tingkat detail wayang yang akan dibuat. Tingkat kesulitan tinggi yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra, menjadikan tidak banyak orang mau menekuni pembuatan wayang suket ini.

Wayang suket buatan Mbah Gepuk mulai dikenal sekitar tahun 1990-an saat digelarnya pameran dalam rangka Perkemahan Wira Karya Nasional (PWN) yang dibuka oleh Presiden Soeharto di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang. Sejak saat itu, wayang suket sering dipamerkan di kota-kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Solo. Tahun 2012, cucu Mbah Gepuk bernama Badriyanto, yang berupaya melestarikan wayang suket mulai banyak menerima order dari seniman-seniman lokal, nasional bahkan internasional seperti Jerman dan Perancis. Meski terbuat dari rumput tetapi fisik wayang suket bisa bertahan hingga 20 tahun asalkan disimpan di tempat yang kering, dan untuk membersihkannya cukup menggunakan kuas basah lalu dikeringkan hingga betul-betul kering.

Kehadiran wayang suket di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari nama seorang seniman asal Tegal, Slamet Gundono, lulusan STSI Pedalangan, yang mencoba mengangkat wayang suket menjadi sebuah pertunjukan panggung. Andilnya sangat besar hingga wayang suket dikenal oleh masyarakat banyak.  Pertunjukan wayang Slamet Gundono, awalnya hanya bermediakan wayang suket, tetapi dalam perkembangannya ia lebih mengandalkan unsur teatrikal dan kekuatan berceritera. Dalam pementasan wayang suketnya, Slamet Gundono juga menggunakan musik pengiring yang terdiri dari gamelan, alat musik petik, alat musik tiup, dan beberapa alat musik tradisional lainnya. Ia juga dibantu beberapa pengrawit, penari yang merangkap sebagai pemain, untuk melengkapi pertunjukannya. Setting panggung berubah-ubah sesuai tema yang ditentukan. Media yang digunakan dalam pertunjukannya bukan hanya wayang suket tetapi juga wayang kulit, dan terkadang memakai dedaunan untuk dijadikan tokoh wayang. Kepandaiannya bertutur membuat suasana pertunjukan menjadi hidup, dan mampu membawa emosi penonton melayang-layang karena imajinasi mereka ikut bermain. Sepeninggal Slamet Gundono tahun 2010 karena komplikasi penyakit, wayang suket meredup karena tak ada lagi yang melanjutkan kiprahnya, mementaskan pertunjukan wayang suket dengan segala ‘kehebohannya’.

Upaya mengangkat kembali wayang suket dilakukan oleh Gaga Rizky, yang mementaskan kolaborasi pertunjukan wayang suket dengan shadow art techniques (teknik bayangan), di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, pada bulan April 2019. Material wayang suketnya menggunakan rumput mendong yang lebih mudah dianyam. Selain karakter dan tokoh, dibuat juga wayang berbentuk properti-properti yang dibutuhkan sesuai cerita. Materialnya sebagian besar tetap menggunakan rumput, tetapi juga ada material lain yang memberikan efek-efek tertentu seperti air, plastik mika berwarna, dan tinta. Teknik bayangannya menggunakan Over Head Projector (OHP) sebagai media. Dalam pementasannya, Gaga menyertakan musik kontemporer sebagai pengiring, yang memadukan beberapa jenis  alat musik modern dan tradisional, seperti gitar, synthesizer, perkusi, suling, dan karinding. Tidak hanya itu, ia pun menggunakan “stand up comedy” dalam beberapa segmennya. Hal ini dimaksudkan agar penonton milenial tidak jenuh dan tetap bertahan hingga pertunjukan usai. Penggunaan rumput mendong sebagai material wayang suket juga dilakukan oleh Syamsul Subakri, pelestari wayang suket asal Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Rumput mendong banyak tumbuh di pinggir sungai dan biasa digunakan sebagai bahan dasar membuat tikar.