Wayang Potehi, Seni Pertunjukan

Wayang Potehi adalah boneka tiga dimensi berbahan kayu yang terdiri dari bagian kepala, tangan, kaki dan sepatu. Tinggi ± 30 cm, lebar ± 15 cm, dan kepala ± 5 cm. Boneka mengenakan pakaian yang dibuat dari kain blacu. Kata Potehi berasal dari dialek Hokkian, yang terdiri dari kata pao “布” (kain), tay “袋” (kantung), dan hie “ 戯” (wayang). Terkadang Potehi disebut juga dengan bu “布” (kain), dai “袋” (kantung), pi “皮” (kulit), ying “影” (bayangan), dan xi”戏” (memainkan). Konon wayang potehi merupakan hasil kreativitas lima orang narapidana yang divonis hukuman mati pada masa Dinasti Tang (617-918). Di antara kelimanya hanya ada satu orang yang tabah dan mengajak terpidana lainnya bersenang-senang sebelum ajal menjemput. Untuk menghibur diri kemudian mereka membuat boneka dari kain persegi empat, yang salah satu ujungnya diikat agar membentuk seperti boneka yang mempunyai kepala, badan dan tangan. Boneka kemudian digerak-gerakkan seperti sedang memainkan wayang dengan menggunakan perlengkapan makan dan masak sebagai musik pengiring. Pertunjukan kecil mereka terdengar oleh Raja Tiu Ong, yang kemudian meminta mereka tampil dihadapannya di istana. Raja Tiu Ong merasa terhibur dan akhirnya membebaskan mereka dari hukuman mati.

Wayang Potehi berasal dari distrik Quanzhou (provinsi Fujian atau Fu-kien). Masuk ke Indonesia sekitar abad XVI-XIX melalui para perantau Tionghoa yang umumnya tinggal menetap di daerah pesisir pantai utara Jawa. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan wayang potehi lebih banyak ditemukan di Jawa Timur dibandingkan lainnya. Dalang wayang potehi juga sebagian besar berasal dari Jawa Timur seperti Sidoarjo, Tulungagung, Kediri, dan Surabaya. Saat wayang potehi pertama kali dipentaskan, dalangnya adalah para Sin-ke (istilah untuk orang-orang Tionghoa totok yang merantau ke negeri asing), tetapi sekarang tidak semua dalang wayang potehi berasal dari peranakan Tionghoa. Bahasa pengantar yang awalnya bahasa Hokkian pun seiring perkembangan beralih menggunakan bahasa Indonesia. Lakon wayang potehi awalnya juga masih mengambil kisah asli negeri Tiongkok, seperti Sie Djin Kui yang berkisah tentang peperangan antar dua negara. Lakon klasik lainnya adalah Poei Si Giok atau Fang She Yu, yang pernah diperankan oleh Jet Li. Saat ini wayang potehi membawakan lakon yang sifatnya universal dan tidak selalu berkaitan dengan kepercayaan tertentu. Lakon yang biasa dibawakan adalah epos (kepahlawanan), ajaran Konghucu, cerita rakyat, roman sejarah, dan kisah mengenai bakti seorang anak kepada orang tuanya. Lakon yang biasa dimainkan adalah Sie Jin Kwie (Sie Djin Kuis), Poei Sie Giok (Poei Si Giok), Jhi Gu Nau Tong Tiauw, Kho Han Bun, Sam Kok, Sam Pek Eng Tay, Li Si Bin, dan Koan Kong.

Pertunjukan wayang potehi berfungsi sebagai sarana ritual pemujaan roh nenek moyang atau leluhur. Saat dimainkan di Kelenteng atau Vihara sebenarnya mereka bermain untuk para dewa dan roh leluhur, sehingga kehadiran penonton tidak lagi menjadi penting, dan pertunjukan tetap akan dituntaskan hingga lakon yang dipilih selesai dimainkan. Biasanya lakon wayang potehi dibawakan secara serial, bahkan ada kisah yang setelah tiga bulan disampaikan baru selesai secara keseluruhan. Umumnya pertunjukan wayang potehi digelar pada pukul 15.00-17.00, dan pukul 19.00-21.00. Lakon yang dibawakan tergantung waktu pertunjukan, misal lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat) saat siang hari, dan lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti) jika diadakan malam hari.

Pertunjukan wayang potehi dilakukan dalam sebuah panggung yang mirip dengan panggung boneka, lengkap dengan atap dan tempat boneka-boneka dimainkan. Ada 2 orang dalang yang memainkannya, dalang inti dan asisten dalang, yang masing-masing memegang 2 boneka. Mereka tidak mengenakan kostum khusus seperti dalang wayang kulit Jawa, boleh berpakaian apa saja, bahkan kaos oblong ataupun telanjang dada. Kedua dalang berada di balik tirai panggung yang menghadap ke arah penonton sehingga tidak akan ada orang yang melihatnya. Cara memainkan wayang potehi adalah dengan memasukkan jari tangan ke dalam kantong kain dan menggerakkannya sesuai jalan cerita atau lakon. Narasi lakon dibawakan oleh dalang inti, sedangkan asisten dalang membantu menampilkan tokoh-tokohnya. Kemampuan dalang memainkan boneka hingga tampak hidup dan intonasi suara sangat menentukan dalam pertunjukan wayang potehi. Pengucapan nama tokoh harus diperhatikan dengan baik karena tidak boleh salah. Saat dimainkan, boneka wayang potehi bisa mewakili lebih dari satu karakter. Hal ini dimungkinkan karena kostum dan aksesori pada setiap boneka tidak melekat secara mati, sehingga bisa diganti-ganti sebagaimana boneka pada umumnya. Jadi jika kostum dan aksesorinya diganti maka karakter wayangnya juga ikut berubah. Musik pengiring pertunjukan terdiri dari gembreng besar (toa loo), rebab (hian na), kayu (piak ko), suling (bien siauw), gembreng kecil (siauw loo), gendang (tong ko), dan slompret (thua jwee). Ketujuh alat musik tersebut dimainkan oleh 3 orang pemain musik (satu orang memainkan 2 atau 3 alat musik).

Wayang potehi sempat menghilang ketika kebijakan politik melarang pertunjukan secara terbuka. Setelah angin reformasi berhembus, wayang potehi mulai diangkat kembali dan pertunjukannya tidak sebatas dalam lingkungan Vihara atau Kelenteng, tetapi juga di area terbuka dan pusat perbelanjaan. Grup wayang potehi kini banjir order saat perayaan Imlek. Salah satu kelenteng yang sering mengadakan pertunjukan wayang potehi adalah kelenteng Fu De Gong atau Vihara Amurva Bhumi di Jakarta Selatan.