Wayang Kulit Cirebon, Seni Pertunjukan

Wayang Kulit Cirebon berkembang bersamaan dengan masuknya agama Islam. Syair Babad Cirebon menyebutkan nama  Sunan Kalijaga sebagai pencetus wayang kulit Cirebon atau Cerbon: (1) Suhunan Ing Kalijaga anyaosaken kang ringgit, umatur susuhunan Bonang, sumangga didamel kalih, rempug sakhatahing wali, miwah gusti Sunan ratu, Kajoran kinen damela, ken nyitak dados kalih, ingkang kajiyat in Pangeran Kajoran. Sunan Kalijaga berkenan menyerahkan wayang, Sunan Bonang meminta agar dibuatkan dan diperbanyak, semua wali menerimanya, Gusti Sunan Ratu (Sunan Purba) segera memerintahkan Pangeran Kajoran; (2) Sawise nganggit gamelan, amangun keramat wali, pasarean ing astana, dinamel kalaning wengi, anuju ing taun alip, ping sadasa riyaya, terape ing bada isa, waktu subuh sampun radin, sigra bubar sakathaning wali sanga. Setelah membuat arasemen gamelan, membangun tajug (di Gunung Sembung) pada malam itu, tahun alif, tanggal 10 Lebaran Idul Adha, tepatnya setelah sholat Isya’ diadakan pergelaran sampai waktu Subuh, setelah itu para wali kembali ke kediaman masing-masing.

Kedua syair secara jelas mencantumkan nama Sunan Kalijaga sebagai  pencetus sekaligus mempergelarkan wayang kulit Cirebon untuk pertama kalinya di Bangsal Pringgitan, depan komplek Astana Nurgiri Ciptarengga, pada tanggal 10 Dzulhijah ± tahun 1480-an. Sedangkan Pangeran Kajoran adalah orang pertama yang memproduksi wayang Cerbon sebanyak ± 1000 buah. Para dalang di Cirebon kemudian bersepakat menetapkan tanggal 10 Dzulhijah sebagai hari Pedalangan Cirebon.

Wayang Kulit Cirebon terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau, yang diberi kerangka dari bambu lengkap dengan gagang atau pegangan (cempurit, campurip, tuding), untuk menggerakkan wayang serta menancapkannya pada batang pisang (debog). Meski fisik wayangnya bisa dikatakan masih turunan dari wayang purwa dan mendapat pengaruh dari wayang Jawa Tengah, tetapi secara keseluruhan berbeda dibandingkan dengan wayang Jawa, baik dari tampilan wayangnya maupun tata cara pertunjukan termasuk musik pengiringnya. Semua menginduk pada ajaran Islam yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga. Misal motif bawang siungan pada kayu pegangan (cempurit/campurip/tuding) yang berkerat lima sebagai simbol rukun Islam. Cara memegangnya memiliki aturan tersendiri, yaitu dengan menempelkan ibu jari di bawah bawang siungan yang berkerat lima. Maknanya adalah jika seseorang sudah berpedoman pada kelima rukun Islam, dan melaksanakannya dengan benar maka hidupnya akan menjadi baik. Sedang “campurip” yang merupakan akronim dari “campuring urip” memiliki makna ikut campurnya sang dalang dalam menggerakkan wayang karena wayang tidak bisa melakukannya sendiri. Begitu juga dengan hidup manusia yang selalu membutuhkan campur tangan Allah sebagaimana makna “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah).

Pergelaran selalu diupayakan agar masyarakat yang datang dapat menontonnya dari dua arah, yaitu dari depan panggung dan belakang panggung. Jika dari depan panggung sebagaimana pertunjukan wayang kulit pada umumnya, maka hanya akan terlihat bayangan wayang tanpa dalang sebagai simbolisasi perwujudan makhluk (manusia) dan bukan Tuhan. Ajaran dibaliknya adalah jika ada manusia yang mengaku sebagai Tuhan, maka hukumnya “musyrik” (dosa besar yang tidak mendapat ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala). Jika menonton dari belakang panggung maka akan terlihat seorang dalang yang sedang memainkan wayang di pakeliran. Hal ini bermakna hakekat adanya Allah yang menghidupkan manusia beserta alam seisinya, sebagaimana wayang yang tidak bisa bergerak sendiri.

Penempatan perlengkapan panggung (kelir/layar, kotak wayang, jejeran wayang atau janturan, dan lain-lain), instrumen musik, hingga cara memainkannya juga memiliki aturan sebagai simbolisasi ajaran Islam. Misal cara memainkan gong, yaitu memukul gong kecil sebanyak 5 kali, terdiri dari pukulan lambat 3 kali dan cepat 2 kali. Cara memukulnya melambangkan shalat lima waktu yang memiliki jeda cukup lama ada tiga, yaitu Isya menuju Subuh, antara Subuh dan Dzuhur, serta Dzuhur ke Ashar. Sedangkan yang jedanya pendek ada dua, yaitu Ashar menuju Magrib, dan Magrib menuju Isya. Ketentuan lain yang sampai saat ini masih dipegang yaitu jika pertunjukan dilakukan di keraton maka arah hadapnya harus ke barat, mengarah ke Kesultanan Cirebon sebagai yang tertua di antara ketiga kesultanan yang ada (Kacirebonan, Kasepuhan, Kanoman). Jika menghadap ke arah timur dianggap sebagai orang yang baru lahir.

Awalnya pertunjukan wayang kulit Cirebon mengangkat kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata tetapi dalam versi Islam, sehingga melahirkan banyak lakon anggit atau carangan (rekaan). Termasuk lakon babad dan srepeng yang mempertemukan tokoh mitologi Hindu dengan para wali atau tokoh dewa-dewa Hindu bertemu dengan para Nabi, seperti lakon Awang-Uwung, Serat Adam Winangun,  Nabi Sis Sabda Guru,  Nabi Nuh, Wisnu sabda Guru, dan lakon yang mempertemukan Sang Hyang Wenang dengan Nabi Sulaiman. Pengaruh Islam sangat kuat dalam wayang Cirebon, sehingga tokoh punakawannya pun berjumlah sembilan orang sebagai lambang dari sembilan wali yang menyebarkan Islam di Nusantara. Kesembilan tokoh punakawan tersebut adalah Semar, Curis, Bitarota, Ceblog, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Ada tiga lakon (cerita) yang sering dimainkan, yaitu: (1) cerita “galur”, murni mengambil kisah-kisah Mahabarata; (2) cerita “carangan (srempeng)”, mengambil kisah-kisah Mahabarata tetapi dicampur cerita rekaan sang dalang; dan (3) cerita “anggit”, dibuat sendiri oleh sang dalang. Umumnya dalang wayang kulit Cirebon menggunakan cerita carangan dan cerita anggit dalam pertunjukannya.

Wayang kulit Cirebon masih bertahan hingga kini dengan penjagaan dari berbagai tradisi yang dipertahankan oleh ketiga keraton yang ada. Sejak awal perkembangan Islam hingga berdirinya pusat kekuasaan Islam di Cirebon, wayang digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Pada masa kolonial digunakan sebagai sarana perjuangan menentang kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda, sedangkan memasuki era kemerdekaan pergelaran wayang kulit lebih difungsikan  sebagai alat untuk mengkampanyekan program-program pemerintah. Fungsi sosial wayang kulit Cirebon juga tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat dalam upacara-upacara adat, yang lakonnya disesuaikan dengan jenis upacaranya. Misal lakon bumi loka untuk ritual sedekah bumi, lakon sri sedana untuk ritual mapag sri, barikan untuk ritual jelang tanam padi, budug basu untuk sedekah laut, dan lakon lungguhan (kulun-kulun) dalam pelantikan Kuwu. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Cirebon dengan beragam dialek, salah satunya  dialek Indramayu atau bahasa dermayon. Namun seiring perkembangan, terutama setelah 1980-an bahasa yang digunakan hanya bahasa Cirebon yang dicampur dengan bahasa Indonesia berlogat khas Cirebon.