Wayang Kancil, Seni Pertunjukan

Wayang Kancil adalah jenis wayang kulit dengan tokoh utama kancil, hewan yang identik dengan anak-anak dan buah timun. Wayang Kancil diciptakan oleh Sunan Giri pada akhir abad ke-15, dan digunakan sebagai media dakwah Islam di Gresik. Namun wayang kancil kurang populer dibandingkan wayang kulit, bahkan gaungnya pun hilang. Pada awal abad ke-20, seorang Tionghoa bernama Babah Bo Liem berupaya menghidupkan kembali wayang kancil. Tahun 1925 dibantu oleh Lie Too Hien, Bo Liem membuat boneka-boneka wayang kancil dari kulit kerbau. Wayang ditatah dan disungging serta digambar secara realistis, serta disesuaikan dengan pergelaran wayangnya. Warna pada detail sunggingan wayang kancil sangat menarik dan bervariasi. Figur yang diwayangkan berupa  binatang-binatang buruan seperti macan, gajah, kerbau, dan sapi, reptil serta unggas seperti buaya, kadal,  ular, aneka jenis burung, dan binatang-binatang lain yang berhubungan dengan dongeng Kancil. Ada juga figur manusia di antaranya Pak Tani dan Bu Tani, namun tokoh manusia yang diwayangkan tidak banyak. Jumlah keseluruhan wayang hanya sekitar 100 buah per set. Tahun 1927 R.M. Sajid, seorang dalang asal Surakarta, juga menekuni wayang kancil. Koleksi wayang kancil milik Babah Bo Liem sering dipinjamnya untuk menggelar pertunjukan sebelum ia membuatnya sendiri di tahun 1943.

Cerita dalam pertunjukan wayang kancil mengambil kisah tentang kancil, dan cerita binatang lainnya yang diambil dari Hitopadeça dan Tantri Kamandaka. Menurut R.M. Sajid cerita tentang kancil sangat diminati anak-anak, memiliki unsur jenaka dan dapat digunakan sebagai media pendidikan. Wayang Kancil juga diminati oleh orang dewasa dan para orang tua. Untuk tipe penonton ini, R.M. Sajid mementaskan kisah Kancil Krida-Martana (Serat Kancil Kridhamartana ditulis oleh Raden Panji Natarata tahun 1906), yang mengandung ajaran dan pengetahuan tentang kehidupan bermasyarakat.  

Dalam perjalanannya, Wayang Kancil mengalami pasang surut, sempat menghilang setelah era Ki Lagutama dari kampung Badran Mangkubumen, dan Ki Sutapradangga dari kampung Sangkrah. Kedua dalang sama-sama berasal dari Solo. Tahun 1970-an, Ki Ledjar Soebroto berusaha mengangkat kembali wayang kancil dengan niat luhur untuk memperkenalkan budi pekerti pada anak-anak, pentingnya lingkungan hidup, serta meluruskan cerita tentang kancil di masyarakat yang menurutnya salah. Misalnya cerita “kancil mencuri ketimun” yang menurut Ki Ledjar Soebroto sebenarnya bermaksud menyampaikan pesan tentang lingkungan. Ada adegan dimana kancil berbicara pada dirinya sendiri ketika melihat tanaman mentimun di kebun Pak Tani. Ia bingung karena tak menemukan tanaman sejenis di hutan. Kancil kemudian memakan mentimun di kebun warga yang sebenarnya telah merusak hutan tempatnya hidup. Rasa lapar memaksa kancil keluar dari hutan dan masuk ke desa untuk mencari makanan. Pentingnya menjaga lingkungan hidup adalah pesan dari adegan ini, bukan kenakalan seekor kancil.

Gagasan Ki Ledjar didukung oleh R.P.A Suryanto Sastroatmodjo, budayawan sekaligus wartawan, yang kemudian memberikan saran dan masukan mengenai latar budaya cerita kancil di masa lalu. Ia kemudian membuat figur-figur satwa, baik kancil sebagai tokoh utama cerita maupun binatang-binatang yang hampir punah. Tahun 1980, setelah satu set wayang kancil selesai dibuat, Ki Ledjar Soebroto mementaskan pertunjukan wayang kancil untuk pertama kalinya dihadapan penonton yang sebagian besar anak-anak. Dalam pertunjukannya Ki Ledjar juga mengambil cerita kancil dari kisah yang telah didengarnya secara turun-temurun, maupun dari dalang-dalang sebelumnya. Seiring waktu, lakon dalam pertunjukan wayang kancil disusun sendiri oleh dalang, disesuaikan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Ki Ledjar juga menggunakan wayang kancil untuk menanamkan akhlak yang baik terkait hubungan manusia dengan Tuhan. Misalnya gunungan dalam pertunjukan wayang kancil lakon Kancil Nyolong Timun yang mengandung banyak nilai filosofi, dimana setiap gambar melambangkan seluruh alam raya beserta isinya. Bentuk segi lima melambangkan kewajiban sholat lima waktu dalam agama Islam, sedangkan  gunungan yang meruncing ke atas melambangkan bahwa manusia hidup menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Gambar pohon dalam gunungan melambangkan kehidupan manusia di dunia, dan Allah telah memberikan pengayoman serta perlindungan kepada umatnya. Beberapa jenis binatang yang berada di dalamnya melambangkan sifat, tingkah laku, dan watak yang dimiliki setiap orang.

Pertunjukan wayang kancil dihiasi oleh pakeliran seperti perlengkapan wayang kulit purwa. Seperangkat gamelan lengkap (slendro dan pelog), gedebog pisang untuk menancapkan wayang, seperangkat wayang, kepyak, cempala, dan platukan, kelir dan lampu listrik saat pertunjukan di malam hari. Lagu–lagu pengiring seperti gajah belang, buta galak, dan sur-sur kulonan, yang dipadukan dengan gamelan Jawa menciptakan hubungan antara dalang dan penonton. Bahasa yang digunakan dalang tergantung lokasi pementasan dan tipe penontonnya. Jika pemirsanya adalah anak-anak umumnya dalang menggunakan bahasa Jawa Ngoko secara utuh, namun terkadang disisipi Krama Madya dan Krama Inggil saat adegan manusia.