Wayang Hip Hop, Seni Pertunjukan

Wayang Hip Hop adalah kesenian wayang kulit kreasi yang diciptakan oleh Ki Catur Benyek Kuncoro, seorang dalang wayang kulit tradisional di Yogyakarta, yang merasa prihatin akan miskinnya perhatian generasi muda kepada seni wayang tradisional. Untuk menarik minat anak-anak muda, ia kemudian menciptakan wayang kreasi modern atau kontemporer yang tetap berakar pada tradisi. Ia menggabungkan wayang kulit, wayang golek, dan wayang wong (wayang orang). Pemain wayang wong adalah sinden, rapper, dan talent, yang sebenarnya juga sudah mempunyai tugas masing-masing. Kelir, layar putih berukuran besar yang biasa digunakan dalam pertunjukan wayang kulit purwa, tetap digunakan. Posisi wayang hip hop berada di depan kelir, berbeda dengan wayang kulit purwa atau wayang golek yang justru menempel pada kelir.

Pertunjukan wayang hip hop tidak memiliki aturan waktu pertunjukan sebagaimana wayang kulit tradisional. Bisa dimainkan kapan saja dengan durasi hanya sekitar 1-2 jam. Wayang hip hop didukung oleh dalang, sinden, rapper (2 orang), talent, dan DJ. Wayang hip hop mengangkat cerita kehidupan sehari-hari yang dialami oleh masyarakat, serta dinamika sosial yang terjadi di masyarakat, dan sebagai wayang kontemporer wayang hip hop juga difungsikan sebagai media kritik sosial. Tokoh yang diwayangkan adalah para Punakawan dan keturunannya yaitu Semar, Petruk, Gareng, Bagong, Dewi Banowati, Raden Aswatama, Gerry (anak Gareng), Petrik (anak Petruk), Boggy (anak Bagong), Justin Bieber, Lady Gaga, Soekarno, Hatta, Ustadz Tionghoa, dan lain-lain. Tokoh Punakawan dipilih karena dianggap paling tepat untuk menyampaikan permasalahan hidup yang dialami masyarakat. Semar adalah pemimpin para punakawan, ayah tiga orang anak, yang dalam dunia pewayangan dikenal sebagai tokoh putih, bijaksana, dan disegani. Tokoh lainnya diciptakan dan ditampilkan sesuai isu terkait dinamika sosial masyarakat. Untuk mendukung cerita juga dibuat perlengkapan wayang berbentuk microphone, becak, dan motor.

Sepanjang pertunjukan, dalang dan para pemain menggunakan bahasa Jawa bercampur bahasa Indonesia, yang disajikan dengan jenaka dan mudah dipahami penonton. Wayang kontemporer umumnya menyasar kaum muda yang jauh dari tradisi, sehingga penyampaiannya juga harus mengikuti gaya dan bahasa yang mereka pahami. Iringan musik merupakan perpaduan genre kekinian dan tradisional yang terdiri dari hip hop, rapp, dan gendhing Jawa. Lirik lagu menggunakan bahasa Jawa bercampur bahasa Indonesia. Lagu yang dibawakan sebagaian besar ciptaan Ki Catur Benyek Kuncoro, namun ada juga lagu yang diaransemen ulang.

Busana yang dikenakan tidak selalu sama tergantung cerita yang akan dibawakan. Dalang berpakaian sesuai pakem pertunjukan wayang tradisi yaitu surjan, jarik,  blangkon, namun ditambah sepatu dan kacamata hitam yang selalu dipakai dalam setiap pementasan. Sinden, Rapper, dan DJ mengenakan pakaian wayang wong seperti jarik, kemben, aksesoris, irah-irah (hiasan kepala), dan sepatu hip hop. Namun ada kalanya para pemain wayang mengenakan kaos atau kemeja, celana panjang, topi, sepatu, dan kacamata, atau kostum anak sekolah. Perlengkapan panggung yang digunakan terdiri dari kelir, debog (gedebog pisang untuk menancapkan wayang), wayang, gunungan, microphone, sound system, proyektor, laptop, tata lampu, dan DJ set. Gunungan dalam pertunjukan wayang hip hop merupakan modifikasi yang isinya menggambarkan tokoh pewayangan, dua buah pohon kelapa, api, dan ornamen lainnya.

Sejak didirikan pada 10 Juni 2010 lalu, Wayang Hip-Hop sudah menggelar banyak pertunjukan, antara lain pada acara Ragam Wayang Nusantara di halaman Kantor Dinas Pariwisata Provinsi D.I. Yogyakarta, Pembukaan Diskomfest ke-4 di Yogyakarta, Pelantikan Pengurus “Pujakesuma” Kabupaten Batubara di Sumatera Utara, Dahsyat RCTI, Pekan Wayang se-Jawa Tengah di Taman Budaya Surakarta, Bazaar Art Jakarta yang berkolaborasi dengan Butet Kertaradjasa, pagelaran “Wayang in Town-Journey in A Thousand Years” di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, dan masih banyak lainnya.