Wayang Golek Menak Yogyakarta, Seni Pertunjukan

Wayang Golek Menak adalah pertunjukan boneka wayang berbentuk tiga dimensi, yang lakon pertunjukannya mengangkat cerita dari Serat Ménak. Induk kisah dalam Serat Ménak sendiri adalah karya sastra Persia Qisaa’I Emr Hamza, yang populer pada masa pemerintahan Sultan Harun Al Rasyid. Qisaa’I Emr Hamza masuk ke Melayu sekitar tahun 1511 dan digubah menjadi karya sastra berbentuk prosa dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Kisah di dalamnya menampilkan tokoh Amir Hamzah (Amirhambyah), seorang yang gagah berani dan ditakuti para musuh, karena selalu berhasil menghalau gangguan ketika sedang dilakukan penyebaran agama Islam. Tokoh ini sebenarnya mewakili sosok paman Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam yang selalu membela keponakannya, meski ia sendiri enggan memeluk Islam hingga akhir hayatnya. Gubahan Hikayat Amir Hamzah kemudian disadur ke dalam bahasa Jawa, ditulis oleh Ki Carik Narawitan dengan huruf Jawa dalam bentuk tembang macapat. Saduran yang dikerjakan tahun 1715 inilah yang kemudian dikenal sebagai Serat Ménak. Versi sederhana gubahan Hikayat Amir Hamzah tersebut kemudian disadur kembali dengan pengayaan cerita, sesuai kondisi tanah Jawa masa itu oleh Raden Ngabehi Yasadipura I. Garis besar ceritanya tidak melenceng dari Hikayat Amir Hamzah yang menjadi sumber Serat Ménak. Gubahan turunan ini kemudian digunakan oleh banyak dalang untuk membuat lakon pertunjukan wayang golek Menak.

Bentuk wayang golek Menak Yogyakarta terdiri dari bagian kepala dan tangan berbahan kayu jaranan, yang jika kering menjadi keras, ringan, tidak mudah pecah serta tidak mudah diserang hama. Sayangnya sekarang kayu jenis ini sudah sangat jarang ditemukan. Bagian badan wayang (bahu, torso/dada, lengan, serta bokongan) dibuat dari kayu yang lebih ringan, seperti kayu waru, séngon, pulé, dan sejenisnya. Tangkai untuk memegang dan menggerakkan wayang yang juga menjadi penghubung bagian kepala dan badan (sogol), serta di kedua telapak tangan wayang (tuding) dibuat dari bambu yang keras. Bagian kepala boneka wayang terdiri dari wajah, leher, tata rambut, dan perhiasan penutup kepala (irah-irahan) masih sangat dipengaruhi wayang kulit purwa, termasuk motif-motif tatahannya meski dibuat lebih sederhana tanpa adanya lubang-lubang kecil. Wajah boneka terdiri dari bagian mata, hidung, mulut, kumis, janggut, dan cambang. Masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan penggambaran dan sifat tokohnya. 

Busana wayang golek Menak Yogyakarta terdiri dari baju untuk bagian atas, dan kain (jarit) sebagai penutup bawahnya. Penggunaan bahan disesuaikan dengan tokohnya, misal untuk raja, satria, puteri, dan pendeta, dari jenis beludru berhias manik-manik serta payet dengan motif sesuai status sosialnya. Kain untuk kalangan istana biasanya adalah batik yang juga disesuaikan dengan tokohnya, misal parangrusak untuk tokoh raja. Motif batik dibuat lebih kecil ukurannya sesuai dengan ukuran ideal wayang. Untuk tokoh di luar kalangan istana seperti abdi dalem, punakawan, dan buto babrah, biasanya mengenakan lurik atau sejenisnya. Bagian belakang kain yang dikenakan pada boneka dibelah sedikit agar tangan dalang lebih leluasa saat memegangnya, sehingga posisi kain di bagian depan juga dapat tetap rapi dan tidak menggulung. Busana tokoh-tokoh tertentu dilengkapi dengan keris, sampur (selendang), dan aksesori seperti jamang (hiasan yang dikenakan di bagian dahi), sumping (hiasan telinga), dan kelat bahu (hiasan pada bahu).

Pertunjukan wayang golek Menak memakan waktu semalam suntuk mengikuti sebagaimana wayang kulit purwa gaya Yogyakarta. Begitu juga dengan pathet (pengaturan nada gamelan) yang terdiri dari pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Musik pengiring berupa seperangkat gamelan lengkap, terdiri dari gendèr barung, gendèr penerus, slenthem, kendhang, bonang barung, bonang penerus, gambang, suling, siter, rebab, kethuk kenong, kempul gong, demung, saron, dan peking. Instrumen lain yang menjadi ciri wayang golek Menak Yogyakarta adalah “rojèh”. Alat musik rojéh berupa dua lempengan besi segi empat, permukaannya agak cekung, tebal masing-masing ± 3 mm, dan disusun bertumpuk beralaskan papan kayu. Rojéh dibunyikan dengan cara dipukul menggunakan “gandhèn”, berbahan kayu atau palu besi sehingga suara yang dihasilkan sangat keras. Rojéh berfungsi memberikan penekanan “rasa” terutama dalam adegan perang, agar muncul kesan kerasnya benturan akibat pukulan, tendangan, bantingan, dan sebagainya. Sulukan (lagu yang dibawakan oleh dalang) wayang golek Menak sebagian besar mengacu pada wayang kulit purwa, hanya cakepan atau syairnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Ragam gerak dalam pertunjukan wayang golek Menak banyak dipengaruhi oleh “Wayang Topèng”, yang lebih dahulu hadir di Yogyakarta (± 1850). Begitu juga dengan gending “Kabor Topèng” yang mengacu pada karawitan dalam pertunjukan wayang topèng. Sedangkan gending playon dan sampak dipengaruhi oleh pertunjukan wayang golek Menak di Kebumen dan Kutoarjo. Para dalang seringkali menciptakan gending sendiri guna menunjang jalannya cerita yang dibawakan. Saat ini pertunjukan wayang golek Menak tidak lagi dilakukan semalam suntuk kecuali ada permintaan khusus dari penanggap. Pergelaran wayang golek Menak juga masih dapat dijumpai dalam kegiatan sosial di masyarakat meskipun frekwensinya tidak sebanyak wayang kulit purwa.

Tata panggung wayang golek Menak tidak menggunakan gawang untuk membentangkan kelir seperti wayang kulit purwa. Posisi debog (batang pisang) juga lebih tinggi guna menyesuaikan teknik cepengan dan sabetan. Penataan debognya  terdiri dari dua macam, yaitu area permainan wayang atau “debog panggungan”, serta “debog simpingan” yang diletakkan di sisi kanan dan kiri. Debog panggungan diletakkan sejajar antara posisi bagian depan muka dan  belakang, tetapi bisa juga posisi yang di depan lebih tinggi dari pada yang belakang. Kedua jenis debog ditata menggunakan alat “tapak dara” yang jumlahnya masing-masing dua buah untuk panggungan dan simpingan. Bagian depan panggung wayang, mulai dari ujung debog simpingan kanan sampai ke ujung debog simpingan kiri, ditutup bentangan kain hitam agar bagian bawah debog tidak terbuka.

Kehadiran wayang golek Menak di Yogyakarta sendiri tidak bisa dilepaskan dari nama Ki Widiprayitno, seorang dalang wayang kulit purwa terkenal pada masanya. Ketertarikan pada wayang golek menak muncul setelah beberapa kali menyaksikan  pertunjukan dalang Ki Marda dari desa Pahitan, di daerah Kutoarjo. Saat itu pertunjukan wayang golek menak sudah sangat populer di Kutoarjo dan Kebumen. Sekitar tahun 1923 Ki Widiprayitno belajar teknik memainkan wayang golek menak kepada Pawirojoso, dalang wayang Menak, abdi dalêm Bupati Kulonprogo di Pengasih yaitu K.R.T. Notoprajarto. Pergelaran wayang golek Menak pertaman Ki Widiprayitna  adalah siang hari di tahun 1948, saat perayaan hari kemerdekaan RI di Kecamatan Sentolo, yang juga disaksikan oleh Dr. Ruslan Abdulgani sebagai Sekretaris Jendral Kementrian Penerangan di Yogyakarta. Pergelaran semalam suntuk yang pertama dilakukannya tahun 1953, dalam perayaan ulang tahun Paguyuban Anggoro Kasih di Sentolo. Untuk memasyarakatkan wayang golek Menak pertunjukannya disiarkan langsung oleh Stasiun RRI Yogyakarta, yang kemudian menjadi pergelaran rutin RRI Yogyakarta setiap tiga bulan sekali. Tidak lama setelah itu ia mulai dikenal masyarakat luas sebagai dalang wayang golek Menak bahkan ketenarannya sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat.