Wayang Cina-jawa, Seni Pertunjukan

Pada pertengahan abad XIX, masyarakat Cina yang berdiam di Jawa sangat menggemari pertunjukan wayang dan topeng. Mereka menyebutnya sebagai majin (bahasa Cina) wayang dan majin topeng. Ada tiga majin wayang di pulau Jawa masa itu, yaitu wayang kulit, wayang golek, dan wayang wong (orang). Selain ketiga jenis wayang tersebut masih ada jenis wayang lain yang merupakan hasil akulturasi, yaitu “wayang potehi” (putai hsi) dan “wayang kulit Cina”. Pertunjukan keduanya dibawakan oleh dalang dari kelompok Sin-ke, yang awalnya menggunakan bahasa dan musik pengiring Cina serta mengambil lakon cerita-cerita rakyat Cina. Kata Sin-ke bermakna “tamu baru”, mengacu pada orang-orang Cina totok yang merantau ke negeri asing. Umumnya mereka berasal dari daerah Fu Kien atau Hokkian. Namun mereka lebih senang mengakui dirinya sebagai T’ang-ke, Teng-lang, atau T’ang-ren karena merasa masih keturunan rakyat negara kekaisaran dinasti T’ang.

Wayang kulit Cina menjadi media hiburan bagi masyarakat peranakan, sebagaimana pertunjukan wayang di negara asal mereka. Ada 3 jenis wayang di Cina yaitu: (1) wayang golek, berbentuk boneka yang terbuat dari kayu dan dibalut pakaian  warna-warni; (2) wayang kulit, berupa boneka wayang yang diukir dari kulit kerbau berbentuk tokoh-tokoh tertentu dan diberi warna; (3) marionet, bentuknya serupa dengan wayang golek, tetapi ukurannya lebih kecil, dan dimainkan dengan cara menggerakkan benang yang diikatkan pada jari-jari sang dalang (jumlah pemain 3-4 orang). Seorang peranakan, Lie Jing Kiem, secara rutin menyelenggarakan konser gamelan, dan pagelaran wayang kulit Cina yang terbuka untuk umum, baik orang Sin-ke, peranakan, maupun masyarakat biasa. Ia berkolaborasi dengan ahli pembuat wayang dan gamelan dari keraton Yogyakarta untuk membuat wayang kulit dan peralatan gamelan yang bermutu tinggi. Upayanya memperkenalkan wayang kulit Cina dilakukan hingga tutup usia di tahun 1929.

Saat wayang kulit Cina mulai meredup dan akhirnya mati, seorang seniman peranakan, Gan Thwan Sing, yang lahir tahun 1885 di Jatinom, menciptakan wayang Cina gaya baru. Gat Thwan Sing yang sejak kecil tinggal dengan kakeknya, orang Sin-ke, telah diajarkan bahasa dan aksara Cina, serta berbagai cerita rakyat Cina. Pergaulannya dengan anak-anak desa, baik kelas biasa maupun priyayi, sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Ia lebih menyukai wayang seperti anak-anak desa pada umumnya, dan memilih menekuni seni pedalangan, karawitan Jawa,  bahasa serta aksara Jawa. Saat merasa mempunyai pengetahuan yang cukup itulah Gan Thwan Sing menggagas wayang baru, yang memadukan alam pakeliran Jawa dan legenda Cina.

Material pembuatan wayang sebagian besar menggunakan kulit kerbau sama seperti wayang Jawa, sedangkan sebagian kecil berbahan kertas. Bentuk fisiknya bergaya Cina, baik wajah, busana beserta ragam hias dan aksesorinya, serta tata rambut. Termasuk hewan mitologis seperti kilin dan liong, serta berbagai bentuk senjata, bendera, kereta, kapal, rumah, dan lain-lain. Namun karena mengikuti pakeliran Jawa, Gan Thwan Sing juga membuat gunungan dan tokoh punakawan yang sebenarnya tidak dikenal dalam pewayangan Cina. Khusus untuk tokoh Semar, Gan Thwan Sing tidak membuatnya sebagai bentuk penghormatan karena ia mengetahui kedudukan tokoh Semar bagi masyarakat Jawa.

Lakon-lakon untuk pertunjukan wayang kulit Cina dibuatnya sendiri dengan menggubah cerita rakyat dan legenda Cina. Namun dalam penyajiannya Gan Thwan Sing mengikuti pola pertunjukan wayang kulit Jawa, menggunakan buku “lakon” (seperti skenario) yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa (hanacaraka). Cara dan kaidah mendalang mengikuti pola pakem pedalangan Jawa dengan mematuhi segala aturan main yang berlaku. Sikap duduk, rangkaian syair sesuai pakeliran Jawa (janturan, suluk, pocapan, kandha, dan ginem atau dialog), perlengkapan panggung (kelir/layar, kambi kelir, kotak, cempala/pengetuk, kepyak, blencong/lentera, sapit blencong, gedebog), iringan gamelan yang berlaras slendro-pelog serta gendhing dan tembang Jawa. Bahkan pengucapan mantra sebagaimana dalang Jawa pun dijalani Gan Thwan Sing, sejak melangkahkan kaki ke luar rumah hingga awal pertunjukan dengan pencabutan gunungan oleh dalang.

Tahun 1920-an wayang Cina-Jawa Gan Thwan Sing untuk pertamakalinya dipertunjukkan di depan masyarakat Cina dan pribumi, tokoh-tokoh pedalangan serta karawitan di lingkungan keraton. Ternyata masyarakat menyukai dan respon positif diberikan oleh seniman kalangan keraton. Kaum peranakan menyukainya karena lakon yang dimainkan mengingatkan mereka pada tanah leluhur, sedangkan penggunaan bahasa Jawa serta cara penyajian dan gamelan pengiring sudah lekat dalam kehidupan mereka yang tinggal di Jawa sejak lahir. Masyarakat Jawa di Yogyakarta menyukainya karena dalam pementasannya bisa dibilang tidak ada yang berbeda sebagaimana pertunjukan wayang kulit Jawa. Lakon yang disajikan dengan variasi dan gaya berbeda menjadi daya tarik tersendiri karena hakekatnya juga tidak jauh berbeda dengan berbagai lakon wayang Jawa yang bersumber dari kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana.

Tahun 1925 pertunjukan wayang Cina–Jawa ciptaan Gan Thwan Sing makin berkibar, tidak hanya sebatas Yogyakarta dan sekitarnya, tetapi juga daerah-daerah lain di pantai utara Jawa serta Jawa Timur bahkan hingga ke kota Cirebon dan Bandung. Gan Thwan Sing juga diminta oleh para priyayi dan penduduk kampung  untuk menggelar pertunjukan di rumah-rumah dengan sedikit imbalan. Pertunjukan wayang Cina-Jawa digelar mereka untuk memeriahkan hajatan keluarga, kaul, bahkan ruwatan. Cara ini membuat wayang Cina-Jawa makin dikenal dan dihargai oleh masyarakat Jawa serta mendorong penyebarluasannya di seluruh lingkungan dan strata sosial. Tahun 1930-1960 merupakan masa keemasan wayang Cina-Jawa, karena setelah tahun 1960 tidak ada lagi pertunjukan wayang Cina-Jawa ciptaan Gan Thwan Sing. Pertunjukan di pelataran Klenteng Gondomanan, Yogyakarta, merupakan yang terakhir dilakukannya karena kondisi kesehatan sudah tidak memungkinkan. Ia sebenarnya mengkader dalang-dalang muda, bukan hanya peranakan tetapi juga asli Jawa, tetapi keempat muridnya sudah meninggal terlebih dahulu.

Wayang Kulit Cina-Jawa ciptaan Gan Thwan Sing merupakan bentuk pembauran budaya yang memperkaya corak seni pewayangan di Nusantara. Sayangnya dari dua set wayang (@ 200 buah) yang sudah dibuat Gan Thwan Sing hanya satu set yang tersimpan di Museum Sonobudaya, sedangkan satu set lainnya tersebar di Museum Uberlingen, Jerman, dan beberapa kolektor luar negeri. Nama tokoh yang tidak dituliskan pada fisik wayangnya cukup menyulitkan saat Museum Sonobudoyo di tahun 2014 mencoba mementaskan kembali wayang Cina-Jawa atau “wacinwa”. Saat ini upaya untuk mengangkat kembali wacinwa memang sedang dilakukan oleh beberapa pihak, baik personal maupun institusi, termasuk penelitian menyangkut sejarah, koleksi naskah lakon dan tokoh wayangnya. Museum Sonobudoyo membuat replika wacinwa agar dapat dipertunjukan kepada publik, baik dalam bentuk pentas maupun pameran. Begitu juga dengan Museum Wayang milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membuat replikanya sebagai pembelajaran kepada pengunjung akan keberagaman wayang di Indonesia. Museum Wayang sendiri sering melakukan pertunjukan wayang langka yang sayangnya seringkali diiringi dengan penonton yang langka.