Stand Up Comedy, Seni Pertunjukan

Agak sulit sebenarnya mendefinisikan “Stand Up Comedy”, sebuah pertunjukan sebagai bentuk sajian lawak yang dibawakan secara monolog, ataukah monolog yang ditampilkan dengan gaya lawakan? Bisa jadi keduanya benar, tetapi jika dirunut dari perkembangan seni monolog, maka stand up comedy tergolong “soliloquy”. Di dalam pertunjukan soliloquy, tokoh tampil sendirian di atas panggung dan dengan bebas mengungkapkan semua isi hatinya, rahasia-rahasia hidupnya, harapan-harapannya, bahkan juga rencana jahatnya.

Sejarah panjang stand up comedy dimulai pada abad XVIII di Amerika dalam bentuk teater yang berbau rasis sangat kental. Bentuk pertunjukan komedi tunggal yang dikenal sebagai stand up comedy baru dimulai tahun 1966 oleh orang-orang dari Universitas Oxford. Pada tahun 1979 di Inggris terbentuk sebuah kelompok stand up comedy gaya Amerika pertama, yang didirikan oleh Peter Rosengard. Pada perkembangannya kemudian bermunculan kelompok–kelompok stand up comedy sejenis di berbagai penjuru dunia, yang juga merambah hingga ke Indonesia.

Meski berjuluk Stand Up Comedy tetapi para pelakonnya tidak selalu dalam posisi berdiri saat bermonolog. Terkadang mereka melakukannya dengan gaya duduk di sebuah kursi layaknya orang yang sedang bercerita. Tantangan dalam stand up comedy  sebenarnya tidak jauh berbeda dari pertunjukan monolog. Pelakunya harus siap dengan tekanan mental yang akan dihadapi, karena meski bergenre komedi tetapi belum tentu penonton bisa tersenyum. Jika lelucon yang diberikan tidak dimengerti atau bahkan tidak dianggap lucu, “audiens” tentu tidak akan tertawa. Kemungkinan yang lebih parah adalah mereka mencibir komedian yang tampil. Itu sebabnya penampil harus bermental baja. Para penampil dalam pertunjukan “stand up comedy” disebut dengan “stand up comic” atau secara singkatnya “comic”. Materi  monolog biasanya berupa beragam cerita humor, pengalaman pribadi, serta kritik atau sindiran terhadap sesuatu hal yang sifatnya cenderung umum dengan berbagai macam sajian gerakan dan gaya. Seringkali mereka membawa alat peraga untuk meningkatkan performa di atas panggung. Pertunjukan stand up comedy awalnya digelar di aula pertunjukan musik. Film-film yang ditayangkan stasiun televisi nasional di era 70-an hingga 80-an, seringkali memperlihatkan adegan mirip “stand up comedy” di bar-bar atau restoran. Pertunjukan dilakukan secara live dan “one man show” karena sifatnya monolog. Tidak ada aturan khusus dalam penampilan seorang comic, tergantung situasi audiens-nya dan adab kebiasaan masyarakat setempat.

Rahimahullah Taufik Savalas, Ramon Papana, dan Iwel Wel adalah perintis stand up comedy di Indonesia. Sayangnya kurang greget. Baru setelah kemunculan Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono stand up comedy dikenal luas. Stand up comedy kemudian menjadi booming setelah salah satu media mengadakan ajang unjuk kebolehan berskala nasional, yang seleksinya dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan sistem zonasi (beberapa kota atau provinsi dijadikan satu lokasi). Ada beberapa tokoh yang membesarkan stand up comedy Indonesia kerap didapuk menjadi juri yaitu Panji Pragiwaksono, Iwel Wel, Indro Warkop, dan Raditya Dika. Ketenaran Raditya Dika dengan jumlah follower enam digit di belakang titik (dalam tata cara penulisan Indonesia) dalam dunia stand up comedy Indonesia, melahirkan banyak comic yang gayanya meniru-niru Radit, sehingga muncul anekdot genre baru yang disebut Raditisme.