Srimulat, Seni Pertunjukan

Tarzan dan Mamiek Prakoso adalah komedian yang namanya melejit melalui kelompok dagelan atau lawak bernama Srimulat, sebuah kelompok lawak yang sangat terkenal di Indonesia sejak tayang di media kaca. Kelompok ini didirikan oleh Teguh Slamet Rahardjo bersama istrinya Raden Ayu Srimulat, yang kemudian dijadikan sebagai nama kelompok ini. Didirikan sejak tahun 1950 di Solo, kelompok seni keliling ini sudah banyak melakukan pertunjukan di berbagai kota dari Jawa Timur sampai Jawa tengah. Pada awalnya Srimulat hanya menampilkan seni suara dan tari dengan nama Gema Malam Srimulat. Baru pada tahun 1951 kelompok ini memulai lawak pertama mereka dengan menampilkan anggota dagelan Mataram, yakni Bandempo, Ranudikromo, Sarpin, Djuki, dan Suparni. Perpaduan antara musik dan lawak kemudian menjadi andalan bagi Gema Malam Srimulat untuk menarik penonton. Dengan daya tarik itulah kemudian Gema Malam Srimulat mulai mentas di berbagai pasar malam di Jawa.

Pada akhir tahun 1960-an kelompok ini memutuskan untuk tampil di Taman Hiburan Rakyat Surabaya, dan baru pada tahun 1963 tampil secara tetap. Nama Gema Malam Srimulat pun berubah menjadi Srimulat Review namun tidak lama kemudian berubah lagi menjadi Aneka Ria Srimulat, dan mendirikan panggung tetap di Surabaya, Solo, Semarang, dan Jakarta (Taman Ria Senayan). Keunikan Srimulat dalam hal musik dan lawak-nya menjadikan kelompok ini semakin terkenal dan menjadi “trend” baru di masyarakat masa itu. Srimulat kemudian menjadi grup pentas yang paling ditunggu masyarakat. Srimulat amat dicintai masyarakat  karena kesederhanaannya. Pada era tahun 1970-an kelompok ini memasuki masa jayanya. Srimulat pun melahirkan banyak nama-nama tenar di dunia komedi Indonesia seperti, Eko DJ, Tarzan, Basuki, Nunung, Polo, Timbul, Doyok, Kadir, Tukul Arwana. Banyak dari anggotanya yang kemudian tampil di dunia film. Pada 1980-an Srimulat hijrah ke Jakarta dan mulai tampil di stasiun TVRI pada tahun 1981. Sejak kemunculannya di stasiun televisi, Srimulat menjadi sangat disukai oleh masyarakat luas hingga menjadi anak kesayangan TVRI.

Pada tahun 1989, Srimulat dibubarkan oleh pendirinya karena kalah bersaing dengan para pesaingnya. Munculnya banyak stasiun televisi swasta baru menjadi salah satu penyebabnya. Tayangan Srimulat pun dihentikan oleh TVRI, 2 tahun sebelum pembubarannya. Tahun 1992 Srimulat tayang di SCTV dengan nama Srimulat plus. Kemudian tahun 1995 – 2003, Srimulat tayang di televisi Indosiar berkat gagasan salah satu anggotanya dan kembali tayang di Indosiar tahun 2006.