Sendratari Ramayana, Seni Pertunjukan

Sendratari Ramayana adalah pertunjukan drama tari Jawa yang mengangkat cerita dari epos Ramayana. Wiracarita Ramayana yang sangat monumental dan banyak mempengaruhi budaya Jawa berasal dari India. Namun cerita-cerita Ramayana Jawa yang biasa dipertunjukan dalam pentas wayang dan sendratari bersumber dari Serat Rama karya Yasadipura. Selain itu masih ada Rama Keling, dan Serat Kandhaning Ringgit Purwa, yang semuanya ditulis dalam bahasa Jawa baru. Cerita Ramayana versi lain yang berkembang di Indonesia adalah Kakawin Ramayana, Rama Tantra, Satrugna, Sumarasantaka, Kapiparwa, dan Agyasta.

Sendratari Ramayana berawal dari gagasan penggalangan dana untuk berbagai proyek pembangunan melalui pariwisata.  Menteri GPH Djatikoesoemo melontarkan ide membuat pergelaran drama tari yang ditampilkan di depan Candi Prambanan. Beliau terinspirasi oleh pertunjukan Ballet Royale du Cambode di depan Kuil Angkor Wat Kamboja yang dilihatnya saat berkeliling ke beberapa negara. Ia yakin bahwa pertunjukan dengan latar belakang Candi Prambanan akan memukau. Cerita yang dipilih adalah Ramayana dengan pertimbangan wiracarita ini ditemui hampir di seluruh negara Asia Tenggara. Atas persetujuan presiden Soekarno, pada bulan April 1960 dibangunlah panggung terbuka yang megah di depan candi Prambanan, dengan kapasitas tempat duduk 2000-3000 orang. Tanggal 26 Juli 1961 untuk pertama kalinya sendratari Ramayana dipentaskan, dan menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan drama tari di Indonesia. Pertunjukan dalam bentuk sendratari dengan media tari dan gamelan ini merupakan ciptaan baru bagi dunia pementasan seni di Indonesia. Pada pementasan pertama istilah yang digunakan adalah Ramayana Ballet, tetapi pada tahun-tahun berikutnya diubah menjadi Sendratari Ramayana. Keberhasilan produksi sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan ternyata mampu membangkitkan industri pariwisata khususnya di Yogyakarta. Dampak keberhasilan proyek ini bahkan telah melahirkan bentuk-bentuk pertunjukan sendratari Ramayana yang dikemas untuk wisatawan dan disajikan di berbagai tempat, seperti hotel-hotel, istana/keraton, restoran, dan Tempat Hiburan Rakyat (THR). Masyarakat dari etnis Jawa yang ingin menyaksikannya tak harus merogoh “kocek” terlalu dalam untuk pergi ke Yogyakarta, karena Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga mempunyai program pementasan sendratari Ramayana secara berkala. Begitu juga dengan Rumah Budaya Nusantara Puspo Budoyo yang terletak di pinggir selatan Jakarta (Ciputat).

Sendratari Ramayana umumnya terdiri dari empat babak, tetapi ada juga yang mementaskan nukilan ceritanya saja (tidak penuh). Ada beberapa versi sendratari Ramayana, salah satunya adalah gubahan I Wayan Beratha pada tahun 1965, yang naskahnya bersumber dari Kakawin Ramayana gubahan Mpu Yogiswara dari tahun 1016 Caka (1094 Masehi). Cerita singkatnya sebagai berikut:

  1. Babak I (Petangkilan). Adegan: Rawana bercakap-cakap dengan Patih Marica di Istana Alengka, dan memerintahkannya untuk menggoda Rama, Sita, serta Laksmana, dengan mengubah dirinya menjadi kijang. Keduanya berangkat dan tiba di hutan di tempat Rama beserta rombongannya menetap selama berburu.
  2. Babak II (Rama di dalam hutan). Adegan: Rama, Sita, dan Laksmana sedang bermain-main di sebuah taman, tiba-tiba datang seekor kijang emas menggoda, lalu Sita meminta kepada Rama untuk menangkapnya. Rama mengejar kijang itu, tetapi tidak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara orang meminta tolong, maka Sita meminta Laksmana untuk membantu Rama. Mula-mula Laksmana menolaknya, namun karena dipaksa oleh Sita, ia pun menyusul Rama. Setelah Sita dalam keadaan sendirian di taman itu, Rawana muncul dalam wujud pendeta dan mengecoh Sita sehingga berhasil menculiknya. Dalam perjalanan ke Alengka, Sita mendapat pertolongan dari Jatayu tetapi Rawana dapat mengalahkannya.
  3. Babak III (Rama mencari Sita). Adegan: Dalam perjalanan, Rama dan Laksmana bertemu dengan Jatayu yang memberitahu bahwa Sita diculik oleh Rawana, raja dari negeri Alengka. Kemudian ketika mereka melanjutkan perjalanan Rama bertemu dengan Sugriwa yang sedang berperang dengan kakaknya yang bernama Bali. Rama membantu Sugriwa dan Bali dapat dibunuh. Sugriwa dengan semua bala tentaranya membantu Rama untuk mendapatkan Sita kembali. Rama mengutus Hanoman ke Alengka untuk bertemu dengan Sita. Hanoman menyerahkan cincin Rama kepada Sita, sebagai tanda bukti bahwa ia masih hidup dan akan datang menyusul ke Alengka. Setelah berhasil bertemu dengan Sita, Hanoman membakar istana Alengka, lalu kembali menemui Rama.
  4. Babak IV (Perang Rama dengan Rawana). Adegan: Rama tiba di Alengka dengan mengerahkan semua bala tentara. Terjadilah peperangan sengit antara Rama dan Rawana dengan kekalahan ada di pihak Rawana. Rama berhasil menemui Sita dan membawanya pulang ke Ayodia.