Sendratari, Seni Pertunjukan

Sendratari merupakan pertunjukan panggung teatrikal yang sebenarnya hampir sama dengan wayang orang (wayang wong), dimana hampir tidak ada dialog verbal antar penari yang dilakukan secara langsung. Biasanya pengantar dan jalan cerita ditembangkan oleh seorang dalang. Pertunjukan sendratari diiringi musik tradisional dan melibatkan hingga ratusan pemain yang mengenakan kostum sesuai dengan karakter masing-masing tokoh.

Cikal bakal sendratari sebenarnya adalah drama tari yang justru ada dialognya. Dramatari merupakan penggabungan seni drama dan seni tari yang dalam penyajiannya menggunakan plot atau alur cerita, tema, serta dibawakan secara berkelompok. Dalam dramatari ada yang pemerannya mengenakan topeng dengan penyampaian dialog secara langsung, misal wayang wong Bali dan wayang topeng Jawa. Ada juga drama tari yang pemainnya mengenakan topeng tetapi dialognya dibawakan oleh seorang dalang, misal topeng dalang Cirebon, wayang topeng Malang, dan topeng dalang Madura. Drama tari juga ada yang dibawakan tanpa mengenakan topeng dan semua pemeran menyampaikan sendiri dialognya, misal gambuh Bali, parwa Bali, wayang wong Jawa, dan wayang wong Priangan. Bahkan ada dramatari yang dialognya disampaikan sendiri oleh pemerannya dalam bentuk nyanyian, misalnya arja Bali, langendriya Jawa gaya Yogyakarta, langendriyan Jawa Mangkunegaran, dan langen mandra wanara Jawa gaya Yogyakarta. Pada  perkembangannya, dramatari dikemas tanpa dialog verbal untuk memenuhi kebutuhan pariwisata yang kemudian dikenal sebagai sendratari.

Sendratari di Indonesia mulai dikembangkan tahun 1961 ketika Gusti Pangeran Haria Djatikusuma, yang merupakan putra dari Susuhunan Pakubuwono X, sebagai ketua pariwisata menggandeng Dr. Soeharso memimpin sebuah tim untuk merencanakan teater besar atau kolosal, yang diadakan di depan Candi Prambanan atau Roro Jonggrang di Jawa Tengah. Pemerintah kemudian membentuk sebuah komite khusus yang menugaskan seniman Yogyakarta dan Surakarta untuk membuat gaya tari yang merupakan perpaduan antara seni, drama dan tari. Penciptaan sendratari tersebut melibatkan koreografer Raden Tumenggung Kusumakesawa, pemain gamelan dan komposer adalah Raden Tumenggung Wasitodipura dari Yogyakarta, dan pelukis-desainer Kusnadi. Lebih dari 500 penari direkrut dari Yogyakarta, Surakarta, dan Prambanan untuk tampil dalam pertunjukan tersebut. Gaya tari Yogyakarta dan Surakarta di padukan, serta dibuat gerakan-gerakan baru untuk menyesuaikan latar dan penonton. Ternyata penonton dapat menikmati pertunjukan sendratari yang dibawakan dalam bentuk visualisasi gerak dengan iringan musik tradisional. Setelah pertunjukan kolosal sendratari Ramayana di Prambanan, yang diprakarsai oleh Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata (PDPT) tahun 1961 itu mendapat respon positif, sendratari di Indonesia khususnya Jawa dan Bali semakin berkembang.

Ketika Sendratari disajikan sebagai tontonan masal di atas panggung besar, bahasa  gerak dinilai kurang menyentuh penonton. Para seniman menganggap perlu adanya narasi verbal dari seorang dalang, sehingga penonton dapat memahami dengan baik kisah yang dibawakan dalam sebuah pertunjukan sendratari. Di tahun 1980-an peranan dalang menjadi semakin dominan dan menentukan. Sejak saat itu pertunjukan sendratari kualitasnya tidak lagi ditentukan oleh tariannya semata, tetapi juga kualitas dalang yang berandil besar. Para penari dalam sebuah kelompok sendratari harus lebih banyak belajar akting bahasa tubuh dan gerakan-gerakan, agar dapat memperagakan narasi verbal sang dalang dengan baik. Dalang harus dapat menjadi penyebab seorang pelakon memutuskan untuk bergerak atau tidak bergerak, mengangkat atau menurunkan tangannya, menangis ataupun tertawa sebagaimana yang dimainkan wayang-wayang dalam kelir. Pada akhirnya sajian sendratari tidak  jauh berbeda dengan seperti wayang wong (wayang orang) atau orang yang diwayangkan.

Saat ini sendratari sudah menggunakan banyak set dekorasi dengan berbagai trik yang kreatif. Daya tarik sebuah sendratari tidak lagi terletak pada tarian, dalangnya, ataupun narasi saja, melainkan juga pada permainan properti, set dekorasi, dan unsur-unsur lainnya. Penggunaan layar-layar lebar, figur-figur binatang (dalam bentuk barong), penggunaan asap, nyala api, termasuk kembang api, dan letusan mercon, tidak lagi menjadi sesuatu yang asing dalam pertunjukan sendratari masa kini. Bentuknya memang menjadi jauh berbeda dengan sendratari di awal kemunculannya, dimana masing-masing penonton bisa berimajinasi untuk setiap gerakan tari yang ditampilkan. Namun sendratari yang tidak mengikuti perkembangan kemajuan teknologi juga akan sepi penonton. Di era kekinian kebanyakan penonton tidak menginginkan tampilan yang sudah pernah dilihatnya diulang-ulang kembali, tetapi suguhan baru sendratari yang mungkin sudah pernah dilihatnya namun dalam kemasan berbeda.