Randai, Seni Pertunjukan

Negeri 5 Menara, dalam buku maupun filmnya terdapat tokoh yang bernama Randai, teman dari tokoh utama yang sama-sama berasal dari Minangkabau. Mungkin bukan sebuah kebetulan tokoh tersebut diberi nama Randai, nama yang sama dengan seni pertunjukan asli Minangkabau. Sang penulis mungkin saja ingin mempromosikan kesenian yang berasal dari daerahnya. Kesenian tradisional Randai asal Minangkabau ini dimainkan secara berkelompok dalam bentuk lingkaran,  kemudian para pemainnya melangkahkan kaki secara perlahan sambil bercerita dalam bentuk nyanyian. Kesenian ini menggabungkan seni drama, tari, musik dan silat. Selain memuat pesan-pesan moral dan pendidikan, Randai juga mengandung unsur historis karena sebagian besar lakon adalah cerita klasik tentang kesejarahan Minangkabau. Banyak yang mengatakan bahwa istilah Randai berasal dari kata andai atau handai yang merujuk pada perumpamaan yang sering digunakan oleh para pemain untuk mencerminkan kehidupan dalam masyarakat. Pendapat lainnya beranggapan bahwa istilah tersebut berasal dari bahasa arab rayan-li-da-i, yang artinya dekat dengan  da-i ahli dakwah tarekat Naqsyabandiyah. Pendapat ini didasari oleh gerakan tari yang berasal dari gerakan silat tradisional, dan erat  hubungannya dengan gerakan ritual Naqsyabandiyah.

Belum ada literatur yang menjelaskan secara pasti asal mula kesenian Randai ini, hanya disebarkan melalui mulut ke mulut. Pada awalnya kesenian Randai hanya ditampilkan dihadapan keluarga kerajaan. Pada masa itu sekelompok prajurit berhasil menghadang dan menangkap hewan besar di laut. Dihadapan Raja, para prajurit ini menceritakan dan memperlihatkan bagaimana mereka bisa berhasil melakukannya. Para prajurit menggambarkannya dalam posisi membentuk lingkaran sambil menggerakkan kaki secara perlahan, untuk melakukan penyerangan dan sikap pertahanan secara bergantian. Kisah inilah yang kemudian dianggap sebagai awal mula kesenian ini.

Pada perkembangannya kesenian Randai juga nengalami akulturasi dengan budaya lain, terutama teater komedi Melayu yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan Randai. Para pakar Randai menyepakati bahwa kesenian Randai mempunyai unsur pokok di antaranya cerita, dialog, akting, gurindam, dan galombang. Meski dapat dikembangkan, namun semua unsur tersebut tidak dapat dihilangkan agar kesenian ini tetap dikategorikan sebagai teater Randai. Oleh karena itu, pengembangan cerita dalam kesenian ini selalu didasarkan pada budaya Minangkabau. Dalam sejarahnya, pertunjukan Randai tidak selalu bersumber pada “kaba” atau cerita. Unsur cerita dan dialog dalam pertunjukan Randai lebih pada mengungkapkan kejadian atau fenomena sosial. Itu sebabnya Randai bisa tetap baru dan segar karena disusun berdasarkan fenomena kehidupan masyarakat masa kini.