Rampak Gendang, Seni Pertunjukan

Rampak Gendang atau Rampak Kendang adalah sajian musik tradisional gendang atau kendang Sunda dalam jumlah banyak, yang dimainkan bersama-sama secara serempak. Rampak dalam bahasa Sunda artinya serempak atau secara bersama-sama, sedangkan gendang atau kendang adalah instrumen musik Gamelan Jawa dan Gamelan Degung yang berfungsi sebagai pengatur irama lagu. Seni pertunjukan musik kreasi baru asal Jawa Barat ini merupakan hasil olahan Gugum Gumbira yang terinspirasi oleh permainan gendang dalam pertunjukan Topeng Banjet dan Kendang Penca atau Gendang Penca. Rampak Gendang muncul bersamaan dengan seni tari Jaipong sekitar tahun 1970-an, yang juga menggunakan gendang sebagai musik pengiringnya. Dalam kesenian Sunda peranan gendang sangat dominan, baik untuk pengiring tarian maupun pencak silat.  Kesenian rampak gendang dipertunjukan untuk pertama kalinya tahun 1978 di Bandung oleh Suwanda dan Dali.

Kendang berasal dari kata “ke” dan “ndang” yang artinya cepat, sesuai dengan fungsinya sebagai pengatur tempo untuk mempercepat atau memperlambat irama gamelan, kecuali gamelan degung. Dalam bahasa Jawa kendang biasa disebut gendang. Ada tiga jenis gendang Sunda berdasarkan bentuk dan ukurannya, yaitu (1) Gendang Gede atau Gendang Indung, biasa digunakan dalam pencak silat; (2) Gendang Gending atau Gendang Sedeng, antara lain digunakan dalam kliningan atau klenengan wayangan dan kacapian; (3) Gendang Klanter atau Kulanter yang berukuran kecil, di Jawa dikenal dengan nama Ketipung/Tipung. Klanter atau kulanter berperan untuk menambah variasi tabuhan Gendang Sedeng.

Pada Rampak Gendang Pencak ditambahkan dua buah alat musik melodi untuk memperkaya bunyi, yaitu suling khas Sunda dan gong sebagai pemandu ketukannya. Pemain gendang harus dapat menguasai gerakan-gerakan silat agar dapat selaras antara musik dan gerak atraktif yang ditampilkan. Kekuatan pertunjukan rampak gendang selain keselarasan dan kekompakan dalam bermain gendang adalah gerak atraktif dari para pemain musiknya itu sendiri yang seringkali membuat takjub, misal ‘adegan’ saling melempar kulanter atau berjalan memutar tetapi dapat dengan cepat menempati posisi semula untuk kembali memukul gendang.

Pertunjukan rampak gendang saat ini kerap dikolaborasikan dengan gamelan Jawa dan alat musik modern. Perpaduan ketiganya menghasilkan sebuah pertunjukan yang berbeda dengan irama yang lebih energik dan gerak atraktif. Dalam pementasan, formasi pemain rampak gendang berada di barisan paling depan yang masing-masing memegang satu gendang gede atau gendang indung, dan dua gendang kulanter. Pakaian yang dikenakan khas Sunda lengkap dengan ikat kepala (udeng) dari kain. Pemain gendang atau kendang minimal ada lima orang. Para pengrawit atau pemain karawitan (gamelan) berada di belakang atau di samping pemain gendang. Pengrawit memakai baju takwa, lengkap dengan sinjang dan udeng (ikat kepala). Aba-aba gending dari para pengrawit akan memulai aksi pemain gendang untuk memainkan komposisi lagu tetabuhan secara bersama-sama. Bukan hanya memainkan gendang sambil duduk diam di tempat dan menghasilkan alunan musik tepuk yang cantik dengan telapak tangan, tetapi para pemain gendang juga bergerak secara atraktif bersama-sama menggunakan tangan, kepala, serta badannya sambil tetap sesekali memainkan gendang. Gerakannya menghentak dan tampak energik. Tidak jarang mereka serentak berteriak saat melakukan atraksi atau diam secara tiba-tiba dalam waktu yang bersamaan.

Ada juga pertunjukan rampak gendang yang berkolaborasi dengan alat musik modern (drum set, piano, gitar). Gendang indung tidak dimainkan dengan cara ditepuk atau dipukul menggunakan telapak tangan seperti biasanya melainkan dengan alat semacam stick drum, begitu juga dengan kulanter. Posisi gendang dan pemain sama-sama berdiri, sehingga pemain lebih leluasa melakukan atraksi saat memainkan gendang. Jumlah pemain minimal tiga atau empat orang. Uniknya, pertunjukan Rampak Gendang dibawakan oleh perempuan seluruhnya, padahal untuk memukul gendang sambil menampilkan gerak atraktif tentunya membutuhkan energi yang tidak sedikit. Tantangan terbesarnya adalah mengatur nafas dan kekuatan untuk memukul gendang agar suara yang dihasilkan tetap stabil dari awal hingga akhir. Rampak Gendang juga sering dikolaborasikan dengan kesenian lain semisal tari Jaipong, pentas musik dangdut, atau permainan drum band.

Rampak Gendang biasanya digelar untuk mengisi berbagai acara, baik di dalam ruangan maupun di panggung khusus, dengan lama pertunjukan bergantung pada alokasi waktu yang disediakan. Biasanya antara 3-15 menit. Pada saat kunjungan tamu negara kesenian Rampak Gendang juga sering ditampilkan, seperti ketika Raja Salman berkunjung ke Istana Bogor yang disambut dengan tari Saman dan Rampak Gendang. Bagi masyarakat Sunda, rampak gendang merupakan representasi dari sebuah kebersahajaan yang kaya akan nilai-nilai filosofis, mencerminkan masyarakat Sunda yang guyub serta harmonis, berlandaskan sikap kebersamaan atau gotong-royong dan keceriaan.