Para Pensiunan 2049, Seni Pertunjukan

Lakon teater “Para Pensiunan 2049” telah dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta (8-9 April 2019), dan Ciputra Artpreneur Theater Jakarta (25-26 April 2019). Tema yang diangkat merupakan bentuk dukungan Teater Gandrik atas pemberantasan korupsi di Indonesia. Pentas ini merupakan hadiah ulang tahun ke-36 dari Teater Gandrik kepada para penikmat seni teater Indonesia. Tidak banyak orang yang menggemari seni teater, tetapi jika disebut nama Teater Gandrik mungkin orang akan teringat dengan salah satu atau lebih pelakon yang terlibat di dalamnya. Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto (almarhum), dua putera seniman besar Yogyakarta Bagong Kussudiardjo, adalah aktor dan pemusik yang tidak bisa dilepaskan dari kiprah serta nama besar teater ini.

Teater Gandrik adalah kelompok teater yang mengusung konsep dan bentuk teater tradisional namun dalam pertunjukannya merujuk pada teater kontemporer. Tema-tema sosial yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari menjadi concern mereka. Penyampaiannya dilakukan dengan gaya menyindir tetapi secara halus (guyon parikena) seperti mengejek diri sendiri atau satire. Gaya teater Gandrik oleh beberapa kritikus disebut sebagai estetika sampakan, dimana panggung menjadi medan permainan para aktor secara luwes, cair dan cenderung memain-mainkan karakter, sehingga antara aktor dan watak yang diperankannya seakan tak berbatas. Lakon Para Pensiunan 2049 juga mengangkat tema sosial yang selalu hangat diperbincangkan yaitu tentang pemberantasan korupsi. Naskah Para Pensiunan 2049 adalah saduran dari karya alm. Heru Kesawa Murti “Pensiunan” yang dibuat pada tahun 1986. Naskah pementasan ditulis ulang oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho dengan sutradara alm. Djaduk Ferianto. Judul naskah diganti menjadi “Para Pensiunan 2049”.

Lakon Para Pensiunan 2049 berkisah tentang para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dengan tenang, di antaranya adalah pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim, dan para pensiunan lainnya. Pada tahun itu diberlakukan Undang-Undang Pemberantasan Pelaku Korupsi atau Pelakor yang dibuat oleh Komisi Pertimbangan Kematian (KPK). Undang-Undang tersebut mewajibkan siapapun memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB) sebelum dikuburkan. Jika tidak maka jenazahnya tidak boleh dikebumikan karena dianggap terindikasi korupsi dan merugikan rakyat. Undang-Undang Pelakor memang sengaja dibuat untuk membuat jera para koruptor, karena syarat mendapatkannya adalah tidak pernah melakukan korupsi.

Masalah dimulai ketika salah seorang pensiunan pejabat bernama Doorstoot (Butet Kertaredjasa) meninggal dunia sebelum memiliki SKKB. Kerkop (Susilo Nugroho) sebagai penjaga kubur menolaknya sehingga jenazah Doorstoot menjadi  terlunta-lunta. Isteri dan anak Doorstoot, Griseni (Rulyani Isfihana) dan Katelin (Nunung Deni Puspitasari), merasa bingung serta panik sehingga mencoba menghalalkan segala cara. Bujuk rayu, tindakan penjebakan, hingga menyuap penjaga kubur dilakukan. Suami Katelin (menantu Doorstoot), Jacko (Sepnu Heryanto), sebagai Pemimpin Kota yang baru tidak bisa berbuat banyak untuk membantu keluarganya. Ia adalah salah satu pencetus peraturan penerbitan SKKB, sehingga jika melanggar maka elektabilitasnya akan turun. Arwah Doorstoot kemudian bangkit dan berusaha menemui koleganya semasa hidup untuk mendapatkan SKKB, agar ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan menuju akhirat dengan tenang tanpa menyusahkan orang lain. Sementara para pensiunan lainnya menjadi gelisah karena arwah Doorstoot bergentayangan untuk mendapatkan SKKB. Mereka kemudian berusaha membuktikan diri bebas korupsi untuk bisa mendapatkan SKKB, agar kelak bisa dikebumikan dengan layak.

Pemberlakuan Undang-Undang Pemberantasan Pelaku Korupsi membuat panik dan merepotkan mereka yang masih hidup karena ketakutan tidak bisa dikuburkan. Ketika menjadi isu politik dan banyak kepentingan yang mempolitisir, undang-undang tersebut mengancam mereka yang berkuasa. Strook (Feri Ludiyanto), seorang pensiunan yang sejak awal menjadi oposisi Doorstoot mulai sakit-sakitan, dan menyadari ajalnya sudah dekat. Akhirnya bersama Pemimpin Kota Jacko, Hakim Agung Vonis (M. Arif Wijayanto), dan Rainne isteri Strook (Citra Pratiwi) menyusun strategi untuk menghapuskan Undang-Undang Pelakor. Namun semua usaha keluarga dan pensiunan lain untuk menghapuskan UU Pelakor tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya Hernia (Jamiatut Tarwiyah) melapor kepada KPK agar mengeluarkan SKKB untuk Kerkop karena sudah menjadi orang yang jujur dan terbebas dari korupsi.

Pementasan Para Pensiunan 2049 sebenaranya secara tidak langsung menggambarkan carut marut situasi politik Indonesia sejak orde baru hingga reformasi digulirkan. Teater Gandrik seakan ingin ikut meramaikan perayaan tahun politik dengan melontarkan humor-humor yang berkaitan dengan meme di dunia maya sepanjang Pilpres 2019. Pesan yang ingin disampaikan dari lakon ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu agar masyarakat selalu menggunakan nalar berpikirnya sebelum melakukan sesuatu. Akal sehat harus menjadi modal utama untuk mempersatukan bangsa, tanpa perlu banyak pencitraan atau tudingan-tudingan tanpa fakta yang prematur.

Pendukung pementasan Para Pensiunan 2049 adalah: (1) Tim Kreatif (Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Susilo Nugroho, alm. Djaduk Ferianto); (2) Pemusik (Purwanto, Indra Gunawan, Sukoco, Sony Suprapto Beny Fuad Hermawan, Arie Senyanto); (3) Penata Artistik (Ong Hari Wahyu); (4) Properti (Feri Ludiyanto); (5) Penata Kostum (alm. Djaduk Ferianto, Rulyani Isfihana, Jamiatut Tarwiyah); (6) Penata Cahaya (Dwi Novianto); (7) Penata Suara (Antonius Gendel). Pemain yang tampil antara lain Butet Kertaradjasa (sekaligus Pimpinan Produksi), Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M. Yusuf ‘Peci Miring’, M. Arif ‘Broto’ Wijayanto, Muhamad Ramdan, dan Akhmad Yusuf Pratama, serta sejumlah tim pendukung di belakang panggung.