Pantomim, Seni Pertunjukan

Pernahkah Anda melihat seorang seniman menghibur penonton tanpa mengeluarkan suara, dan hanya menggunakan isyarat gerak tubuh atau bahkan mimik wajah?. Jika iya, mungkin Anda penggemar Septian Dwi Cahyo atau bahkan Charlie Caplin. Banyak cara yang dapat dilakukan seniman untuk menghibur para penonton, salah satunya dengan isyarat gerak tubuh atau mimik wajah yang disebut “Pantomim”. Kata “pantomime” diambil dari bahasa latin pantomimus yang artinya meniru segala sesuatu. Pantomim adalah seni pertunjukan yang memvisualisasikan suatu objek atau benda tanpa menggunakan dialog, namun menggunakan gerakan tubuh dan mimik wajah. Bahkan pantomime juga dapat memvisualisasikan rasa, sifat, dan karakter melalui gerakan tubuh dan mimic wajah. Aristoteles menyebutkan bahwa sebelum dikenal di Yunani, seni pantomim sudah lebih dahulu ada di Mesir dan India. Charles Aubert dalam bukunya The art of Pantomime (1970) mendefinisikan pantomim adalah seni pertunjukan yang diungkapkan melalui ciri-ciri dasarnya, yakni ketika seseorang melakukan gerak isyarat atau secara umum bahasa bisu. Bahasa gerak sang pantomimer adalah universal, menjalankan ekspresi emosi yang serupa di antara berbagai umat manusia. Pantomim merupakan pertunjukan teatrikal dalam sebuah permainan dengan bahasa gerak.

Dalam perkembangannya, seni pertunjukan Pantomim semakin banyak dikenal oleh banyak bangsa-bangsa di seluruh dunia melalui industri film bisu. Pada dekade 1900-an berbagai bentuk ekspresi dan gerak yang paling terbaru dikembangkan dengan serius melalui seni pantomim. Tahun 1927 dikenal sebagai era tanpa kata. Pada era ini muncul para aktor yang menguasai seni pantomim seperti Charles Spencer Chaplin atau yang lebih dikenal dengan nama Charlie Chaplin. Peran Chaplin sangat penting dalam percaturan bahasa bisu, sebab ia merupakan salah satu tokoh besar dalam film bisu pada era itu, sebelum film bicara ditemukan dan dijual kepada masyarakat. Di Indonesia, seni pantomim baru dimulai sekitar tahun 1970-an, khususnya di Jakarta dan Yogyakarta. Tidak banyak seniman yang menggeluti pantomim dan hanya beberapa seniman yang cukup konsisten, seperti Sena A. Utaya, Didi Petet (Sena Didi Mime), Jemek Supardi, Moortri Poernomo, Deddy Ratmoyo, dan Septian Dwi Cahyo.