Opera, Seni Pertunjukan

Opera adalah seni pertunjukan yang memadukan musik, vokal, tari, dan dialog. Kata opera berasal dari bahasa Latin opera, bentuk jamak dari opus, yang artinya karya. Dalam bahasa Jerman disebut oper, sedangkan dalam bahasa Perancis opéra. Seni opera merupakan salah satu bentuk pertunjukan high-art yang lahir, berkembang, dan populer di Eropa. Opera berasal dari Yunani yang kemudian dikembangkan di Eropa. Berawal dari pertunjukan drama-drama di antaranya karya Aeschyulus, Sophocles, dan Euripides, dalam sebuah bangunan teater. Adegan dalam drama tersebut diiringi oleh paduan suara dan musik, yang juga digunakan untuk memperkuat atau memberi tekanan pada potongan kisah yang sedang dimainkan. Penggabungan musik dan drama sebagai bagian dari teater terus berlanjut pada masa Romawi Kuno, namun dalam perjalanannya sempat terhenti setelah Gereja Katholik berkuasa pada abad pertengahan.

Cikal bakal opera modern muncul di Italia sekitar abad ke-16-17 di kota Florensia. Saat itu sejumlah intelektual kerap berkumpul di ruang pribadi Count Bardi yang kemudian membentuk komunitas kecil bernama Cameratta. Komunitas ini melihat adanya kekuatan emosi dari musik yang digabungkan dengan kata-kata. Sebelumnya musik hanya berupa alunan harmoni sekumpulan instrumen tanpa vokal. Mereka mempelajari secara seksama tentang apa yang dikatakan filsuf Yunani, Plato, bahwa dalam sebuah drama kedudukan lagu itu berada di atas dialog, dan Aristoteles yang menjelaskan bahwa kata-kata dalam drama dapat diperindah dengan musik. Berdasarkan kedua hal itulah Cameratta merestorasi dan menciptakan kembali bentuk drama Yunani, dimana dialog dilakukan melalui nyanyian dan iringan paduan suara. Cameratta mengadaptasi bentuk musik paduan suara yang sudah ada sebelumnya, yaitu madrigal dan pastoral. Madrigal adalah  paduan suara yang sifatnya sangat dramatis dan harmoninya kompleks, menghadirkan bentuk word painting dengan aksen dan dinamika musik yang dapat memberi penekanan pada kata-kata. Pastoral adalah gaya musik masa Renaissance dimana puisi atau drama diberi iringan musik.

Dalam pementasannya, opera memakai elemen khas teater seperti latar artistik, kostum,  musik, dan akting. Dialog antar tokoh dalam opera dibawakan dengan cara menyanyi, bukan dituturkan sebagaimana lazimnya teater. Cara menyanyikannya menggunakan teknik vokal versatile. Peran-peran yang dibawakan penyanyi opera kerap ditentukan oleh jenis suara para penyanyinya. Jenis suara penyanyi laki-laki  dibedakan menjadi tenor, baritone, dan bass, sedangkan suara penyanyi perempuan terdiri dari soprano, mezzo-soprano, dan contralto. Seorang mezzo-soprano sangat jarang ditunjuk sebagai pemain utama. Dahulu laki-laki sering memerankan tokoh perempuan lengkap dengan kostumnya, karena perempuan tidak bisa langsung bermain di panggung. Biasanya para musisi saat itu mengambil setting cerita jaman Yunani atau Romawi Kuno.

Di Indonesia, seni pertunjukan opera tidak terlalu banyak diminati sebagaimana musik klasik yang digunakan dalam pertunjukannya. Musik klasik di Indonesia memang agak terkesan eksklusive. Namun sebuah opera klasik Eropa berjudul Carmen, pernah ditampilkan untuk pertama kalinya di Indonesia, di tahun 2016 di Galeri Indonesia Kaya. Bintang utamanya adalah penyanyi Bali, Henny Janawati, didukung oleh Happy Salma yang sudah cukup terkenal di dunia hiburan tanah air. Opera ini didukung oleh 131 orang Indonesia, dan melibatkan koor dalam jumlah besar, yaitu Batavia Madrigal Singers dan The Resonanz Children’s Choir, dengan iringan musik Jakarta Concert Orchestra. Percakapan dan nyanyian seluruhnya menggunakan bahasa Perancis. Pentas opera berskala dunia ini juga didukung oleh teknologi multimedia yang diperlihatkan oleh kolaborasi tarian, nyanyian, tata cahaya dan suara serta slight background yang dinamis.

Opera Carmen yang cukup legendaris itu mengisahkan tentang sosok pemuda, Don Jose, yang jatuh cinta dan tergila-gila kepada Carmen, gadis Gipsi yang sensual dan menggairahkan. Don Jose rela meninggalkan Micaela, gadis pemalu kekasih masa kecilnya, demi cintanya kepada Carmen. Perbedaan latar belakang membuat hubungan Carmen dan Don Jose menjadi rumit. Don Jose adalah seorang pemuda pemalu yang menjadi tentara, dan hidup dalam keteraturan. Ia tak bisa mengikuti gaya hidup Carmen sebagai kaum Gipsi. Don Jose juga tidak menyukai cara Carmen ketika menghadapi lelaki lain. Sedangkan Carmen adalah tipikal Gipsi yang tidak suka akan aturan, ikatan, cinta kebebasan, dan senang petualangan. Carmen menganggap Don Jose posesif dan terlalu cemburu. Untuk bisa keluar dari lingkaran api cemburu Don Jose, Carmen kemudian memanfaatkan Escamillo, seorang matador, yang sudah menyatakan cinta kepadanya. Carmen ingin berpisah dari Don Jose dan mengembalikan cincin pemberiannya. Reaksi Don Jose tidak diduga oleh Carmen, ia menjadi sangat marah lalu menusuk Carmen dengan belati. Opera ini menggambarkan bahwa cinta yang indah dan murni terkadang sia-sia. Don Jose tidak bisa melihat cinta dan ketulusan Micaela. Ia dibutakan oleh Carmen, namun akhirnya tidak bisa mendapatkan cinta Carmen.