Monolog, Seni Pertunjukan

Monolog adalah salah satu bentuk teater modern atau non tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat perkotaan, terutama kaum ‘terpelajar’ yang mendapatkan pengaruh teori negara-negara barat. Bentuk pementasan teater modern cenderung lebih tertata, dan penentuan lokasi panggung menjadi unsur yang dianggap penting. Hal ini berbeda dengan teater rakyat yang bersifat tradisional dimana tanah lapang pun bisa dijadikan area pentas. Pada perkembangannya, teater modern termasuk monolog berupaya untuk kembali akar tradisi, yaitu seni untuk semua orang, dimana lokasi pementasan tidak selalu di ruang tertutup yang hanya dinikmati oleh segelintir penonton, tetapi bisa juga di ruang terbuka.

Monolog berasal dari kata “mono” yang artinya satu, dan “logi” yang artinya ilmu. Jika dirunut dari asal katanya, monolog dapat dimaknai sebagai suatu ilmu terapan yang mengajarkan tentang seni peran, dimana hanya dibutuhkan satu orang atau dialog bisu untuk melakukan adegan/sketsa yang ditampilkan. Cabang seni teater modern ini sebenarnya berawal dari latihan seorang aktor untuk menghafal naskah dan mendalami adegan yang menjadi bagiannya. Dalam sebuah naskah drama biasanya terdapat pembicaraan panjang seorang tokoh di hadapan tokoh lainnya, dan hanya ia sendiri yang berbicara. Cakapan tokoh inilah yang dimaksud dengan  monolog. Panjangnya cakapan membuat emosi perasaan dan karakter tokoh bisa berubah-ubah sesuai isi cakapannya. Perubahan emosi dan karakter inilah yang selalu dilatih oleh seorang aktor sebelum pementasan berlangsung. Pada perkembanganya, tantangan berlatih peran monolog memunculkan daya pikat tersendiri di kalangan seniman, dan melahirkan monolog sebagai seni peran yang dapat berdiri sendiri tanpa harus selalu menempel dalam sebuah bingkai pertunjukan lakon berjuluk drama.

Monolog diperkenalkan sekitar tahun 1960-an yang memanfaatkan media televisi sebagai panggung. Saat itu dunia pertelevisian tidak mengenal dubbing atau pengisian suara, sehingga monolog banyak digunakan untuk membuat film-film bergenre komedi dan horor. Salah seorang pengagas monolog dalam dunia televisi yang terkenal adalah Charlie Chaplin. Setelah diperkenalkan untuk pertamakalinya di Hollywood sekitar 1964, monolog kemudian berkembang menjadi sarana seni dan teater. Bagi generasi “old” dengan tayangan televisi hitam putih mungkin masih mengenal Charlie Chaplien, tokoh acara komedi televisi yang mampu membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal.

Monolog sering dijadikan barometer kemampuan totalitas seorang seniman dalam dunia seni peran yang digelutinya. Bing Slamet, Butet Kertaredjasa, dan Putu Wijaya, adalah beberapa seniman yang dinilai piawai bermonolog. Seniman serba bisa, “Presiden Pelawak Indonesia” Bing Slamet sangat pandai memainkan mimik muka yang menunjang setiap adegan monolog yang dimainkannya. Butet Kertaredjasa, meski bukan aktor pertama yang mampu berakting tunggal dengan sangat baik di atas panggung, kelihaiannya melakukan monolog selalu mengundang decak kagum. Mimik wajah, intonasi suara, hingga pembawaannya yang menarik membuat siapa pun yang menyaksikan betah duduk berlama-lama. Aksi monolognya yang paling melekat di benak masyarakat adalah saat ia menirukan suara mantan presiden RI, Soeharto. Menurut Butet Kertaradjasa, kendati dilakukan sendirian monolog bukan sebuah seni peran yang mudah untuk dilakoni. Butuh penjiwaan yang amat mendalam, serta stamina saat memainkan naskah drama yang durasinya sekitar 1-2 jam. Monolog bagi seorang Butet Kartaredjasa tak ubahnya olahraga yang menguras banyak energi.

Monolog umumnya berisi kritik sosial tentang situasi yang ada di masyarakat, baik di masa lalu, atau yang sifatnya kekinian. Banyak pentas monolog yang mengambil setting cerita berlatar tradisi, tokoh, kisah nyata, maupun politik. Salah satu seniman panggung yang cukup berani melontarkan kritik sosial adalah Putu Wijaya. “Surat Kepada Setan” merupakan pentas monolog yang berkisah tentang realita sosial Indonesia, tepat di usia 60 tahun. Tokoh digambarkan sebagai orang yang sudah lanjut usia dan miskin. Putu Wijaya memerankan tokoh tanpa nama yang renta, sekaligus beberapa tokoh lainnya seperti bupati, wali kota, dan calon TKW. Pada awal sajian, sang tokoh menampilkan kesenjangan realita perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 60 tahun, seperti usianya yang juga tepat 60 tahun. Tokoh yang miskin dan tua renta itu kelaparan mencari sesuap nasi. Ia mendatangi beberapa kepala pemerintahan untuk mengadukan nasibnya, tapi yang ada justru para pejabat itu membuka kedok kebobrokan negeri. Melihat kenyataan yang menurutnya bahwa bangsa Indonesia tak lagi memiliki harga diri, timbullah hasrat untuk bersekongkol dengan setan. Ia pun mengirim sebuah surat perdamaian (yang sebenarnya taktik) karena setanlah yang dianggapnya menjadi penyebab semua kejadian. Uniknya, dalam akhir monolog ini sang tokoh ternyata adalah setannya. Dalam pentas ini rupanya Putu Wijaya mengajak membangun konflik pada tiap individu yang membaca atau menyaksikan pertunjukan monolog Surat Kepada Setan, bahwasanya kemiskinan, kelaparan, peningkatan TKW (Tenaga Kerja Wanita), pelacuran, korupsi, para wakil rakyat yang tidak memperdulikan rakyatnya, dan berbagai permasalahan lainnya merupakan hal-hal yang dialami oleh bangsa Indonesia. Dan permasalahan yang dilontarkan oleh sang seniman adalah konflik yang berlangsung terus-menerus sampai sekarang di negeri ini.