Makyong, Seni Pertunjukan

Indonesia memilik banyak kesenian, baik berupa tari, musik ataupun drama tradisional. Salah satunya adalah kesenian Makyong yang berasal dari Riau. Makyong merupakan kesenian yang menggabungkan banyak unsur dalam pementasannya yaitu agama, adat Melayu, sandiwara, gerak tari, syair lagu, vokal, instrumental tradisional, serta naskah yang sederhana namun memikat.  Kesenian Makyong sebenarnya tidak berasal dari Indonesia. Makyong sendiri berasal dari daerah Nara Yala, Pattani, Muang Thai bagian selatan. Kemudian pada abad ke-16 kesenian ini mulai menyebar ke selatan melalui semenanjung Melayu ke Singapura, Riau, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat. Meskipun tidak termasuk budaya asli Indonesia, namun kebudayaan ini sudah sangat lekat dengan masyarakat pesisir Melayu.

Di Riau, kesenian makyong dipentaskan menggunakan topeng untuk sebagian karakter dayang Raja, Puteri, penjahat, dan setan. Hal ini yang membedakan kesenian makyong di daerah Riau dengan kawasan serumpun Melayu lainnya. Dalam pementasannya, Makyong tidak memerlukan properti, dekorasi, atau layar untuk pergantian babak. Makyong lebih sering dipentaskan di lapangan terbuka, namun tetap diberi atap menggunakan bubungan dengan enam buah tiang penyangga, dan pada kayu yang melintang dihiasi daun kelapa muda. Bila dimainkan di lingkungan istana, makyong dipentaskan di panggung beton berbentuk segi enam. Pementasan makyong memiliki alur yang lambat, tidak mengherankan jika kesenian ini dapat dipentaskan hingga tujuh malam, biasanya dimulai selepas Isya sampai dengan Subuh.

Pada tahun 1950-an, Makyong mengalami kejayaan di masa keemasan kesultanan Riau-Lingga. Pada masanya Makyong pernah dianggap sebagai kesenian istana dan mendapat dukungan penuh dari istana. Namun, setelah tidak mendapat dukungan dari istana, kesenian ini kemudian menyebar dikalangan masyarakat Desa. Pada masa lalu, makyong hanya dapat ditemukan di dua tempat, yaitu di Tanah Merah dan di Mantang Arang, tetapi sekarang dapat juga ditemui di daerah Kijang (Bintan Timur), Rempang atau Sembulang, Dompak, Kasu, Pulau Buluh, dan Cate (daerah pinggiran Pulau Batam).