Langendriyan Surakarta, Seni Pertunjukan

Langendriyan adalah seni drama tari khas Jawa yang menggabungkan seni tari, drama, musik, narasi, gerak dan ekspresi. Langendriyan berasal dari kata langen yang artinya hiburan, dan driya artinya hati. Jadi Langendriyan dapat diartikan sebagai tarian hati. Dialog dalam Langendriyan menggunakan tembang macapat. Dalam pertunjukannya, menari, melantunkan tembang dan menyampaikan narasi dilakukan secara bersamaan atau sekaligus. Tembang macapat (puisi tradisi Jawa) dibawakan oleh satu orang dalam adegan monolog, dan lebih dari satu orang secara bergantian saat terjadi dialog antar pemain. Tari Langendriyan dalam pementasannya tidak dilakukan dalam posisi berdiri utuh, tetapi juga dengan berjongkok atau setengah jongkok, dan sesekali bertumpu pada lutut. Gerakan tari yang lembut tetapi atraktif membuat Langendriyan tak mudah dilakukan. Gerakan gemulai bisa berganti menjadi atraktif dengan cepat, sementara alunan tembang terus mengalir dari mulut para penari saat mereka bergerak.

Langendriyan berawal di lingkungan keraton Yogyakarta, diciptakan oleh R.T. Purwadiningrat yang dikembangkan oleh KGPA Mangkubumi. Tujuh tahun kemudian, KGPAA Mangkunegara IV  memerintahkan Raden Hario Tandakusuma mengubahnya dalam gaya Surakarta. Dalam Serat Babad Ila-Ila disebutkan bahwa  Langendriyan bermula dari keinginan seorang  Belanda  bernama  Godlieb  Kilian, yang meminta Raden Mas Hario Tondokusuma menyusun tari berlakon Darmawulan adegan melamar Ratu Ayu oleh Adipati Minakjinggo. Namun ada versi lain tentang proses lahirnya Langendriyan yang cukup menarik. Pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV ada sebuah pabrik batik besar milik seorang keturunan Jerman Godlieb di daerah Pasar Pon, Solo. Buruh batik disana mempunyai kebiasaan ura-ura atau menembang. Raden Mas Hario Tandakusumo yang berdarah seni kemudian menciptakan Langendriyan, suatu nyanyian yang disertai dengan tarian. Bentuk pertunjukannya masih sederhana karena hanya bersifat spontan untuk menambah semangat buruh bekerja dan mengurangi kelelahan mereka. Nyanyian yang dilantunkan berupa mocopatan sebagai pengganti dialog antar tokoh. Sumber cerita diambil dari Babad Majapahit episode Damarwulan melawan Menakjinggo.

Nama Raden Mas Hario Tandakusumo sebagai pencipta Langendriyan terdapat pada syair tembang dhandanggulo yang ditulis dalam Poerwaka Serat Langendriyan. Bunyinya sebagai berikut: RAding tjandra angesti doemadi / DENiramrih sarkara ginita / MASang lelangen sedyana / HARdaning tyas kajoengjoen / JAjah kadya nggajoeh wijati / TONtonen kandanira / DAdaring para noeng / KOEmaraning noengswa Djawa / SOEmawana winahjoe wahjeng pamardi / MAladi kata dibya. Menurut tradisi penulisan sastra Jawa, nama pengarang tersamar pada suku kata pertama bait pertama pada tembang yang diciptakan. Berdasarkan pupuh pertama suku kata tembang pertama bait pertama dapat disimpulkan pencipta tembang adalah Raden Mas Harja Tondakoesoema.

Langendriya gaya Surakarta dipentaskan pertama kali dalam penobatan K.G.P.A.A Mangkunegara V sebagai raja pada tanggal 15 Desember 1881. Drama tari Langendriyan mengambil kisah Panji lakon Raden Damarwulan dengan latar belakang kerajaan Majapahit. Penari Langendriyan Mangkunegaran sekaligus pemeran tokoh semuanya dilakukan oleh perempuan, berbeda dengan  Langendriyan Yogyakarta yang dimainkan oleh laki-laki. Pertunjukannya dilakukan dengan berdiri, sesekali jongkok atau setengah jongkok, sedangkan gaya Yogyakarta dilakukan dengan sikap jengkeng (duduk di atas kaki).

Kata kunci: 

Sumber: