Ketoprak Dor, Seni Pertunjukan

Ketoprak Dor adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang berkembang di Sumatera Utara, khususnya Medan Deli, Deli Serdang, Binjai, Langkat, Simalungun, dan Pematangsiantar. Kesenian ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1920-an.  Kehadirannya di tanah Svarnadwipa berkaitan erat dengan keberhasilan budidaya tembakau di daerah Deli, yang melambungkan nama Karesidenan Sumatera Timur sebagai penghasil ⅓ total ekspor di seluruh Hindia Belanda. Sekitar tahun 1920-an wilayah perkebunan tembakau di Sumatera Timur  panjangnya mencapai 100 km ke arah timur laut berbatasan dengan Aceh, 100 km ke arah selatan ke bukit-bukit di balik kota Pematangsiantar, serta 200 km ke arah tenggara ke dataran tinggi di sekitar Prapat, di daerah Asahan. Resiko lahan perkebunan yang luas adalah kebutuhan tenaga kerja untuk mengelolanya. Orang setempat enggan bekerja di perkebunan karena sudah memiliki lahan sendiri untuk diolah. Satu-satunya cara hanya mendatangkan tenaga kerja dari luar. VOC kemudian memutuskan mendatangkan orang-orang Cina dari Penang, dan orang-orang Jawa untuk dijadikan kuli kontrak.  

Orang-orang Jawa yang bekerja sebagai kuli kontrak di Sumatera Timur kemudian membentuk komunitas sebagaimana lazimnya para perantauan, sehingga secara tidak langsung membentuk perkampungan baru di sekitar perkebunan. Berkumpul dengan orang-orang yang berasal dari tempat yang sama membuat mereka bebas melakukan segala sesuatu yang ‘berbau’ Jawa, termasuk menghibur diri bersenda gurau untuk melepas penat. Pada saat sedang berkumpul itulah mereka membuat pentas ketoprak, yang biasa menjadi tontonan mereka semasa di tanah Jawa. Namun pentas ketoprak yang dibuat tidak sama persis dengan di tanah asalnya. Keterbatasan instrumen pengiring dan properti menjadi alasannya. Pentas ketoprak di Jawa biasanya diiringi perangkat gamelan tetapi mereka tidak memilikinya. Instrumen yang digunakan hanya seadanya, antara lain alat perkusi lokal bernama jedor. Onomatope (kata tiruan bunyi) jedor lah yang kemudian menjadi sebutan ketoprak dor. Pemain yang bukan pelaku seni atau praktisi kesenian ketropak juga turut mempengaruhi, karena penafsiran mereka tentu saja tidak sama dengan seniman ketoprak asli tanah Jawa. Mereka juga tampil seadanya, tidak tampak artistik bahkan terkesan kedodoran. Kesan kedodoran ini juga menjadi alasan bagi sebagian orang menyebutnya ketoprak dor.

Ketoprak Dor ternyata tidak hanya disukai oleh orang-orang Jawa tetapi juga etnis lain seperti Batak, Melayu, Cina, dan India. Setelah praktek kuli kontrak dihapuskan, masyarakat Jawa yang semula berkumpul dalam satu komunitas kemudian menyebar ke berbagai daerah. Kesenian ketoprak dor juga ikut menyebar, dan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Jawa bercampur Batak dan Melayu di dalam dialognya. Lakon yang biasa dibawakan dibedakan menjadi cerita rakyat dan carangan (karangan). Umumnya cerita rakyat diambil dari kisah-kisah seputar kerajaan di Jawa Timur, dan yang paling digemari adalah Damarwulan dan Warok Secadarma. Lakon Damarwulan menceritakan tentang tokoh seorang pemuda desa yang berhasil membunuh Bupati Blambangan, Menak Jinggo. Lakon Warok  Secadarma mengisahkan tentang seorang warok Desa Siman, yang berhasil menumpas kerusuhan di Kadipaten Trenggalek.

Tarian hanya menjadi pelengkap karena ketoprak dor mengutamakan unsur dramatik. Porsi tarian disesuaikan dengan perkembangan adegan. Gerakannya menyerupai wayang orang, namun bagi orang Jawa gerakannya tampak kasar. Hal ini bisa dipahami karena ketoprak dor lahir dari ‘orang Jawa kebanyakan’, dimana kesenian ini awalnya hanya  permainan gejlok lesung dengan nyanyian dan tarian yang dilakukan secara spontan. Terlebih para penari hanya belajar secara otodidak. Musik iringan ketoprak dor menggunakan instrumen perpaduan Jawa dan Melayu, yaitu jedor, kendang Jawa, kendang Melayu, kentongan, harmunium, akordion, violin, dan sekarang bertambah dengan keyboard.

Tahun 1970-an ketoprak dor masih sering ditampilkan dalam hajatan warga, pesta pernikahan atau khitanan. Biasanya digelar di depan rumah orang yang berpesta, tanah lapang, maupun pasar. Dalam perayaan hari kemerdekaan kesenian ini juga kerap tampil. Sayangnya saat ini kelompok ketoprak dor semakin sulit ditemukan, eksistensinya tergerus industri hiburan modern. Keunikannya sebagai kesenian multikultur dan keprihatinan akan punahnya ketoprak dor, menggugah sekelompok seniman untuk mementaskannya di Taman Buday Medan sekitar tahun 1991 dan 2000-an. Sungguh menyedihkan karena penontonnya bisa dihitung dengan jari. Kondisi yang berbeda terjadi di kawasan Helvetia Timur, Deli Serdang, pada pertengahan 2009, dan di kawasan Tanjungmulia, Medan Deli di penghujung 2012. Kesenian ketoprak dor mendapat sambutan luar biasa, warga datang berbondong-bondong menyaksikannya hingga larut malam saat pertunjukan usai. Oktober 2019, di hari kedua Jong Batak Art Festival (JBAF) di Taman Budaya Sumatera Utara, ketoprak dor menjadi pertunjukan spesial yang sangat ditunggu-tunggu oleh penonton.