Karya Musik Teater I La Galigo, Seni Pertunjukan

La Galigo adalah karya sastra klasik yang ditulis dalam aksara Bugis (lontara), yang sering disebut sebagai ùkiq sulappaq eppaq atau huruf segi empat. Surek La Galigo terdiri dari 9.000 halaman, berisi tentang cerita, tatanan, dan tuntunan hidup orang Sulawesi Selatan. Nilai-nilai yang ada dalam naskah La Galigo di antaranya adalah sistem religi, ajaran kosmos, adat-istiadat, bentuk dan tatanan masyarakat/pemerintahan, pertumbuhan kerajaan sistem ekonomi/perdagangan, keadaan geografis, dan peristiwa penting yang pernah terjadi. Surek Galigo dianggap sebagai kitab suci bagi warga pemeluk kepercayaan lokal yang disebut Tolotang. La Galigo dibaca dengan cara dinyanyikan, dalam bahasa Bugis yang disebut laoang atau selleang, dan biasanya dilakukan dalam sebuah upacara adat. Sebelum naskah dibacakan para penganut kepercayaan Tolotang akan menyediakan persembahan seperti sesaji, pemotongan ayam atau kambing, dan dupa. Pembacaan kisah-kisah dalam naskah La Galigo bagi mereka adalah sama dengan berdoa, dan menjadi obat segala penyakit serta tolak bala.

Rhoda Grauer, warga New York yang sudah menetap lama di Indonesia, terkesima dengan kisah dalam Surek Galigo. Ia bertekad untuk mewujudkan kisah ini di panggung teater. Rencananya tidak berjalan mulus karena manuskrip yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia baru 1.000 halaman. Rhoda kemudian berusaha menemui pakar Galigo dari Indonesia dan luar negeri untuk mendapatkan pengetahuan mereka tentang puisi epos ini. Akhirnya ia bertemu Muhammad Salim, penerjemah Surek Galigo, yang kemudian menjadi penasihat teks dan cerita pementasan La Galigo. Keduanya sepakat untuk menyertakan sutradara teater kontemporer asal Amerika, Robert Wilson. Bersama Restu Kusumaningrum yang kini menjadi Direktur Artistik I La Galigo, Rhoda serta Salim menuju Cerekang dan Malili untuk mengadakan pertemuan dengan tetua Luwuq, tanah Surek Galigo, tempat yang dianggap sebagai bermulanya kebudayaan Bugis.

Setelah tiga tahun melakukan riset, akhirnya I La Galigo dipentaskan untuk pertama kalinya tahun 2004 di Esplanade Theatres on the Bay, Singapura. Selanjutnya pementasan diadakan di kota-kota besar dunia antara lain Lincoln Center Festival (New York), Het Muziektheater (Amsterdam), Fòrum Universal de les Cultures (Barcelona), Les Nuits de Fourvière (Rhône-France), Ravenna Festival (Italy), Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival (Taipei), Melbourne International Arts Festival (Melbourne), dan Teatro Arcimboldi (Milan). Pertunjukan musik-teater dengan cerita I La Galigo menuai banyak pujian. Tahun 2018 I La Galigo terpilih sebagai pementasan khusus berkelas dunia pada saat Annual Meetings IMF-World Bank Group di Bali. The New York Times mengomentari I La Galigo sebagai "stunningly beautiful music-theater work",  ketika menjadi pembuka pada Festival Lincoln Center tahun 2005. Di Indonesia, pementasan I La Galigo diadakan pertama kali di Benteng Rotterdam, Makassar. Pertunjukan yang kedua diselenggarakan di Ciputra Artpreneur Theater atas kerja sama Bakti Budaya Djarum Foundation, Yayasan Bali Purnati, dan Ciputra Artpreneur, pada bulan Juli 2019.

Pentas I La Galigo sebagai produksi pertunjukan berskala internasional didukung oleh aktor, musisi, tim kreatif, dan para pendukung di balik panggung yang berasal dari Indonesia (Papua, Sulawesi, Bali, Jawa), Amerika Serikat, Italia, Perancis, Kanada, dan Singapura. Naskah yang diadaptasi dari Surek Galigo menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, pernikahan yang rumit, dan juga pengkhianatan. Semua unsur dirangkai menjadi cerita besar yang digarap dengan indah oleh Robert Wilson, salah satu sutradara teater kontemporer terbaik dunia saat ini, dan maestro musik Rahayu Supanggah. Karya musik-teater I La Galigo bercerita melalui tarian, gerak tubuh, soundscape, dan penataan musik. Pertunjukan berdurasi dua jam dengan tata cahaya dan tata panggung yang spektakuler. Efek musik dramatis diperoleh dari kolaborasi 70 instrumen musik yang dimainkan oleh 13 musisi, termasuk instrumen tradisional dari Sulawesi, Jawa, dan Bali.

Pertunjukan terbagi dalam 12 babak, melibatkan 50 penampil dan 13 orang musisi, menggunakan sekitar 300 kostum dan 200 buah lebih properti yang berat seluruhnya mencapai hampir satu ton. Prolog diawali dengan layar putih yang menyala terang benderang. Seorang pemuda berpakaian serba kuning duduk bersila di pinggir kiri panggung. Barisan musisi masuk dan duduk di bagian kanan dekat layar. Diiringi musik mulai dari alat tiup, gendang, dan gesek, satu persatu pemain teater masuk dan berjalan dari kanan ke kiri panggung. Adegan pembuka ditampilkan dengan komposisi seimbang antara permainan cahaya, tata panggung, musik, dan koreografi. Bunyi-bunyian yang terdengar lirih dan menyayat menimbulkan suasana mistis. Tidak lama kemudian nyanyian dalam bahasa Bugis terdengar disertai terjemahan dalam bahasa Indonesia yang muncul pada layar di samping kanan dan kiri panggung. 

I La Galigo dibuka dengan awal penciptaan Dunia Tengah. Dewa Dunia Atas mengutus Batara Guru, putranya, sementara Dunia Bawah mengirimkan putrinya We Nyiliq Timoq. Keduanya menikah dan memimpin Dunia Tengah. Keduanya mendapat keturunan setelah menunggu cukup lama, dan dikaruniai sepasang kembar emas, yang diberi nama Sawerigading dan We Tenriabeng. Keduanya diramalkan saling mencintai, tetapi sebelum hal itu terjadi, We Tenriabeng disembunyikan agar keduanya tak bertemu. Namun rahasia akhirnya terbongkar. Sawerigading dewasa mencari We Tenriabeng dan langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu. Percintaan terlarang ini ditentang keras oleh Batara Guru. Demi keselamatan bersama, We Tenriabeng kemudian memberi sumpah agar Sawerigading mencari We Cudaiq, putri kerajaan China yang tak kalah cantik dan menjadi takdir jodohnya. Meski dengan berat hati Sawerigading pergi untuk mencari kebenaran yang disampaikan We Tenriabeng. Saat akhirnya bertemu, Sawerigading mengakui kecantikan We Cudaiq dan keduanya menikah. We Cudaiq kemudian melahirkan seorang anak yang diberi nama La Galigo. Sayangnya ia tumbuh sebagai anak yang manja, arogan dan suka berjudi. Pernikahan yang dijalani ternyata tak semudah bayangan Sawerigading.

Pentas I La Galigo menjadi bukti bahwa sastra Indonesia juga dapat diadaptasi menjadi sebuah seni modern. Kebesaran nama-nama yang terlibat dalam pertunjukan setidaknya dapat memotivasi kreativitas dengan mengangkat seni budaya tradisional lainnya ke pentas dunia. Tidak tertutup kemungkinan pula suatu saat  I La Galigo menjadi salah satu pentas rutin, yang tak kalah menarik dengan Sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan.