Arja, Seni Pertunjukan

Arja adalah seni pertunjukan tradisional Bali yang memadukan drama, tari, nyanyi,  dan musik. Pemain berakting dengan cara berjalan, menari, dan menyanyi mengikuti irama musik yang disebut gamelan geguntangan. Dialognya menggunakan bahasa tembang dan non tembang. Tembang yang digunakan adalah macapat, yaitu bentuk puisi klasik berbahasa Bali atau Jawa Kuno (Kawi) yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang di Bali. Dalam pentas kesenian Arja terdapat layar yang disebut rangki, berfungsi sebagai tempat keluar masuknya penari dan beristirahat.

Ada tiga fase penting dalam perkembangan teater tradisional Arja, yaitu: (1) Arja Doyong, dimainkan hanya oleh satu orang tanpa iringan gamelan; (2) Arja Gaguntangan, dimainkan oleh lebih dari satu pemain dengan iringan gamelan geguntangan. Gamelan Gaguntangan memiliki suara lirih dan merdu sehingga dapat memberikan keindahan tembang yang dilantunkan oleh penari; dan (3) Arja Gede, dibawakan oleh 10-15 pemain dengan struktur pertunjukan baku sebagaimana yang ada sekarang.

Kesenian Arja muncul antara tahun 1775-1825, dan dipertunjukkan pertama kali dalam upacara pelebon I Dewa Agung Gede Kusamba (putra Raja Klungkung). Pelebon adalah upacara ngaben yang khusus dilakukan untuk raja dan kaum bangsawan. I Dewa Agung Gede Kusamba meninggal dalam upayanya melerai peperangan antara Kerajaan Bangli dan Kerajaan Taman. Pada saat upacara palebon berlangsung, beberapa kaum Puri menyelenggarakan pertunjukan yang dimaksudkan untuk menghormati I Dewa Agung Gede Kusamba, sekaligus menyindir sikap permaisuri I Dewa Agung Gde Kusamba yang menolak labuh geni. Menurut adat Puri, seorang istri harus menceburkan diri ke perapian yang membakar mayat suaminya sebagai bentuk kesetiaan. Penolakan labuh geni I Gusti Ayu Karangasem dianggap sebagai hal yang sangat tidak pantas dan memalukan bagi elit penguasa Bali masa itu. I Dewa Agung Manggis (Raja Gianyar) dan I Dewa Agung Jambe (Raja Badung), secara sengaja mempertunjukkan Arja dengan lakon Kesayang Limbur yang berisi sindiran pada permaisuri yang dianggap tidak memiliki kesetiaan.

Kata Arja dapat dimaknai sebagai indah, cantik, menawan, atau harmonis. Pada awalnya Arja hanya dibawakan oleh laki-laki, tetapi tahun 1920-an muncul kelompok Arja yang dimainkan oleh perempuan di Desa Tapean, Klungkung. Mereka mendobrak peraturan yang melarang perempuan tampil di depan khalayak ramai. Tahun 1925 muncul kelompok Arja Rabi-Rabi di Singapadu dan Puri Ubud, yang seluruhnya beranggotakan istri-istri raja atau para istri dari keluarga raja. Tahun 1945 muncul kelompok sekeha arja (sekeha sebunan) yang beranggotakan laki-laki dan perempuan di Desa Batuan, Gianyar. Sekitar tahun 1990-an kembali muncul kelompok Arja yang seluruhnya beranggotakan laki-laki bernama Arja Muani Printing Mas. Sejarah perjalanannya mirip dengan kesenian gandrung di Banyuwangi yang semula dimainkan oleh laki-laki kemudian berganti perempuan seluruhnya, lalu kembali muncul tarian gandrung yang dibawakan oleh laki-laki seluruhnya. Perbedaannya tari gandrung tidak dibawakan oleh laki-laki dan perempuan secara berpasangan.

Lakon seni pertunjukan Arja awalnya adalah kisah-kisah Panji, kemudian berkembang dengan mengambil cerita dari babad, cerita rakyat, wayang, dan saat ini terkadang cerita keseharian. Padatnya pementasan menjadikan kelompok-kelompok Arja kewalahan membuat lakon, karena tidak semuanya mampu menggarap cerita dalam waktu yang singkat. Akhirnya mereka hanya membuat gubahan dari kisah yang sudah ada, sehingga nama-nama kelompoknya mengikuti lakon yang sering dimainkan, seperti Arja Pakang Raras, Arja Basur, Arja Jayaprana, dan Arja Sampik. Namun lekatnya kisah Panji dengan kesenian Arja menjadikan karakter tokoh-tokoh Panji selalu dihadirkan dalam setiap pementasannya. Penonton juga menyadari bahwa tokoh yang ditampilkan adalah karakter tokoh pertunjukan Arja klasik meski lakon yang sedang mereka tonton merupakan cerita baru. Karakter tokoh yang dimaksud antara lain Raden Galuh, Raden Mantri (Putera Manis), Limbur, Condong, Mantri Buduh (Keras), dan Penasar.