Zapin Melayu, Seni Tari

Tari Zapin Melayu ikut terpilih meramaikan panggung pembukaan perhelatan olah raga akbar Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Para penari berbusana Melayu warna hijau dengan kombinasi songket merah membawakan tari Zapin berpasangan. Sayangnya saat penari Zapin tampil di atas panggung lagu pengiringnya bukan  khas Melayu.  Tarian hanya diwakili oleh pakaian khas Melayu yang dikenakan sekitar 14 pasangan serta nukilan gerakan tarinya.

Tari Zapin dikenal sebagai seni Melayu yang mendapat pengaruh dari budaya Islam yaitu saat para saudagar sekaligus pendakwah agama Islam masuk melalui daerah pesisir. Pendekatan yang dilakukan oleh para pendakwah adalah menyebarkan ilmu agama sambil memperkenalkan kuliner dan kebudayaan mereka. Awalnya tarian ini hanya sebagai hiburan selepas mengaji dan ungkapan kegembiraan dengan gerakan yang didominasi kecepatan langkah kaki. Mereka menari diiringi musik yang juga khas Arab yaitu Marawis atau Marwas, dan Gambus atau ‘Ud. Tahun 1824 kesenian Zapin mulai berkembang di kerajaan Johor, Siak Sri Indrapura, dan Lingga. Ketika seni Zapin  masuk ke dalam lingkungan Kerajaan Siak Indragiri Riau, tarian ini berkembang cepat serta berakulturasi dengan budaya Melayu. Akhirnya tari Zapin menjadi seni hiburan di kalangan istana, dan kerap ditampilkan dalam acara seremonial kerajaan sehingga dijuluki “Zapin Istana”. Tari Zapin dijumpai hampir di seluruh pesisir Nusantara dengan julukan yang berbeda, antara lain “zapin” di pesisir timur Sumatera Utara, Riau dan kepulauan di sekitarnya, “dana” di Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, “bedana” di Lampung, “japin” atau “zafin” di Jakarta dan Jawa, “jepin” di Kalimantan, “jippeng” di Sulawesi (Selatan,  Tengah, dan Gorontalo), “jepen” di Maluku (Ternate, Ambon), dan dana-dani di Nusa Tenggara (Mataram, Sumbawa). Kata Zapin sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu "Zaffan" yang artinya penari dan  "Al-Zapin"  yang berarti gerak kaki.

Zapin tergolong tari kelompok yang awalnya hanya boleh dibawakan oleh penari laki-laki, dan sempat menjadi salah satu indikator untuk memilih menantu. Mereka menari di atas tikar madani yang posisinya tidak boleh goyang atau  bergeser sedikitpun (sebagaimana diperlihatkan dalam tari Zapin Al Zaffan). Dalam perkembangannya penari perempuan kemudian diijinkan untuk menari Zapin, baik secara terpisah ataupun berpasangan. Tarian ini biasanya ditampilkan dalam acara pernikahan, khitanan, syukuran, pesta desa, peringatan hari besar Islam,  dan perhelatan lainnya.

Pola gerakan tari Zapin sangat sederhana, perbedaan antara laki-laki dan perempuan pun hanya dalam bentuk gerakan tangan saja. Gerakan yang banyak terinspirasi dari keseharian manusia dan lingkungannya ini dilakukan secara berulang-ulang, meski demikian semua gerakannya penuh makna dan filosofi. Adapun gerakan tari Zapin adalah: (1) Tahto (1, 2, dan 3), yang merepresentasikan sikap merendah dan menghargai; (2) Bebas; (3) Shut, mendahulukan sikap adil dan sabar dengan keseimbangan; (4) Siku keluang, melambangkan kehidupan yang dinamis; (5) Mata angin; dan (6) Titik batang, merepresentasikan keteguhan hati dan ketrampilan dalam menghadapi cobaan.

Tari Zapin memiliki aturan yang sangat ketat, tidak hanya menyangkut gerak dan isi syair, tetapi juga kesantunan para penari dalam hal pakaian dan adab. Saat akan membawakan tarian Zapin Siak, ada aturan tertulis yang harus diikuti yaitu: (1) Pemusik harus sudah duduk dengan rapi beserta peralatan musiknya; (2)  Sepasang penari langsung duduk bersimpuh menghadap pada kelompok pemain musik dengan tangan mengarah ke depan; (3) Pemusik memainkan instrumentalnya diikuti lantunan suara dari pemain gambus; (4) Pada saat pemain gambus mulai menyanyi, kedua penari berdiri perlahan dan memulai tarian. Selama syair tidak dilantunkan maka penari tidak akan memulai tariannya; (5) Penari memulai tariannya dengan membuat gerakan bunga zapin yaitu “alif”, ataupun “alif sembah”; (6) Menari Zapin dengan berbagai gerakan  bunga yang dikuasai; (7) Setelah merasa lelah atau habis persediaan bungan zapin yang akan dibawakan, maka penari memohon pada pemusik untuk berhenti dengan simbol gerak khusus “minta tahto”; (8) Pemusik kemudian memberikan simbol pada ujung lagunya dengan irama khusus “tahto”, agar tarian dapat segera diakhri; (9) Bersamaan dengan alunan irama “tahto” penari menutup tarian dengan gerakan “bunga tahto”; (10) Adab menari: tangan kiri harus tetap terangkat dengan membentuk siku-siku, jari setengah menggenggam, dan tidak boleh diayunkan. Tangan kanan boleh dilenggangkan mengikuti irama musik. Langkah kaki tidak boleh terlalu lebar, mengangkat kaki juga tidak boleh terlalu tunggi. Badan dan pinggang boleh dilenturkan mengikuti gerak langkah ataupun musik.

Busana penari Zapin laki-laki terdiri dari atasan baju kurung Melayu cekak musang atau teluk belanga, bawahan seluar, kain sampin/samping, kopiah, dan bros. Kain sampin terdiri dari kain pelekat atau kain songket (tenun Siak) yang disesuaikan dengan kondisinya. Jika dihadapan kalangan istana atau tamu khusus maka digunakan kain tenun Siak, tetapi untuk pementasan hiburan biasa cukup menggunakan kain pelekat. Busana penari Zapin perempuan terdiri dari kebaya labuh, kain samping (sarung pelekat atau songket Siak), selendang “tundung manto” penutup kepala. Rambut disanggul Melayu (sanggul lipat pandan dan conget), dengan hiasan kepala berupa bunga sanggul, atau kembang goyang. Asesoris lainnya adalah anting di kedua telinga, dan kalung. Dalam beberapa variasi tari Zapin, penari perempuan mengenakan sampur (selendang) sebagai propertinya. Pengaturan penggunaan kain harus sesuai falsafah tari Zapin “alua jo patuik”, yaitu alua aspek logika, etika, dan estetika, serta “patuik” pantas atau tidaknya kain yang digunakan untuk menari.

Tari Zapin diiringi oleh dua kelompok musik berbeda sesuai dengan elemen budaya yang mempengaruhinya. Jika murni budaya Arab maka musik pengiringnya hanya Marwas dan Gambus, sedangkan yang berakulturasi dengan budaya Melayu biasanya ada alat musik tambahan lain seperti akordeon, gitar, biola, gendang, atau gong. Syair bernafaskan Islam dengan berbagai pesan moral didalamnya turut mengiringi tarian ini, antara lain ciptaan seniman terkenal Tengku Mansor yaitu Ya Salam, Tanjung Serindit, Yale-yale, Gambus Palembang, Lancang Kuning, Lancang Dalik, dan Sri Pekan. Lagu lain yang bukan ciptaanya adalah Bismillah, Pulut Hitam, Zapin Asli, Gendang Rebana, dan Lancang Balai.