WAYANG KULIT

 

            Wayang kulit Betawi biasa disebut “wayang” saja. Sementara “wayang golek” disebut dengan “golek”. Sebagaimana wayang kulit pada umumnya, wayang kulit Betawi juga menggunakan kelir yang dalam bahasa setempat disebut “kere”. Berbeda dengan wayang kulit di Jawa yang lebih menonjolkan wataknya sebagai seni “adhi luhung”, wayang kulit Betawi lebih menonjolkan sifat kejelataannya, sederhana, polos, dengan interaksi yang akrab antara penonton dengan dalang. Disamping gamelan logam, alat musik pengiring lainnya yaitu gendang, terompet, dua buah saron, kromong, kedemung, kecrek, kempal, dan gong. Namun ada juga yang menggunakan rebab.

            Selain dipesta pernikahan, wayang Betawi juga dipentaskan untuk melepaskan “kaulan”, semacam nazar. Ia adalah satu-satunya kesenian untuk ruwatan. Ruwatan biasanya dilakukan oleh para dalang yang dianggap telah memenuhi syarat yang secara spiritual telah matang dan mumpuni. Tokoh sentral dan dinantikan kemunculannya dalam wayang betawi adalah semar yang muncul pada lakon. Sosok semar merupakan penyipul dari lakon yang dibawakan. Kesimpulannya adalah petuah-petuah yang bernilai spiritual tinggi.