Ukulele, Seni Musik

Ukulele adalah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar tetapi berukuran lebih kecil. Alat musik ini tergolong chordophone karena sumber bunyinya berasal dari petikan dawai atau senar. Ukulele yang dikenal di Indonesia terdiri dari 2 jenis, yaitu (1) Ukulele stem A atau “Cak” yang berdawai 4 terbuat dari baja, dengan tuning pada setiap senar bernada g2-b2-e2-a2; (2) Ukulele stem E atau “Cuk”, berdawai 3 terbuat dari nilon, dengan stem nada  g2-b1-e2. Senar b1 yang terletak di tengah berukuran lebih besar dibandingkan senar lainnya. Berdasarkan suara yang dihasilkan, ukulele dibedakan menjadi ukulele soprano (21 inchi), ukulele concert (23 inchi), ukulele tenor (26 inchi), dan ukulele baritone (30 inchi).

Ukulele bisa dimainkan sebagai instrument tunggal, atau dikolaborasikan dengan berbagai macam alat musik dari berbagai aliran seperti jazz, country, reggae, dan rock. Di Indonesia, ukulele menjadi identitas beberapa penyanyi dan grup musik yang mengusung ukulele sebagai instrument pengiring lagu, seperti Budi Doremi, Sky Sucahyo, Payung Teduh, Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak, dan Hawaiian Seniors yang dahulu pernah menjadi acara rutin di TVRI.

Kehadiran ukulele dalam kancah musik dunia berawal pada tahun 1878 dengan perjalanan orang-orang Portugis dari Madeira (Azores), menuju Pulau Hawaii melalui Afrika Selatan untuk mencari penghidupan baru. Salah seorang di antara mereka ada yang membawa gitar kecil “Braginho”, buatan kota Braga di Portugis. Ukurannya yang kecil dengan bentuk simpel memudahkan Braguinha atau Braginho untuk  dibawa kemana-mana. Tidak butuh waktu lama hingga alat musik ini menjadi sangat populer di Hawaii setibanya orang-orang Portugis disana. Permainan Braginho diperkenalkan di depan khalayak ramai untuk pertamakalinya oleh seorang imigran Portugal bernama Joao Fernandez di tahun 1879. Permainan jarinya sangat cepat, jari jemarinya sangat cekatan dan seperti terbang ketika memetik kord (kunci) dalam memainkan lagu. Mirip kutu loncat, sehingga penduduk setempat menyebut alat musik yang dimainkannya dengan ukulele, dari asal kata oo-koo-lay-lay, dimana uku dalam bahasa Hawaii artinya adalah kutu. Gitar berukuran kecil ini juga dikenal sebagai “cavaquinhos”, yang artinya sepotong kayu kecil, karena memang badan ukulele terbuat dari kayu.

Ukulele masuk ke Indonesia juga melalui orang-orang Portugis yang datang ke kepulauan Maluku di bawah komando Alfonso d’Alburqueque di tahun 1512. Bunyi alat musik dan nyanyian para pelaut ini terdengar agak aneh, karena penduduk setempat terbiasa memainkan alat musik tradisional bernada pentatonik, sedangkan  mereka menggunakan nada diatonik yang universal. Masyarakat setempat berusaha untuk menirukannya tetapi terbentur pada cengkok dan gaya musik tradisional yang sangat mempengaruhi dalam penyajian musiknya. Dari ‘keruwetan’ inilah berawal embrio musik keroncong Indonesia. Nama keroncong sendiri berasal dari ukulele yang ketika dimainkan berbunyi “crung crung crung” atau “crong crong crong”. Itulah sebabnya alat musik ukulele dijuluki “gitar kencrung”, yang di lidah orang Indonesia lebih mudah diucapkan “kentrung”, hingga juga muncul sebutan kentrung untuk menamakan ukulele. Alat musik ukulele dan cikal bakal musik keroncong kemudian menyebar ke kota-kota di daerah pesisir melalui para pelaut Portugis dan keturunannya hasil kawin campur dengan penduduk di tempat-tempat yang disinggahinya. Dari Pulau Ambon, ukulele kemudian menyebar ke Makassar hingga tiba di pelabuhan Batavia di tahun 1513, sebelum akhirnya mundur karena serangan pasukan Fatahillah di tahun 1527.

Di Indonesia, ukulele “cuk” menjadi jiwa dalam sebuah ansambel musik keroncong. Instrumen penting yang memberikan warna khas dalam musik keroncong, karena tanpa ukulele irama musik keroncong akan terdengar hampa. Terlebih pada lagu keroncong berlanggam Jawa dimana ukulele “cuk” berfungsi layaknya gamelan (kethuk atau kenong). Permainan ukulele “cuk” yang menjadi penentu ritmis dalam irama keroncong dimainkan dengan empat pola, yaitu:

  1. Irama Kotekan, memetik senar berdasarkan unsur nada akor yang dimainkan tanpa adanya perkembangan akor maupun improvisasi dari pemain cuk itu sendiri.
  2. Irama Engkel, pengembangan dari pola kotekan namun terdapat teknik rasgueado di dalamnya, serta penggabungan irama engkel dan irama dobel. Teknik rasgueado atau strumming, adalah membunyikan beberapa senar sekaligus secara serentak menggunakan jari (digenjreng), dengan cara memukulkan secara berurutan empat jari kanan, kelingking sampai telunjuk, ke semua senar. Bisa juga hanya dipetik dengan satu atau dua jari saja, agar suara yang dihasilkan dapat terdengar rata dan lembut. Irama ini bisa digunakan di semua bagian lagu.
  3. Irama dobel, merupakan pengembangan dari irama engkel dengan ritmis seperenambelas sebagai ritmis utama, dan juga bisa digunakan untuk semua bagian lagu.
  4. Irama kopyok, ada 5 variasi yang dimainkan dengan teknik strumming, namun terdapat satu variasi dengan cara memetik seperti pada irama engkel dan juga dipetik secara strumming. Irama tersebut biasanya digunakan untuk membawakan lagu yang bergaya animato (riang gembira), dengan variasi penggunaannya mengacu pada mood masing-masing pemain.