Tuti Alawiyah, Tokoh

Tokoh dan ulama wanita, lahir di Jakarta, 30 Maret 1942, putri sulung dari sembilan bersaudara dari pasangan KH. Abdullah Syafi'ie dan Hj. Togayah. Menyelesaikan pendidikan SD (1956), SMP (1959) dan SMA (1962) semuanya di Jakarta, lalu melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah dan selesai 1976. Tanpa kenal lelah ia menekuni bidang dakwah, sosial, sampai ke pendidikan yang merupakan usaha utamanya. ltu terwujud lewat pesantren, madrasah, sekolah umum mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Kesemuanya bernaung di bawah bendera Yayasan Perguruan As-Syafi'iyah.

Tuty menjadi siswa yang baik dan berprestasi. Di usianya yang ke 10, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran.

Di usia 13 tahun, Tutty mulai mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi’iyah, diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Al-Quran, dengan murid 200 orang lebih, Kursus Umahat As-Syafi’iyah, khusus untuk ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini terus berlanjut hingga 1980.

Tiga tahun kemudian, tahun 1958, kakaknya H. Muhibbah meninggal dunia. Sejak itu, ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi’iyah dan melanjutkan pengajian setiap Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.

Cita-citanya agar bisa keluar negeri akhirnya kesampaian juga. Sang ayah mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia tahun 1959, setelah melihat bakat Tutty dalam berpidato, membaca Al’Quran, dan mendendangkan lagu-lagu qasidah,. Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang.

Di Singapura pulalah ia mendapat pengalaman pertama yang tak terlupakan dimana ia terpaksa berceramah di depan umum tanpa teks karena naskah ceramahnya ketinggalan. Pengalaman ini menjadi titik balik, dimana dalam ceramah-ceramah selanjutnya ia tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau pidato resmi.

Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah dan Abdullah Syafi’ie.

Dalam rangka merayakan ulang tahun As-Syafi’iyah tahun 1968, Tutty mengadakan acara besar di Stadion Utama Senayan yang dihadiri sekitar 60.000 orang. Dalam kurun waktu 10 tahun, 1970-1980, As-Syafi’iyah yang dipimpinnya dipercaya untuk menangani kegiatan-kegiatan besar seperti pembukaan MTQ V tahun 1972.

Saat itu, As-Syafi’iyah mengerahkan hampir 6.000 orang, terdiri dari 2.500 pemain rebana, 2.000 senam indah, dan drum band yang ditangani oleh sebuah organisasi rebana bernama LASQI (Lembaga Seni Qosidah Indonesia), sebuah organisasi yang diprakarsai oleh Tutty dan kawan-kawan.

As-Syafi’iyah juga memperoleh kesempatan menjadi penanggungjawab acara perpisahan dengan Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin dan telah 3 kali mengadakan acara BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) di Stadion Utama yang dihadiri lebih dari 140.000 orang pada tahun 1991, 1995 dan 1999. Majelis taklim pada mulanya lahir dari pengajian di Masjid Al-Barkah yang dikelola KH Abdullah Syafi’ie.

Ia mulai menekuni dunia pendidikan pada 1977, ketika ia diserahi tugas oleh ayahnya, Kyai Haji Abdullah Sya'fie, untuk mengelola Pesantren Khusus As-Syafi'iyah. Sebelumnya tahun 1960, ia sudah mulai mengajar sebagai guru agama. Ustadzah asli Betawi ini, mengikuti jejak ayahnya menjadi pendidik dan mubalighat. Ia yang sejak usia 9 tahun sudah fasih membaca Al-Quran, dan menjabat sejak tahun 1960 Ketua I Yayasan Perguman Tinggi As-Syafi'iyah (YAPTA), Wakil Rektor I Universitas Islam As-Syafi'iyah Jakarta, Ketua I Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS), Ketua Umum Yayasan Al Hurriyah. Di tingkat kenegaraan, ia pernah menjabat sebagai Menteri Sosial.

Dibawah naungan Yayasan Perguruan As-Syafi’iyah yang didirikan ayahnya tahun 1993,   membangun Pesantren Putra Putri, Yatim, Pesantren Tinggi Darul Agama, Sekolah Tinggi Wiraswasta, serta Universitas Islam Syafi’iyah.  Tutty sangat aktif dibidang dakwah, sosial dan pendidikan. Sebelum meninggal dunia (2016), Tutty sempat menjabat Rektor Universitas Islam As Syafi’iyah (UIA). Dalam masa hidupnya, Tutty banyak mengikuti berbagai acara ceramah, diantaranya MAWA (Malaysia Association of Western Australia) di Perth Australia, berceramah di Kerajaan Brunei Darussalam tahun 1987 dan 1988, menjadi pembicara di forum Perdana AHWAL ISLAM di Johor Bahru Malaysia tahun 1997 dan juga menjadi pembicara di Tabligh Akbar Hijriah di Stadium Negara Singapore.

Mantan Menteri Negara Peranan Wanita (Pemberdayaan Wanita) dalam dua periode pemerintahan, yaitu Kabinet Pembangunan VII (Masa Presiden Soeharto) dan Kabinet Reformasi Pembangunan Pembangunan (Masa Presiden B.J. Habibie).  Tutty aktif sebagai anggota MPR (1992-1997), (1999-2004), serta anggota Badan Pekerja MPR RI Ad Hoc II (1997/1998). Tutty adalah pendiri berbagai organisasi serta institusi Islam di Indonesia.  Pernah bergabung di ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), MUI (Majelis Ulama Indonesia), CIDES (Centre of Information and Development Studies), dan organisasi Islam lainnya.

Banyak karya yang dilahirkan oleh istri dari H.A. Chatib Naseh ini, diantaranya menerbitkan 30 buku seperti Wanita dalam Nuansa Peradaban, Strategi Dakwah di Majelis Taklim, Perempuan dan Mayarakat pembelajaran, yatim dan Masalahnya, Membangun Kesadaran Beragama, Bimbingan Manasik Haji, Woman in Islam dan lain lain.

Tuty memang ditakdirkan menjadi seorang pendakwah. Pengalamannya mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia  dianugerahkan gelar doktor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah dan gelar profesor dari Federation Al Munawarah, Berlin Jerman.