Tragedi Tabrakan Maut Jl. Ridwan Rais Jakarta Pusat (2012), Peristiwa

Peristiwa Tragedi Tabrakan Maut Jl. M. Ridwan Rais, Gambir  Jakarta Pusat terjadi pada hari Minggu pagi, 22 Januari 2012. Sebuah mobil Daihatsu Xenia warna hitam dengan nomer polisi B 2479 XI yang melaju kencang menabrak sejumlah pejalan kaki yang baru pulang dari berolahraga di kawasan Monas dan tengah berada di trotoar tepatnya di depan halte Tugu Tani yang berada di depan kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) sehingga mengakibatkan delapan orang pejalan kaki tewas seketika dan sisanya mengalami luka kritis. Peristiwa maut ini merupakan salah satu kecelakaan terburuk yang melibatkan kendaraan dengan pejalan kaki di trotoar sepanjang sejarah Jakarta.

 Berdasarkan keterangan polisi, dari arah Gambir hingga ke depan kantor Kemendag, mobil Xenia tersebut berada di tengah jalan. Namun tepat di depan kantor Kemendag, mobil tersebut tiba-tiba oleng ke kiri hingga naik ke trotoar dan menabrak sejumlah pemuda yang berjalan menuju arah Tugu Tani usai bermain futsal di Monas. Mobil kemudian menabrak tempat duduk Halte Tugu Tani dimana saat itu  terdapat rombongan keluarga dari Jepara yang tengah duduk menunggu bajaj sehingga terdapat korban yang terseret di bawah mobil hingga ke tempat parkir kantor Pelayanan Pajak. Di depan kantor Pelayanan Pajak, bagian badan samping kiri bagian belakang mobil menghantam hidran sehingga posisi mobil akhirnya terhenti dalam keadaan miring.

 Polisi menetapkan pengendara mobil Xenia, Afriyani Susanti ditetapkan sebagai tersangka dan dari hasil pemeriksaan diketahui Afriyani yang bekerja di industri hiburan ternyata terbukti tidak bisa mengendalikan mobilnya dengan baik setelah terpengaruh efek mengkonsumsi pil ekstasi dan minum alkohol sejak semalam sebelumnya. Mobil tersebut diperkirakan melaju kencang dengan kecepatan 89,28 km/jam sebelum menabrak pejalan kaki di trotoar.

 Atas perbuatannya tersebut, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 29 Agustus 2012 menyatakan Afriyani terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengemudikan kendaraan dengan cara atau dalam keadaan yang membahayakan nyawa orang lain. Afriyani  terbukti melakukan kelalaian dan melanggar Pasal 311 ayat 4 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Adapun majelis hakim PN Jakpus membebaskan Afriyani dari dakwaan primer, yaitu pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang kemudian menolak banding Afriyani. Pada 25 Maret 2013 Mahkamah Agung (MA) secara resmi menolak pengajuan kasasi kasus ini sehingga Afriyani Susanti tetap harus menjalani vonis 15 tahun penjara.