Tradisi Membakar Petasan, Nilai Budaya

Tradisi membakar petasan sering kita jumpai pada malam tahun baru dan hari lebaran. Pada awal tahun 2000-an, kepolisian dan Pemprov DKI Jakarta melarang tegas pembakaran petasan di seluruh wilayah Jakarta. Larangan tersebut membuat sebagian produsen dan pedang petasan dirugikan pada malam tahun baru dan malam lebaran. Dalam masyarakat Betawi sendiri, tradisi membakar petasan bukan hanya sekedar untuk bermain. Masyarakat Betawi sendiri membakar petasan untuk keperluan upacara khitanan, perkawinan, dan terkadang untuk pemberangkatan jemaah haji. Tidak hanya masyarakat Betawi yang memiliki tradisi membakar petasan. Orang Cina pinggiran Jakarta juga masih ada yang melakukan pembakaran petasan untuk ritual Sin Cia dan Cap Go Meh. Pelarangan tradisi membakar petasan ini dilakukan seiring banyaknya korban berjatuhan akibat bermain petasan sembarangan. Tradisi membakar petasan juga menjadi ajang pertunjukak keberanian seseorang memegang petasan besar sebelum meledak dan dilemparkan. Petasan yang dibakar pun beragam jenisnya, dari yang ukuran kecil sejari kelingking yang disebut petasan cabe rawit hingga seukuran buah kelapa yang dikenal sebagai petasan teko.

Pada masa kolonial, tradisi membakar petasan ramai dilakukan. Khusunya pada hari Natal, Tahun Baru, Lebaran dan di beberapa hari ritual masyarakat Cina Betawi. Tradisi membakar petasan menunjukkan prestige seseorang. Semakin banyak sampah bekas bakaran petasan di rumahnya, semakin dianggap kaya atau semakin panjang petasan yang dibakar dan semakin menunjukkan kemampuan modal membeli petasan. Pada masa itu juga sudah ada pelarangan, namun tetap saja masih ada yang melakukan tradisi tersebut. Kondisi tersebut sama dengan saat ini, pelarangan pembakaran petasan namun masih banyak yang tetap melakukannya.