TRADISI LELANG PERABOT, GARAGE SALE, FACTORY OUTLET DAN KARUNGAN, NILAI BUDAYA

Lelang merupakan suatu cara para pejabat Kolonial menjual barang-barang di rumahnya ketika mereka harus pulang ke Belanda atau dimutasi ke daerah lain. Cara ini sudah dilakukan sejak akhir abad ke-18 hingga abad ke-20. Tradisi ini meneruskan yang sudah ada sebelumnya. Para pejabat tidak perlu repot mengurus lelang perabot rumahnya karena ada makelar yang mengurus. Namun sering kali, masih ada pejabat yang melakukannya sendiri. Hingga abad ke-20 masih dilakukan lelang perabot karena disebabkan oleh sulitnya alat transportasi untuk mengangkut perpindahan barang-parang para pejabat tersebut.

Selain lelang, tradisi lain berupa garage sale yang biasa dilakukan oleh para ekspatriat untuk menjual perabot atau barang-barang pribadinya di bagasi mobil. Pada tahun 1970-an, kegiatan ini menjadi trend berebut mengunjungi garage sale yang digelar di pinggir jalan raya. Kegiatan ini menjadi marak diserbu pembeli karena barang import belum banyak yang masuk ke Jakarta. Para ekspatriat menjadikan situasi ini untuk menjual barang-barang miliknya yang belum ada di Jakarta. Pengunjung garage sale dari berbagai kalangan, dari mulai tukang loak hingga masyarakat menengah ke atas pun ikut serta menjadi pengunjung garage sale.

Memasuki tahun 1980-an, semakin maraknya industri dan kemudahan barang import. Kegiatan ini mulai ditinggalkan dan menjadi hilang. Pada tahun 1990-an mulai bermunculn factory outlet dan distro yang menyediakan pakaian merek terkenal dunia dengan harga terjangkau. Barang-barang tersebut merupakan barang sisa ekspor, barang reject, barang yang sudah tidak laku dan barang-barang tiruan produksi lokal.