Tortor Cawan Atau Tortor Sawan, Seni Tari

Tari Cawan atau Sawan adalah salah satu jenis tari Tor-Tor asal Batak, Sumatera Utara, yang ditampilkan dalam acara pembukaan perhelatan olah raga Asian Games 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sekitar dua puluh orang penari perempuan dalam balutan tenun Batak menari di atas panggung, dengan membawa lima buah cawan putih di kedua tangan dan kepalanya. Acungan jempol patut diberikan kepada para pekerja seni yang mempunyai ide untuk menampilkan tarian ini, karena sifat sakral dan aturan ketat dalam masyarakat Batak membuat Tari Tortor Cawan jarang dapat disaksikan oleh khalayak ramai.

Menurut legenda masyarakat Batak Toba, Tari Tortor Cawan berasal dari seorang raja Batak yang merupakan keturunan tarombo Guru Tatae Bulan. Dalam mimpinya raja melihat bahwa Gunung Pusuk Buhit akan mengalami keruntuhan. Tersadar, sang raja Batak kemudian memanggil panglima untuk menafsirkan arti dari mimpi tersebut. Panglima menyarankan agar raja memanggil dukun wanita (SibasoBolon) karena ia tak memahami makna mimpi sang raja. Sibaso Na Bolon Panurirang Pangarittari, dukun perempuan yang masih perawan, bersama enam orang perempuan lainnya kemudian melakukan ritual untuk menangkal hal-hal buruk, dengan membawa cawan atau sawan (mangkuk) di atas kepala disertai alunan gondang Batak. Percikan air dari ketujuh gadis mengitari sepanjang sisi desa sambil menari untuk mengusir roh-roh jahat. Dalam budaya masyarakat Batak, tarian ini tergolong sakral sehingga sejak dulu hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti pengukuhan raja atau acara sakral lainnya, dan sampai saat ini aturan tersebut masih ditaati oleh masyarakat Batak.

Tari Tortor Cawan atau Sawan terdiri dari beberapa jenis yaitu Tortor si Sada Sawan (Tortor Satu Cawan), Tortor si Tolu Sawan (Tortor Tiga Cawan), Tortor si Lima Sawan (Tortor Lima Cawan), dan Tortor si Pitu Sawan (Tortor Tujuh Cawan). “Tortor si Sada Sawan” atau Tortor Pangurason (penyucian), biasanya digelar pada saat acara besar akan dilaksanakan. Penari memercikkan air yang ada di dalam cawan ke seluruh lokasi pesta supaya jauh dari marabahaya dan acara dapat berjalan dengan lancar. “Tortor si Tolu Sawan” atau Tortor pengukuhan biasanya digelar pada saat seorang putri batak akan ditemani oleh namborunya. Orang yang menarikan tortor ini harus boru penguasa Danau Toba seperti boru Silalahi, boru Siraja Oloan, dan boru Penguasa Danau Toba yang lain. “Tortor si Lima Sawan” biasanya digelar pada saat seorang putri akan ditemani oleh namborunya boru Parna. Orang yang menarikan Tortor ini adalah boru Oppung dari Pusuk Buhit. “Tortor si Pitu Sawan” adalah tarian tentang turunnya tujuh bidadari di salah satu telaga di Gunung Pusuk Buhit dengan membawa tujuh cawan beserta tatanan kehidupan. Tortor si Pitu Sawan biasanya ditampilkan di hadapan raja-raja, presiden, gubernur, dan orang yang memiliki kedudukan di sebuah negara. Pada saat ini Tortor Cawan atau Sawan  sudah mulai ditampilkan dihadapan seluruh kalangan masyarakat untuk lebih memperkenalkan budaya Batak, dan melestarikan tariannya itu sendiri.

Tari Tortor Cawan mengandung “umpasa” (puisi rakyat Batak Toba), dan sebelum tarian dimulai raja Parhata terlebih dahulu mengutarakan umpasa. Gerakan Tortor Cawan dimulai dengan Tortor Mula-mula dan Tortor Somba sebagaimana jenis tari Tortor lainnya. Menurut kepercayaan orang Batak, sebelum melakukan sesuatu terlebih dahulu harus berdoa dan memberi penghormatan terhadap raja dan roh leluhur, serta alam semesta agar senantiasa mendapat perlindungan. Kedua gerak pembuka merepresentasikan hal ini. Ada satu gerakan yang pantang dilakukan dalam menari Tortor, apapun jenisnya, yaitu mengangkat tangan melewati batas bahu ke atas karena si penari dianggap arogan dan tidak hormat kepada segenap hadirin, serta menantang ilmu perdukunan dan kebatinan. Penari Tortor Cawan harus seorang yang handal karena mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Ia harus dapat mempertahankan keseimbangan kelima cawan yang diletakkan di bagian kepala, serta pundak dan siku kedua tangannya, ketika bergerak kesana-kemari dengan variasi melompat dan menghentakkan tangan. Interaksi dengan musik juga harus dijaga dengan baik, agar Tortor Cawan yang dibawakannya dapat tampak menggetarkan, menantang, dan eksotik. Bukan hanya keterampilan dan latihan yang dibutuhkan, tetapi juga kekuatan dan kesucian jiwa, serta pakem yang harus dipatuhi karena sifat sakral tariannya. Penari Tortor Cawan biasanya memiliki garis keturunan dari penari sebelumnya. 

Penari mengenakan pakaian tradisional Batak, berupa “kemben” di bagian dalam dan “ulos” yang diselempangkan di kedua bahu, dengan bawahan kain panjang hingga sebatas mata kaki, serta ikat pinggang berbahan kain tenun. Kepala mengenakan penutup khas Batak. Properti tari berupa cawan atau mangkuk porselen Cina berwarna putih dengan diameter berbeda yaitu antara 2,5 - 6 cm. Cawan yang digunakan memiliki arti masing-masing, yaitu (1) Cawan pertama bermakna kesucian; (2) Cawan kedua kebijakan; (3) Cawan ketiga kekuatan; (4) Cawan keempat peradaban; (5) Cawan kelima kehidupan sosial: (6) Cawan keenam budaya; dan (7) Cawan ketujuh kesaktian. Musik pengiring Tortor Cawan adalah tetabuhan semacam gendang besar mirip bedug yang disebut “gondang” dan berjumlah sembilan sehingga disebut Gondang atau Gordang Sembilan. Alat musik Gondang dibedakan menjadi “godang sabangunan” atau gondang bolon, dan “gondang hasapi” atau uning-uningan. Saat ini gondang sabangunan yang lebih sering digunakan untuk mengiringi Tortor Cawan. Instrumennya antara lain taganing, gordang bolon, sarune bolon, ogung (gong), dan odap.