Tor Tor, Seni Tari

Tor-Tor adalah tarian tradisional etnis Batak Mandailing, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang juga dijumpai di daerah Humbang Hasundutan, Toba Samosir, dan Samosir. Awalnya tari Tor-tor hanyalah pelengkap “gondang” dalam pelaksanaan upacara adat. Saat gondang atau uning-uningan dibunyikan (“margondang”) akan langsung diikuti dengan acara “manortor” atau menarikan Tor-tor. Kata Tor-tor sendiri berasal dari suara hentakan kaki para penari di atas papan rumah adat Batak. Pada masa kolonial Belanda tarian ini menjadi hiburan bagi para raja, tetapi  secara tersembunyi sebenarnya merupakan bagian dari perlawanan terhadap tentara Belanda. Ada bunyi tertentu yang ditabuh sebagai tanda kedatangan serdadu Belanda. Ketika gondang dibunyikan, masyarakat diminta untuk mengungsi, dan bunyi lain meminta masyarakat untuk kembali ke kampung. Tahun 2012 masyarakat Indonesia sempat tersentak ketika muncul isu pengklaiman Tari Tor-tor oleh negara lain. Saat ini Tari Tor-tor juga terpilih menjadi bahan pelatihan di beberapa RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di Jakarta bersama dengan tari Betawi lainnya.

Tari Tor-tor awalnya hanya ada beberapa jenis yang semuanya berkaitan dengan upacara adat, di antaranya Tor-tor Pangurason, Tor-tor Sipitu, dan Tor-tor Tunggal Panaluan. Tor-tor Pangurason merupakan tari pembersihan, biasanya digelar pada saat pesta besar. Tari Tor-tor Sipitu Cawan atau Tari Tujuh Cawan digelar saat pengukuhan raja. Tor-tor Tunggal Panaluan adalah tarian ritual yang biasanya digelar apabila sebuah desa mendapat musibah, dibawakan oleh para dukun untuk mencari petunjuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu tari Tor-tor juga dilakukan dalam upacara kematian. Dalam perkembangannya “manortor” juga dilakukan pada acara-acara hiburan termasuk resepsi pernikahan. Penyelenggaraan pestanya atau “Horja Godang” biasanya cukup besar, karena harus mengumpulkan pranata adat dan mengikuti rangkaian upacara yang bisa memakan waktu satu sampai tujuh hari, sejak pagi hingga malam. Saat ini berpesta menggunakan alat musik tradisional Batak atau “margondang” secara konseptual terbagi menjadi tiga, yaitu (1) Margondang pesta, kegiatan yang menyertakan gondang untuk mengungkapkan kegembiraan atau sebagai media penggembira, misalnya “gondang naposo”, “godang mangompoi jabu” (memasuki rumah), dan gondang pembangunan gereja; (2) Margondang adat, kegiatan yang menyertakan gondang sebagai aktualisasi dari sistem kekerabatan “dalihan na tolu”, antara lain “gondang pangolin anak” (perkawinan), “gondang saur matua” (kematian), “gondang mamampe marga” (pemberian marga); (3) Margondang religi, dilakukan setiap upacara keagamaan penganut Batak purba, misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak.

Dalam upacara adat perkawinan yang disebut “horja haroan botu” (pesta kedatangan pengantin di kediaman laki-laki), manortor baru boleh ditarikan setelah selesai penyampaian pidato adat (maralok-alok). Manortor dalam suatu pernikahan adat tidak boleh dilakukan berpasangan laki-laki dan perempuan kecuali saat “Tortor naposo nauli bulung” (Tortor muda-mudi), tetapi dengan syarat penari berasal dari marga yang berbeda. Tarian dimulai saat pengantin mulai memasuki tempat pesta (adat na gok). Pengantin berdiri bersama keluarga pihak laki-laki di pintu masuk. Kemudian pihak keluarga perempuan (hula-hula) dipanggil  untuk memasuki ruangan diikuti para tamu undangan, diiringi musik sambil menyalami pengantin dan keluarganya. Tidak lama seluruh keluarga akan manortor, baik pihak boru-boru (pihak isteri), hula-hula (pihak marga pemberi isteri), maupun dongan sabutuha (kerabat semarga). Keunikan manortor adalah tidak adanya panortor (penari) khusus, semua orang bisa menari bersama sehingga terkesan meriah dan intim. Namun setiap orang yang hadir dalam pesta pernikahan adat harus mengetahui posisinya masing-masing saat tari Tor-tor berlangsung. Pada upacara adat pernikahan Batak Toba ada dua kelompok manortor berbaris, di sebelah kanan adalah pihak hula-hula dan di sebelah kiri pihak boru, sedangkan tamu undangan yang hadir akan ikut manortor dalam beberapa kelompok.

Gerakan Tari Tor-tor yang wajib dilakukan dalam upacara atau pesta adalah sebagai berikut:

  1. Tor-tor Mula-mula. Menggerakkan badan dan anggota tubuh secara ekspresif (“mangurdot”) yang dilakukan saat terdengar suara “sarune” (alat musik tiup khas Batak Toba). Setelah itu menaikkan tangan hingga posisinya di depan ulu hati, lalu diturunkan perlahan, dan kembali dilipat ke arah depan perut. Gerakan ini melambangkan hati yang bersih, tulus, dan ikhlas, untuk mengawali setiap hal, agar mendapat berkat dari Yang Maha Kuasa. Juga sebagai bukti tunduk kepada Penguasa langit dan bumi, serta memohon ijin untuk mengadakan acara adat.
  2. Tor-tor Somba. Mangurdot saat sarune berbunyi kemudian tangan dinaikkan hingga depan ulu hati, lalu posisi tangan atau jari tangan naik lagi dengan gaya tangan menyembah di depan dahi tetapi tidak rapat, dan kepala sedikit menunduk. Tangan secara perlahan diturunkan kembali hingga depan ulu hati, berhenti sebentar lalu diturunkan lagi dan kembali dilipat di depan perut. Gerakan ini melambangkan penghormatan terhadap raja dan roh leluhur, serta alam semesta agar senantiasa mendapat perlindungan.
  3. Tor-tor Mangaliat/Liat-liat. Gerakan tangan sudah lebih bebas, tangan terbuka sejajar bahu atau dada. Khusus untuk perempuan, satu tangan di depan pinggang dan satu lagi di ulu hati bergantian diayun. Gerakan tangan ini melambangkan sifat dan karakter perempuan Batak yang penyabar serta sayang terhadap keluarganya. Dalam gerakan ini ada posisi telapak tangan terbuka yang bermakna meminta berkat dan memberi berkat.
  4. Tor-tor Hasahaton/Sitotio. Gerakan mengangkat ulos dan mengibaskannya ke udara sambil berucap “Horas” 3 kali yang bermakna sudah diterimanya berkat. Kata Horas tiga kali mengandung arti gabe, sangap, dan mamora (berketurunan, sehat, dan berkecukupan) yang dapat disimpulkan apabila sudah memiliki ketiganya berarti selamat dalam segala hal.

Busana yang sama dikenakan dalam acara adat atau pesta dan manortor sekaligus, yaitu jas untuk laki-laki serta kebaya atau baju pesta lainnya untuk perempuan. Ulos, selendang khas Batak, diselempangkan di bahu. Ulos bagi orang Batak merupakan lambang kesakralan, persembahan, dan juga pemersatu. Jenisnya berbeda-beda tergantung acara yang akan dihadiri. Ulos memiliki warna benang dasar putih (suci), merah (kehidupan), dan hitam (hukum/kematian). Musik pengiringnya adalah tetabuhan semacam gendang besar mirip bedug berjumlah sembilan sehingga disebut Gondang atau Gordang Sembilan. Dalam rombongan pemusik ada seorang “maronang-onang” (lelaki yang melantunkan syair) menyenandungkan tentang sejarah seseorang, doa, atau berkat, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pihak penyelenggara acara.