Topeng Tumenggung Gaya Slangit, Seni Tari

Topeng Tumenggung Slangit sebenarnya adalah rumpun tari Topeng Cirebon yang diciptakan oleh dalang topeng Sudjana Ardja dari desa Slangit. Setelah tidak lagi menjadi kesenian keraton, tari Topeng Cirebon menyebar ke berbagai wilayah hingga ke Jawa Tengah, dan masing-masing mempunyai ciri khas termasuk gaya Slangit. Tari Topeng Gaya Slangit tergolong tari topeng babakan, yang ceritanya diambil dari cerita-cerita Panji dan dipentaskan secara terpisah atau per babak. Tari Topeng Tumenggung berdurasi ± 15 menit ini mengisahkan tentang Tumenggung Magangdiraja yang diutus oleh Raja Bawarna untuk mencari Jingga Anom, yang lama tidak membayar upeti dan tiba-tiba menghilang. Saat berhasil menemukan Jingga Anom, Tumenggung Magangdiraja langsung memintanya untuk membayar upeti, namun mendapat penolakan sehingga terjadi perang dan Jingga Anom berhasil ditaklukan.

Bentuk penyajian tari Topeng Tumenggung Gaya Slangit terdiri dari 3 tahap: (1) Dodoan dengan 11 ragam gerak yaitu pasangan, sebrakan, mincig putar gleyong, adeg-adeg mincig jarang, jangkungilo, incek miring, cikalong angka delapan, klepat dua tangan, nindak tiga miring, ngayun jarang tangan satu, dan terakhir kode tanjak; (2) Unggah Tengah yang memiliki 7 ragam gerak yaitu gedig, capang banting tangan, jangkungilo maju, pakbang ngayun tangan dua, incek meneng banting tangan, sepak soder, adu bapa, dan nindak ambil kedok; (3) Deder/Kering Tilu dengan 14 ragam gerak yakni capang bawa kedok, incek meneng bawa kedok, puter ules, incek meneng ukel ules, banting tangan tumpang tali, pakbang maju mundur, incek miring 2, incek jalan, tumpang tali kanan kiri, ngayun tangan dua, pakbang gede, ayun tangan satu, ngincig soder, dan hormat buka kedok.

Gaya khas tari Topeng Tumenggung gaya Slangit adalah detail pada gerakan, berupa susunan atau perubahan yang sangat halus saat melakukan perpindahan gerak tarian. Gaya serta  gerakan bahu dan pinggang yang kuat, gesit, detail, serta harmonis. Setiap perpindahan gerak diiringi lagu yang berbeda, yaitu Tumenggungan untuk tahap dodoan, Waledan pada tahap Unggah Tengah, dan Barlen untuk mengiringi tahap Deder/Kering Tilu. Ciri khas lainnya adalah gerak “sepak soder” yang dilakukan dengan cara menginjak soder (selendang) menggunakan kaki, kemudian soder di buang ke belakang. Musik pengiring tari Tumenggung Gaya Slangit terdiri dari Bonang, Kendang, Saron I, Saron II, Penerus, Kenong, Gong, Kecrek, Suling, Kebluk, dan Tutukan.

Busana penari Topeng Temanggung merupakan perpaduan gaya bangsawan feodal dan kolonial. Secara umum tidak banyak perbedaan di antara berbagai rumpun tari Topeng Tumenggung Cirebon yang ada, hanya pada penutup kepala dan gulu kra saja. Penutup kepala pada gaya Losari hanya berupa ikat kepala (destar) tanpa topi, dan penari juga tidak mengenakan gulu kra serta dasi.

Bagian kepala berupa peci bendo (destar), topi, dan kacamata. Bendo bermotif batik dalam bentuk siap pakai. Topi berwarna hitam dengan ornamen karpatu warna perak, bagian atas bolong, sedangkan bagian depan  menjorok, dan terdapat semacam pita warna emas yang mengelilingi topi. Kacamata berlensa bening dengan frame biasa, natural tanpa sentuhan artistik berlebihan. Bendo menjadi simbol kebangsawanan di masa kolonial, topi memperlihatkan pengaruh barat, dan kacamata sebagai simbol kecerdasan.

Tubuh bagian atas mengenakan gulu kra (kemeja), dasi, baju kutung, kace, dan krodong. Gulu kra atau klambi gulu adalah kain berwarna putih yang dibuat menjadi potongan kemeja, bagian depan berbentuk segi empat memanjang ke bawah (dari bahu hingga pusar) dengan aksen kraag berdiri, dan bagian belakang menyerupai potongan jas yang dicowak. Dasi berwarna hitam, bagian atas cenderung mengerucut dan bagian bawah melebar dengan ujung berbentuk huruf V (mirip dasi anak sekolah sekarang). Di bagian tengah dasi terdapat tiga buah broach warna perak disusun memanjang ke bawah sebagai hiasan. Baju kutung lengan pendek dengan hiasan biku-biku warna emas bermotif segitiga melingkar di kedua ujungnya. Hiasan ini merupakan pengganti kelat bahu. Warna baju bisa hitam atau merah. Kace dikenakan di bagian depan, berbahan batik warna coklat muda, bermotif lokcan. Krodong adalah kain batik bermotif lokcan yang dikenakan hanya untuk menutupi tubuh bagian belakang penari sebatas bahu hingga panggul. Lokcan adalah motif burung hong (phoenix) yang digayakan sebagai simbol kebajikan, prestasi, dan keabadian. Klambi gulu dan dasi bermakna kecerdasan, sedangkan baju kutung dan kace sebagai simbol kebangsawanan di masa feodal (Mataram I & II).

Tubuh bagian bawah berupa celana sontog, sinjang (kain), soder (selendang), tutup rasa atau katok, serta ampok. Celana sontog, panjangnya sebatas lutut, sewarna dengan baju kutung dan diberi hiasan semacam pita warna emas di bagian ujung kaki. Sinjang adalah kain batik bermotif mega mendung yang dibentuk menyerupai dodot dengan gaya lancar cangcut. Tutup rasa (katok) terbuat dari kain beludru sebagai modifikasi badong (ikat pinggang logam), dengan hiasan potongan-potongan pendek kain beludru berornamen sulur-sularan dan teratai. Ampok adalah penutup tubuh bagian depan antara pinggang dan lutut. Busana yang menutupi tubuh bagian bawah merupakan simbol kebangsawanan feodal.

Aksesori yang dikenakan berupa kalung, gelang, dan keris berbentuk ladrangan yang diselipkan di pinggang belakang. Properti wajib tari Topeng Tumenggung adalah kedok dan ules. Kedok atau topeng tokoh Tumenggung berwarna kembang terong muda atau dadu pelang, wajahnya memperlihatkan sifat gagah dengan mata terbelalak dan kumis sebagai simbol dari kemauan keras, ambisius, serta berani karena benar. Dalam filosofi Islam, tokoh Tumenggung menggambarkan manusia yang telah mencapai tingkatan tarekat, dimana tingkah lakunya sehari-hari mengacu pada Al Qur’an, sunnah dan hadist, bersikap tegas serta konsekwen. Ules merupakan kain penutup topeng, biasanya warna ules disesuaikan dengan warna baju penari. Tata rias dalam tari Topeng Tumenggung adalah rias korektif, yang dimaksudkan untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh/peran dalam tarian. Riasan harus dapat memperkuat ekspresi dan penampilan, agar menyerupai orang berstatus sosial tinggi sesuai dengan derajat kebangsawanan seorang Tumenggung, sebagaimana yang disimbolkan melalui pemakaian dasi, topi, dan kalung.