Topeng Losari, Seni Tari

Tari Topeng Losari sebenarnya adalah tari Topeng Cirebon yang tumbuh dan berkembang di wilayah Cirebon bagian timur. Tari Topeng Cirebon gaya Losari yang kerap disebut tari Topeng Losari, diciptakan oleh Panembahan Losari atau Pangeran Losari Angkawijaya. Beliau adalah keturunan dari Kesultanan Cirebon yang memilih hidup di luar tembok keraton dan akhirnya menetap di Desa Losari Kidul, Kecamatan Losari. Tari Topeng Cirebon sendiri diciptakan oleh Sunan Gunung Jati yang awalnya menjadi kesenian keraton, namun dalam perjalanannya kemudian dijadikan media dakwah Islam. Sepeninggal Sunan Gunung Jati, pada masa pemerintahan Pangeran Seda ing Gayam, pemerintah kolonial Belanda mulai mengusik ketenangan keraton hingga akhirnya saat itu terpecah menjadi tiga (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan). Kehadiran Belanda di Cirebon menimbulkan keresahan karena ikut campur di segala bidang termasuk keuangan keraton yang menjadi sumber penghidupan seniman keraton. Imbasnya para seniman topeng keraton terpaksa mberarang atau pentas keliling kampung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Setelah para seniman topeng menyebar ke berbagai wilayah Cirebon hingga perbatasan dengan Jawa Tengah, tari Topeng Cirebon kemudian berkembang sesuai dengan karakter daerahnya masing-masing, termasuk tari Topeng Losari.

Berbeda dengan tari Topeng Cirebon yang menggambarkan filosofi perkembangan watak manusia melalui topeng, tari Topeng Losari lebih menekankan pada ritual dan penokohan, dimana masing-masing tokoh dalam tari Topeng Losari menceritakan tentang kesinambungan ritual antara satu dengan lainnya yang dikemas dalam cerita Panji. Jenis dan urutan tari Topeng Losari pun tidak selalu sama, disesuaikan dengan tokoh atau lakon yang akan diceritakan, dan tiap tarian hanya dibawakan oleh satu orang penari. Dalam pertunjukan Topeng Losari, cerita yang diambil adalah cerita Jaka Buntek, Jaka Bluwo, Jaka Penjaring, Jaka Simping, Jaka Menyawak, dan Raden Panji. Ada sembilan lakonan atau babakan dalam tari Topeng Cirebon gaya Losari, yaitu Panji Sutrawinangun, Patih Jayabrada, Tumenggung Mayangdiraja, Jingga Anom, Klana Bandopati, Samba/Rumyang, dan Lakonan.

Topeng Panji, yang juga dikenal sebagai Manji atau Pamindo, mengambil tokoh Panji Sutrawinangun yang berwatak ksatria setengah lincah. Topengnya berwajah putri cantik bewarna putih, sedangkan topeng kedua atau Pamindo  berwarna kuning. Topeng Patih berwarna merah jingga menggambarkan watak gagah, mengangkat tokoh Panji Jayabadra dalam cerita Jaka Penjaringan atau Jaka Buntek. Warna topengnya sama seperti tokoh Tumenggung dalam tari Topeng Cirebon. Topeng Tumenggung berwatak gagah, disimbolkan dengan warna putih, mengambil tokoh Tumenggung Mayangdiraja. Tokoh Jingga Anom berwatak kasar,  disimbolisasikan dengan topeng berwarna merah muda atau jingga. Topeng Samba/Rumyang berwatak satria lincah, disimbolkan melalui warna coklat, dan ditarikan dengan iringan lagu Rumyang.

Tari Topeng Klana Losari yang sangat terkenal, mengambil tokoh wayang Prabu Klana Bandopati dari cerita Jaka Buntek dalam rangkaian kisah Panji. Tokoh Klana berwatak sangat kasar, kuat, dan gagah, berwujud muka raksasa buas seperti penggambaran tokoh Rahwana yang disimbolkan dengan topeng berwarna merah tua. Karakter kuat dari tokoh ini mengharuskan penarinya memiliki stamina yang cukup, karena gerak tarinya sangat dinamis, dan menitikberatkan pada penguasaan intensitas tenaga yang menyatu dalam penjiwaan karakternya. Tari Topeng Klana Bandopati menggambarkan sifat manusia yang sombong dan penuh angkara murka, sebagaimana ekspresi mata melotot serta warna merah tua pada topeng. Tarian ini mengingatkan penontonnya untuk tidak mencontoh manusia dengan karakter seperti Prabu Klana Bandopati yang sangat jahat.

Tari Topeng Losari menampilkan kombinasi gerakan yang keras dan lembut dalam setiap gerak tarinya sebagai penggambaran dua sisi manusia serta kehidupan. Sekeras-kerasnya sikap seseorang pasti ada sisi lembut dalam dirinya. Begitu juga segala sesuatu yang ada di dunia, selalu ada keseimbangan antara keras dan lembut. Gerak tari Topeng Losari memiliki beberapa ciri spesifik, antara lain: (1) gaya gakong, yaitu gerakan badan melenting ke belakang seperti kayang dalam senam; (2) gantung sikil, mengangkat kaki kanan hingga dada dan memperlihatkan telapak kakinya ke samping. Sikap gantung sikil ini mirip dengan arca Dewa Siwa sebagai Nataraja dari India; (3) pasang naga seser atau sikap kuda-kuda; (4) menutup mata mengikuti irama musik selama menari, karena pada topeng Losari bagian matanya tidak diberi lubang. Keunikan lain adalah penggunaan topeng-topeng tokoh lain yang memperkaya khasanah tari Topeng Losari, antara lain topeng Sena yang berwarna hitam, Togog berwarna biru keputih-putihan, Raja berwarna putih, Baladewa berwarna merah muda, dan Dursasana yang mirip dengan topeng Klana tetapi janggut dan kumisnya lebih tebal, serta topeng tokoh pendeta yang berwarna putih. Musik pengiring tari Topeng Losari adalah gamelan bernada (laras) pelog dan slendro.

Busana penari Topeng Losari terdiri dari gambuh, kedok, baju kutung, gantung, soder (selendang), celana, lancaran basah, ikat pinggang, kembang terate, konca, kalung, gelang tangan, dan kelat bahu. Aksesori khusus yang dikenakan masing-masing tokoh adalah gempeng untuk Pamindo, dan iket untuk tokoh Patih, Jingga Anom, Samba, serta Tumenggung. Gelang keroncong (gelang kaki pakai gengge/genta kecil) untuk tokoh  Pamindo, Samba, Patih, Tumenggung, dan Klana. Keris di bagian depan untuk tokoh Jingga Anom, Tumenggung, dan Klana, sedangkan keris di bagian belakang untuk tokoh Panji/Pamindo, Patih dan Samba/Rumyang. Kain batik yang dikenakan penari Topeng Losari bermotif liris atau parang yang merupakan khas Cirebon perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kerodong yang dikenakan berupa batik bermotif lokcan, gambar burung hong (phoenix) yang digayakan, melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian, biasanya dipadukan dengan motif flora dan fauna atau bebatuan. Selendang sutera motif lokcan merupakan kesatuan dari mantra-mantra dan 7 macam puasa yang harus dilakoni oleh penari Topeng Losari.

Tidak semua orang bisa membawakan tari Topeng Losari, hanya mereka yang mempunyai garis dalang (keturunan langsung) Panembahan Losari, dan lolos melakoni semua penari topeng. Ritual tidak hanya dilakukan sebagai syarat kelulusan seorang penari topeng, tetapi juga wajib dilakukan saat akan melakukan pentas. Ritual yang harus dilakukan antara lain mutih gedang (puasa makan pisang), puasa rawit (berbuka puasa dengan makan cabai rawit), putih geni (puasa tidak makan dan tidak tidur), puasa wuwungan (selama berpuasa di kurung di dalam kamar tanpa ada yang mendatangi), dan puasa sedawuh (puasa sampai jam 12 siang).