Topeng Jentrik, Seni Tari

Tari Topeng Jentrik adalah salah satu tari kreasi tradisional Betawi yang bersumber dari tari Topeng Betawi. Tari ini diciptakan oleh Kiky Merry Susanti, berkolaborasi dengan Syarifudin sebagai penata musik, serta Sri Yani sebagai penata rias dan busana. Dalam tarian ini digambarkan fase kehidupan seorang perempuan di lingkungan masyarakat Betawi, sejak proses kelahiran kemudian tumbuh besar dan mulai menginjak tanah. Dunia anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan tingkah laku serba lucu, hingga memasuki fase remaja yang merupakan tahap pencarian identitas diri. Serba ingin tahu, ‘gegayaan’ untuk mencari perhatian banyak orang, centil, dan selalu ingin tampil lebih cantik dari lainnya. Namun terlepas dari itu semua, seorang perempuan Betawi tetap teguh dalam memegang prinsip dan mampu bersikap tegas untuk mengatasi berbagai persoalan di dalam hidupnya.

Tari Topeng Jentrik mewakili Provinsi DKI Jakarta dalam ajang tahunan Parade Tari Nusantara yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Saat itu tarian ini dibawakan oleh 11 orang penari dari Sanggar Citra Nusantara. Proses kelahiran disimbolisasikan dengan adegan para penari dalam posisi duduk dibalik selembar kain putih, dan ada satu penari yang juga berlindung dibalik kain putih tetapi dalam posisi berdiri. Kemudian ada dua penari yang maju ke tengah panggung dengan mengenakan topeng berwarna putih bersih, hanya ada mata yang tidak terbuka lebar, hidung, dan mulut, tanpa guratan lain. Topeng in merepresentasikan kebersihan dan kesucian bayi yang baru dilahirkan. Lagu dan musik jenaka yang mengiringi kedua penari ini, dengan syair “bocah ngapa yak” menegaskan adegan anak-anak yang sedang bermain. Bahasa dan dialek yang menyertai adegan ini menggunakan bahasa Betawi pinggiran atau Betawi Ora. Setelah kembali ke panggung dan duduk membelakangi penonton bersama penari lainnya, tarian memasuki babak berikutnya yang mengisahkan tentang masa remaja seorang perempuan Betawi dengan segala gaya dan tingkah lakunya. Simbol fase ini adalah topeng berwarna merah muda keputihan dengan sedikit guratan berwarna hijau yang membingkai mata, hidung, serta mulut. Mata digambarkan terbuka penuh. Gerakan tariannya lincah, terpatah-patah dalam irama yang riang gembira tetapi agak cepat. Di bagian akhir tarian, topeng dilepas dan para penari melanjutkan tarian dalam irama yang lembut serta perlahan namun kemudian berubah menjadi gerakan yang agak tegas baik dalam gerakan maupun iringannya. Gerakan silat yang diperhalus tetapi dibawakan secara tegas seolah menyiratkan bahwa seorang perempuan Betawi mampu bersikap tegas dan teguh dalam memegang prinsip.

Penari mengenakan kebaya dan celana panjang yang ditutupi kain batik hingga menutupi tubuh bagian belakang, sedangkan bagian depan terbuka agar tidak mengganggu saat menari. Toka-toka silang menutupi bagian dada, ampreng tumpuk yang memanjang hingga di bawah lutut menutupi perut dan tubuh bagian depan. Andong untuk menutupi panggul dan tubuh bagian belakang panjangnya sedikit di atas lutut. Selendang disangkutkan di ikat pinggang sebagai aksesoris busana. Rambut dikonde cepol dan  mengenakan hiasan kepala.