TOPENG BLANTEK

Topeng Blantek hampir sama dengan Topeng Betawi terutama dari gaya teater, bedanya Topeng Blantek dimainkan tanpa pangung dan hanya menggunakan tanah lapang, dan tanpa layar untuk menggambarkan suasana. Pada awalnya, Blantek tidak menggunakan alat musik, kecuali tetabuhan sederhana, namun seiring perkembangannya Blantek menggunakan satu rebana biang, dua rebana anak, dan satu perkusi. Musik Gambang Kromong pun digunakan sebagai musik pengiring, seperti yang dilakukan oleh Panker Group, salah satu kelompok yang masih menampilkan pertunjukkan Topeng Blantek.

 

Menurut keterangan Marhasan, tokoh pelestari Topeng Blantek dari Panker Group, sebenarnya boleh dikatakan cikal bakal kesenian tradisional Betawi saat ini seperti gambang kromong, samrah, lenong dan lain sebagainya berawal dari Topeng Blantek. Minimnya dukungan pemerintah dan sepinya kegiatan pertunjukkan membuat kesenian Topeng Blantek nyaris tidak popular di tengah masyarakat.

 

Adapun mengenai asal-usul nama kesenian ini berasal dari dua suku kata, yaitu topeng dan blantek. Istilah topeng berasal dari Bahasa Cina di zaman Dinasti Ming. Kata ‘Topeng’ bukan mengacu pada arti topeng yang kita kenal dalam bahasa Indonesia dewasa ini, Topeng yang dimaksud berasal dari kata to dan peng. To artinya sandi dan peng artinya wara. Jadi topeng itu bila dijabarkan berarti sandiwara.

 

Sementara, untuk kata ‘Blantek’ ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari bunyi-bunyian musik yang mengiringinya, yaitu satu rebana biang, dua rebana anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, blang blang crek. Namun, karena lidah lokal ingin enaknya saja dalam penyebutan maka munculah istilah blantek. Pendapat lainnya mengatakan, asal nama blantek berasal dari bahasa Inggris, yaitu blindtexs, yang berarti buta naskah. Marhasan, permainan blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara dan hanya memberikan gagasan-gagasan secara garis besar pada cerita yang akan dimainkan.

 

Masih menurut keterangan Marhasan; surutnya kesenian Blantek juga dikarenakan adanya kesenian-kesenian tradisional Betawi lainnya seperti Lenong, Topeng Betawi, Samrah, Gambang Kromong dan lain sebagainya. Walau begitu, sebetulnya Topeng Blantek ini sempat berusaha dimunculkan kembali oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1972. Kesenian ini dikembangkan dan ditampilkan ke depan publik oleh Ras Barkah. Bersama Kelompok Si Barkah. Ras Barkah merekrut banyak pemain muda, dan tampil di berbagai festival. Ras Barkah pun melakukan pengembangan kesenian Topeng Blantek ke bentuk yang lebih sempurna, namun tidak meninggalkan keasliannya.

 

Kesenian ini sempat mencapai masa keemasannya ketika digelarnya festival pada 26-31 Mei 1994 selama lima hari berturut-turut atas kerja sama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan yayasan Seni Budaya Jakarta. Hanya saja, kondisi kesenian Topeng Blantek kian menurun. Upaya melestarikan topeng blantek mulai terkendala modal dan sulitnya mencari generasi penerus.

 

Kesenian Topeng Blantek memiliki kekhasan tersendiri, yaitu tiga sundung, alat pembawa rumput, dan satu obor. Sundung terdiri satu ukuran besar, duakalinya kecil, dan diletakan sebagai pembatas pelakon dengan panjak (pemain musik), juga para pelakon yang akan tampil. Sundung juga berfungsi sebagai properti lain dalam sandiwara konvensional, meja, bangku, tempat tidur, atau lainnya. Lebih penting lagi, sundung adalah simbol kerakyatan, dan identitas bahwa Blantek adalah seni teater masyarakat pedesaan Betawi. Adapun bentuk penampilannya, secara garis besar seperti berikut: Sebelum cerita dimulai, seluruh pemain masuk ke arena membawa tiga sundung, obor besar, dengan iringan musik. Semua berputar mengelilingi pentas dua kali. Lalu pemain berjejer, membentuk setengah lingkaran, berdiri di belakang sundung, Obor besar diletakan di tengah arena, dan pemain memberi salam.

 

Kemudian, Si Jantuk, lelaki bertopeng, yang berperan sebagai pembawa cerita masuk arena. Pertunjukan pun memasuki acara inti. Dalam pertunjukannya, Topeng Blantek bisa pula menyertakan Tarian Blenggo, yang gerakannya mirip silat. Biasanya ada pula atraksi debus, tapi hal ini bisa pula diabaikan, tergantung kreatifitas kelompok yang menampilkan.

 

Seperti umumnya teater rakyat kelas bawah, Blantek dimainkan tanpa teks. Pengatur lakon hanya memberi sedikit pengarahan, dan pelakon harus piawai berimprovisasi. Kemampuan berimprovisasi ditentukan seberapa besar kecerdasan alamiah sang pelakon. Tidak hanya itu, pelakon harus mampu menarasikan suasana dan mengalirkan informasi layar cerita, agar penonton terbawa ke alam imajiner yang dibangun sejak awal pementasan sampai akhir. Pelakon juga harus bisa berpantomim. Misal, saat adegan mengetuk pintu Blantek dimainkan dengan bahasa rakyat jelata. Cerita yang ditampilkan bisa apa saja, tergantung pengatur lakon. Tidak ada cerita baku, seperti dalam Lenong. Juga tidak ada nyanyian saat jeda. Blantek tidak memiliki lagu-lagu khusus, seperti umumnya kesenian teater Betawi lainnya.

 

Domain                       : Seni Pertunjukan

Lokasi Persebaran    : Kalideres, Jakarta Barat

Maestro                      : Marhasan, Jakarta Barat

Kondisi                       : Terancam punah

Sumber:
Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2016, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

138
Beri Penilaian untuk artikel ini