TOMMY WINATA ALIAS OE SUAT HONG, TOKOH

Bos Grup Artha Graha, Tommy Winata alias Oe Suat Hong, kelahiran Pontianak, 1958, salah seorang pengusaha sukses di negeri ini. TW, panggilan akrabnya, dikenal akrab dengan kalangan militer. Dia seorang yang ulet, memulai usahanya dari bawah, sejak remaja. Maklum, dia yatim-piatu, miskin. Tapi, kini dia seorang konglomerat yang sukses membangun imperium bisnis di bawah Grup Artha Graha.

Awalnya, 1972, pada usia 15 tahun, seseorang memperkenalkan TW kepada komandan rayon militer di Kecamatan Singkawang, Kalimantan Barat. Kemudian, buah perkenalan itu, TW dipercaya membangun kantor koramil di Singkawang. Sejak itulah hubungan bisnisnya dengan militer terus berlangsung, terutama dengan beberapa perwira menengah dan tinggi. Dia sering dipercaya mengerjakan proyek, mulai dari membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya dan di tempat-tempat lain seperti Ujungpandang dan Ambon. Keuletan dan kebersahajaan penampilannya yang jauh dari kesan mewah, perlente, tampaknya membuat mitra bisnisnya lebih mempercayainya.

Pada tahun 1988, Tomy bersama dengan Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP), yaitu Yayasan yang dimiliki oleh Angkatan Darat, melakukan penyelamatan terhadap Bank Propelat yang semula dimiliki oleh Yayasan Siliwangi. Bank Propelat yang ber-asset hanya sekitar Rp.8 Milyar tersebut di-rescue oleh Tomy bersama YKEP, dan diubah namanya menjadi Bank Artha Graha. Hanya dalam tempo tidak lebih dari 1,5 tahun, maka Bank Artha Graha menjadi baik dan sehat, yang kemudian terus dikembangkan.

Selanjutnya pada tahun 1997, sebelum krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Tomy diminta oleh Bank Indonesia untuk bersama-sama dengan Bank Indonesia menyelamatkan Bank Arta Pusara yang saat itu sudah diambilalih Bank Indonesia karena berbagai permasalahan-permasalahan yang ada dari pemilik sebelumnya. Nama Bank Arta Pusara kemudian diubah namanya menjadi Bank Arta Pratama, dan hanya dalam, kurun waktu sekitar 1 tahun, Bank Arta Pratama berubah menjadi Bank Katagori A menurut penilaian Bank Indonesia sehingga tidak direkapitalisasi.

Pada tahun 2003, Tomy mengambil alih PT Bank Inter-Pacific Tbk, dan selanjutnya pada tahun 2005 Bank Inter-Pacific melalui Pasar Modal mengambil alih Bank Artha Graha, yang selanjutnya diubah namanya menjadi Bank Artha Graha Internasional Tbk.(INPC.JK)

Salah satu usaha utama lainnya dari Tomy Winata adalah dalam sektor property dan infrastruktur. Melalui PT Jakarta Internasional Hotels and Development (JIHD.JK) Tomy memiliki Hotel Borobudur, dan melalui anak perusahaan yaitu PT Danayasa Arhatama Tbk (SCBD.JK) Tomy memiliki Kawasan Business District yang pertama dan terbaik di Indonesia, yaitu Sudirman Central Business District (SCBD) seluas 45 hektare yang terletak di jantung Jakarta. Salah satu icon SCBD adalah keberadaan Gedung Indonesia Stock Exchange, yang merupakan pusat Pasar Modal Indonesia. Pembangunan The Signature Tower setinggi 111 lantai akan mencapai ketinggian 638 meter dan menjadi gedung tertinggi ke 5 di dunia. Pembangunan The Signature Tower ini adalah untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia Bisa.[1] Tomy memiliki visi bahwa kawasan SCBD akan menjadi "Manhattan of Indonesia"

Di samping bergerak di bidang properti, bisnis TW juga meliputi perdagangan, konstruksi, perhotelan, perbankan, transportasi, dan telekomunikasi. Tommy Winata sendiri mengaku sudah 5 kali bangkrut di Kalimantan Barat, Papua, NTT dan di Jakarta. Kebangkrutan dihadapi dengan bijak sebagai pembelajaran. Tak kurang Dari 830.000 orang mengantungkan hidup pada perusahaan yang dibangunnya. Imperium usahanya sekurangnya terdiri atas 16 perusahaan.

Pria berdarah Taiwan ini memiliki sejumlah kapal pesiar dan ikut mengelola usaha pariwisata di Pulau Perantara dan Pulau Matahari di Kepulauan Seribu. Dalam kaitan ini, pada Mei 2000, dalam suatu acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta bersama Presiden Abdurrahman Wahid, ditenggarai di kapal pesiar dan Kepulauan Seribu itu ada judi besar-besaran. Sehingga Gus Dur bereaksi: “Tangkap Tomy Winata.” Tapi, saat pihak aparat, bahkan Komisi B (Bidang Pariwisata) DPRD DKI Jakarta melakukan inspeksi mendadak ke pulau itu, tidak ditemukan bukti sebagaimana yang dituduhkan Gus Dur. Ternyata, Pulau Ayer dikelola Pusat Koperasi TNI Angkatan Laut, bekerjasama dengan PT Global.

Namanya sering dikaitkan dengan mafia judi bersandi ‘Sembilan Naga’ yang beroperasi di berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Makao. Namun, sampai sekarang belum ada bukti hukum yang menegaskan bahwa ia adalah raja judi. Bahkan, kepada Majalah Forum, November 2001, TW menegaskan “Sejak dulu dan sampai hari ini, tidak ada bisnis saya yang bergerak di bidang perjudian. Semua usaha saya legal dan resmi.”

Orang-orang di sekitarnya juga malah menyebutnya sebagai “orang baik” yang suka menolong kaum miskin. Sikapnya ramah dan terbuka. Bicaranya lugas, humornya tinggi. Penampilannya jauh dari kesan perlente. Jarang memakai jas dan dasi, laiknya konglomerat. Ayah lima anak ini lebih suka memakai setelan safari lengan pendek berwarna gelap.

Belakangan Tommy Winata makin serius menggarap bisnis benih padi hibrida. PT Sumber Alam Sutera (SAS), anak perusahaan kelompok usaha Artha Graha, awal November 2006 menggandeng perusahaan China, Guo Hao Seed Industry Co Ltd. Kongsi ini akan menanamkan US$5 juta untuk membangun Pusat Studi Padi Hibrida (Hybrid Rice Research Center) di Indonesia yang ditargetkan beroperasi April 2007, bekerja sama dengan Badan Penelitian Padi (Balitpa) Departemen Pertanian. Penandatanganan nota kesepahaman terkait kerja sama antara PT SAS, Guo Hao, dan Balitpa, dilangsungkan Senin malam 13/11/2006, disaksikan Mentan Anton Apriyantonoyang dan dihadiri Tommy Winata. Nota kesepahaman tersebut diteken oleh Presdir Sichuan Guo Hao Seed Industry Co Ltd Jing Fusong, Presdir SAS Babay Chalimi, dan Kepala Balitpa Achmad Suryana.

Pembangunan pusat studi padi hibrida ini dapat digunakan untuk mengembangkan sejumlah varietas padi hibrida asal China yang diharapkan bisa meningkatkan produktivitas padi menjadi 8 ton-12 ton per hektare. Presdir SAS Babay Chalimi mengatakan sampai sekarang belum ada pusat penelitian padi hibrida di dalam negeri. Sedangkan China itu sudah sangat berpengalaman di bidang ini.

Salah satu usaha Tomy yang visioner, yaitu pembangunan "Jembatan Selat Sunda" (JSS), yang manakala terwujud akan memecahkan rekor dunia bagi panjang span jembatan. Jembatan yang menghubungkan antara Pulau Sumatra dan Jawa yang keduanya memberikan kontribusi 80% pada GDP Indonesia serta memiliki 80% populasi penduduk Indonesia, diyakini akan membawa banyak manfaat bagi peningkatan perekonomian, sosial, lapangan pekerjaan dan kesejahteraan bagi masyarakat di kedua pulau. Pada tahun 2009, Tomy beserta BUMD Provinsi Banten dan Lampung menyerahkan secara resmi Hasil Pra-Studi Kelayakan JSS kepada Pemerintah. Pembuatan Pra-Studi JSS tersebut sepenuhnya adalah biaya swasta. Selanjutnya Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2011, Konsorsium Banten-Lampung dan Artha Graha ditunjuk sebagai Pemrakarsa Proyek (Project Initiator). Konsorsium kemudian membentuk perusahaan patungan dengan nama PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) untuk melaksanakan penyusunan Studi Kelayakan JSS dam KSISS (Kawasan Strategis Infrastruktur Selat Sunda) sesuai Peraturan Presiden tersebut.

Proyek Jembatan Selat Sunda saat ini sudah berhasil diangkat dari titik awal yang dianggap sebagai proyek "impossible" dan "mimpi", menjadi proyek bangsa yang "almost possible" mendekati realisasi. Banyak negara besar yang sudah menyatakan komitmen dan minat bekerja sama membangun JSS. Tomy sebagaimana dikutip banyak media, selalu mengedepankan sikap merah-putih dan iklhas sepenuhnya jika ada pihak lain yang mampu dan mau membangun JSS / KSISS, yang penting adalah JSS terbangun bagi kemaslahatan masyarakat.

Selain berkecimpung dalam dunia usaha, Tomy juga sangat memperhatikan masalah sosial, kemanusiaan, dan lingkungan. Untuk mewujudkan hal ini, Tomy mendirikan Yayasan Artha Graha Peduli "Artha Graha Peduli Foundation" (AGP). Artha Graha peduli memiliki lima pilar kepedulian, yaitu: Membantu penanganan dini para korban bencana alam besar yang terjadi di Indonesia: Kegiatan Sosial Kemanusiaan dalam ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan; Kepedulian atas pelestarian lingkungan; Bantuan hukum dan Rumah Keadilan bagi masyarakat yang memerlukan.

Artha Graha Peduli seringkali hadir dan membantu di banyak bencana yang terjadi di Indonesia, yaitu diantaranya gempa dan tsunami Aceh, Meletusnya Merapi dan Gempa Jogjakarta, gempa bumi padang, bencana di wasior-Papua, meletusnya Gunung Lokon di Manado, meletusnya Gunung Rokatenda di NTT, berbagai banjir besar dan tanah longsor yang terjadi termasuk di Jakarta, berbagai kebakaran besar dan lainnya

Sejak sekitar tahun 1997, Tomy lebih banyak memfokuskan diri pada pelestarian lingkungan, salah satunya diwujudkan dengan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang merupakan kawasan konservasi hutan, satwa-liar seluas 45.000 hektare, dan kawasan cagar laut seluas 14.500 hektare. Lokasi TWNC adalah di ujung selatan pulau Sumatra. TWNC setidaknya telah melepas-liarkan 5 harimau sumatera. Pada awal 2012, Tomy melalui TWNC bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) menyelenggarakan Program Pasca-Rehabilitasi berbasis konservasi alam bagi ex korban narkoba. Program yang unik ini adalah pertama di dunia, dan mendapatkan perhatian serta apresiasi langsung dari Executive Director "UNODC" (United Nations of Drugs and Crime), Mr."Yuri Fedotov" yang telah berkunjung ke TWNC pada akhir 2012. Pada Maret 2013, Tomy Winata atas undangan UNODC, mempresentasikan program pasca rehabilitasi tersebut dihadapan Sidang Tahunan UNODC ke 54 di Vienna, Austria.

Kepedulian Tomy terhadap pelestarian lingkungan, juga diwujudkan dengan rencana pelestarian mangrove di Bali. Pada Maret 2013, di Madrid, Tomy dan Forum Peduli Mangrove - Bali  telah mengangkat "Cristiano Ronaldo" (CR7) pemain sepak bola ternama dunia untuk menjadi Duta Mangrove. Tomy dan Cristiano Ronaldo sepakat untuk melestarikan mangrove, khususnya di Bali.

Dapat dikatakan bahwa kegiatan sosial, kemanusiaan, kemasyarakatan dan lingkungan yang dilakukan Artha Graha Peduli adalah bukan hanya sekadar Corporate Social Responsibility dari Artha Graha Network, namun sudah jauh lebih besar dan lebih tinggi melampaui apa yang biasa dilakukan orang lain dalam tataran CSR.

 

PROFIL TOMY WINATA

Nama Lengkap : Tommy Winata

Alias  : Oe Suat Hong

Tempat Lahir : Pontianak, Kalimantan Barat

Tanggal Lahir : Senin, 21 Juli 1958

Zodiac  : Cancer

Warga Negara : Indonesia

Profesi  : Pendiri dan Pemimpin Grup Artha Graha

Agama  : Budha