Teten Masduki, Tokoh

Aktivis Teten Masduki diumumkan masuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Ia ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengisi posisi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Penunjukan Teten Masduki sebagai menteri diumumkan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10).

Sosok Teten Masduki sebenarnya telah berada di lingkaran dekat Jokowi sejak masa kampanye Pilpres 2014. Pria asal Garut, Jawa Barat ini lahir pada 6 Mei 1963. Terlahir dari keluarga petani, masa kecil Teten dihabiskan di Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat. Setamat dari SMAN 1 Cicalengka ia kuliah di IKIP Bandung, mengambil jurusan kimia.

Ia merupakan lulusan Ilmu Kimia dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).  Sejak SMA, Teten Masduki turut melakukan aksi demonstrasi membela petani di Garut pada 1985. Namanya pun makin dikenal sebagai pegiat anti-korupsi, setelah menjadi Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) pada 1998.  Hingga kini ia diingat sebagai orang yang berhasil membongkar kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung Andi M Ghalib di masa pemerintahan BJ Habibie.  Inilah pertama kalinya dalam sejarah sebuah lembaga seperti ICW bisa memaksa seorang pejabat tinggi negara turun dari jabatannya. Berkat kegigihannya mengungkap kasus tersebut, Teten dianugerahi Suardi Tasrif Award 1999.  Penghargaan lain yang pernah disabetnya selama berkarir, adalah  Alumni Berprestasi IKIP Bandung 2000, dan Penghargaan Ramon Magsaysay pada 2005.

Namanya yang harum di sektor antikorupsi membawanya masuk ke gelanggang politik pada 2013. Pria berkepala plontos  ini juga pernah menjajal ikut Pilgub Jawa Barat 2013 sebagai calon gubernur, mendampingi anggota DPR Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka.  Namun, lelaki berkepala plontos itu mesti mengakui keunggulan petahana, Ahmad Heryawan, yang saat itu berduet dengan aktor senior Deddy Mizwar. Duet Paten (Rieke-Teten Masduki) hanya memperoleh 5.714.997 suara arau 28,41 persen dari suara sah.

Dalam tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla, Teten Masduki menempati posisi sebagai anggota Tim Relawan. Ia kemudian menjadi anggota Tim Transisi ketika itu. Setelah Jokowi terpilih, Teten Masduki masuk ke lingkaran Istana Kepresidenan dengan menjadi staf khusus kabinet. Pada 2 September 2015, ia digeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan, yang kala itu diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, hingga 17 Januari 2018.

Pada 2018, posisi Teten Masduki di Kepala Staf Kepresidenan digantikan oleh Moeldoko. Namun, Teten Masduki masih berada di lingkaran Istana dengan menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden.

 Kini, kariernya menanjak, ia diangkat sebagai menteri oleh Jokowi. Namun tak lama sebelumnya, Teten Masduki sempat disindir oleh ICW. ICW menilai, aktivis yang berada di lingkungan Istana sudah tidak mau bersuara menyusul polemik revisi UU KPK. Teten Masduki pun enggan berkomentar. Meski demikian, ia menyadari, aktivis ICW marah dengan adanya usulan revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, yang saat ini sudah disahkan meskipun masih ditentang banyak pihak. "Wajar lah mereka marah," kata Teten Masduki di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Profil Tokoh

Nama           : Teten Masduki

Lahir             : 6 Mei 1963 (umur 56)

Tempat         :  Garut, Jawa Barat, Indonesia

Pasangan      : Suzana Ramadhani

Anak             : 2

Alma mater   : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) (dahulu IKIP Bandung)

Pekerjaan     : Aktivis

Pendidikan

  • SMA 1 Garut (1984)
  • Ilmu Kimia Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IKIP Bandung (1987)
  • Kursus kepemimpinan LSM di El Taller, Tunisia (1989)

Penghargaan

  • Suardi Tasrif Award 1999
  • Alumni Berprestasi IKIP Bandung 2000
  • Penghargaan Ramon Magsaysay, 2005

 

Jabatan / Karir :

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Indonesia ke-11 (Petahana)

  • Mulai menjabat      : 23 Oktober 2019
  • Presiden                : Joko Widodo
  • Pendahulu              : Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga

Kepala Staf Kepresidenan Indonesia ke-2

  • Masa jabatan      : 2 September 2015 – 17 Januari 2018
  • Presiden             : Joko Widodo
  • Pendahulu          : Luhut Binsar Panjaitan
  • Pengganti            : Moeldoko

Ketua ICW

  • Masa jabatan          : 1998 – 2008

Staf peneliti Institut Studi dan Informasi Hak Asasi Manusia (1978-1989)