Terompet, Seni Musik

Terompet adalah alat musik tiup modern yang terbuat dari logam. Pada alat musik ini terdapat tiga tombol yang fungsinya berbeda-beda, tetapi sama-sama untuk mengatur nada. Suara yang masuk ke dalam terompet diatur dengan menekan tombol-tombol tersebut secara benar dan tidak asal-asalan, agar udara yang ditiupkan dapat menghasilkan nada sesuai yang diinginkan. Udara yang diperoleh dari hembusan atau tiupan memang menjadi sumber suara alat musik ini, sehingga terompet digolongkan ke dalam aerophone. Dalam sebuah komposisi musik, terompet termasuk alat musik melodis yang fungsinya untuk menghasilkan sebuah nada atau melodi lagu.

Cikal bakal alat musik terompet diduga sudah ada sejak 3000 tahun lalu, berupa tulang burung yang digunakan sebagai musik pengiring ketika akan berperang, atau ritual pada masa itu. Terompet dari gading mamut (mammuthus primigenius)  ditemukan oleh arkeolog Jerman, di gua Geißenklösterle, di gunung dekat Ulm di daerah selatan Jerman. Seluruhnya berjumlah 31 buah dan diperkirkan berusia ± 43.400 tahun. Terompet  berukuran 18,7 cm tersebut memiliki tiga lubang jari, yang dapat membantu mengatur nada untuk menghasilkan berbagai macam melodi. Untuk membuat satu alat musik terompet, sebuah lekukan gading mamut dibelah kemudian dibuat lubang pada bagian tersebut. Ada tiga lubang untuk jari, satu lubang lainnya diikat dan ditempel dengan sebuah lapisan kedap udara.

Modal utama untuk dapat memainkan terompet dengan baik adalah memiliki nafas yang panjang dan kuat. Latihan pernafasan sangat mutlak bagi seorang pemain terompet profesional, terlebih untuk jangka waktu yang sangat panjang. Rokok merupakan pantangan mutlak karena umumnya perokok mempunyai nafas yang lebih pendek dibandingkan bukan perokok. Olah raga sangat disarankan terutama yang menunjang latihan pernapasan seperti joging dan renang. Cara meniup alat musik terompet tidak sama seperti meniup terompet tahun baru, atau alat musik tiup lainnya. Salah satu tekniknya adalah dengan menempelkan bibir pada mouthpiece dengan posisi seperti mengucap huruf M, lalu terompet ditiup dengan menirukan suara yang berbunyi “pret pret pret”. Teknik lainnya adalah dengan meniup menggunakan lidah atau biasa disebut tonguing, yaitu dengan cara menempelkan bibir pada mouthpiece dimana posisi lidah berada di antara bibir atas dan bawah. Setelah itu terompet ditiup dengan gerakan seperti mengucap kata “taa”. Jadi, selain memiliki nafas yang panjang dan kuat, posisi bibir saat meniup terompet, yang dikenal dengan istilah embouchure atau “ambasir” dalam bahasa Indonesia, juga ikut menentukan kualitas suara serta jenis nada yang dihasilkan.

Terompet modern banyak digunakan dalam berbagai genre musik, baik tradisional maupun modern. Musik tradisional yang menggunakan terompet antara lain Tanjidor dari Betawi, serta Tari Bedhoyo dan Tari Serimpi dari Yogyakarta pada iringan kapang-kapang (gerak berjalan maju ketika penari masuk dan keluar dari panggung). Pasukan pengawal di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga menggunakan terompet sebagai salah satu penanda kesatuannya. Alat musik terompet masuk ke Nusantara melalui bangsa-bangsa Eropa, begitu juga di Batavia dan Yogyakarta. VOC memberikan sejumlah hadiah atas lahirnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, salah satunya adalah terompet. Di Batavia kehadiran terompet berhubungan dengan fenomena kepemilikan grup-grup musik pribadi di lingkungan pejabat dan pebisnis masa itu setelah runtuhnya era kerajaan di Eropa. Musik modern di Indonesia yang identik dengan terompet adalah musik jazz, meski di tahun 90-an sempat mewabah genre musik ska yang  ‘bersenjatakan’ alat musik terompet. Rio Sidik dan Benny Likumahua adalah sedikit di antara peniup terompet terkenal yang menjadi legenda musik jazz Indonesia.