Teh Talua, Kuliner

Teh Talua adalah minuman tradisional khas Sumatera Barat yang terbuat dari campuran kuning telur, teh, susu, gula, serta jeruk nipis. Terkadang ada yang menambahkannya pinang ke dalamnya. Untuk memastikan kualitas adonan teh talua, telur yang digunakan hanya telur ayam kampung atau telur bebek. Konon teh talua dahulu hanya disajikan untuk para bangsawan, dan tidak sembarang orang bisa meminumnya. Dalam perkembangannya teh talua kemudian menyebar di  masyarakat dan banyak dijual di kedai-kedai. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa meski sudah dijual di kedai-kedai, teh talua tetap menjadi minuman bergengsi karena hanya dipesan oleh orang-orang kaya/borjuis yang datang ke kedai kemudian mentraktir minuman teh talua untuk semua pengunjung kedai. Biasanya dilakukan oleh saudagar-saudagar kaya, juragan, pengusaha, pejabat, dan para perantau yang mampir ke kedai. Saat ini teh talua telah menjadi konsumsi masyarakat umum, dan lewat para perantau minuman legendaris teh talua menyebar ke seluruh pelosok Nusantara. Rumah makan Padang biasanya menyediakan teh talua dalam daftar menunya, bahkan kedai khusus teh talua bermunculan, dari kelas mal hingga kaki lima. Di emperan jalan Matraman dekat kantor perwakilan provinsi Sumatera Barat ada teh talua yang dijajakan oleh seorang perempuan Jawa. Ia mendapatkan saran dan keahlian dari orang Minang yang bekerja di kantor tersebut. Bisa jadi suatu saat “teh talua” mengalahkan “Thai tea” yang banyak digemari anak-anak muda jaman sekarang.

Teh Talua diyakini dapat menghangatkan tubuh, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Minuman ini menjadi kegemaran para lelaki Minang yang mayoritas mata pencahariannya adalah bertani, berladang, berternak, dan nelayan. Butuh tenaga besar untuk bisa menggarap sawah atau ladang yang biasanya terletak di lereng-lereng bukit. Itu sebabnya teh talua selalu menjadi teman sarapan sebelum pergi bekerja, atau diminum terpisah selepas matahari terbit dengan pisang goreng hangat sebagai padanannya. Ketika hawa dingin mulai turun ke daerah yang masih dikelilingi bukit itu, teh talua juga menjadi pilihan untuk menghangatkan badan. Keunikan cara pembuatan, penampilan, dan rasa yang ditawarkan menjadikan teh talua minuman favorit sepanjang waktu, tidak terbatas pagi atau malam, karena teh talua juga cocok diminum dalam keadaan cuaca apapun. Ada pendapat yang menyatakan bahwa meminum teh talua sedikit-sedikit sambil “ma-hota” di kedai terasa lebih nikmat. Ma-hota adalah berbincang-bincang tentang kegiatan sehari-hari, perkembangan nagari, atau situasi negara dengan segala problema politik dan ekonominya.

Kunci dari sajian teh talua adalah pada proses peracikannya, antara lain cara memisahkan kuning telur dan putih telur, serta mengocoknya hingga berbusa dan kaku. Tidak ada teknik khusus, tetapi butuh pengalaman dalam hal kelihaian mengocok dan menghilangkan bau amis dari telur. Salah satu rahasia untuk menghilangkan bau amis telur adalah dengan menambahkan sedikit air mendidih sebelum dikocok. Teh Talua berkualitas adalah yang hasil kocokannya dapat berbentuk “tiga lenggek” atau lapis, terdiri dari lenggek pertama “buriah” berupa susu kental manis, lenggek kedua berwarna kecoklatan dari seduhan teh, dan lenggek ketiga berwarna putih berupa busa dari kocokan telur. Jika sendok alumunium diletakkan di dalam gelas teh talua maka sendok akan berdiri tegak. Ada juga teh talua yang terdiri dari “ampek lenggek” atau empat lapis. Tidak banyak yang mampu meracik teh talua menjadi empat lapis karena lazimnya hanya tiga lapis. Lenggek pertama di bagian dasar gelas yang berwarna putih adalah susu kental manis, lenggek kedua berwarna coklat tua adalah teh kental, lenggek ketiga berwarna coklat muda juga teh kental, dan lenggek keempat yang paling atas adalah busa kocokan telur berwarna putih. Saat diminum, busa putih terasa kesat, manis, dan berbuih. Pada lapisan berwarna coklat akan terasa sensasi teh kental, sedangkan di lapisan terakhir juga terdapat endapan sisa gula yang menyisakan rasa manis. Di masa lalu, alat pengocok teh talua sangat sederhana, hanya berupa seikat kecil lidi yang sudah dibersihkan, tetapi seiring perkembangan teknologi peran lidi tergantikan oleh mixer yang tidak terlalu menguras tenaga. Soal rasa tidak jauh berbeda karena tergantung keahlian memisahkan kuning telur dari putihnya agar tidak amis, kesempurnaan mengocok dan mencampurkan bahan-bahan. Namun ada juga yang masih menggunakan alat kocokan sederhana berbentuk pegas dari besi dengan ujung kayu.

Cara membuat:

  1. Siapkan secangkir air seduhan teh yang masih tawar.
  2. Siapkan gelas yang berbeda, kemudian aduk/kocok gula pasir secukupnya dengan kuning telur ayam kampung. Usahakan sesedikit mungkin putih telur yang terbawa, karena putih telur menjadi penyebab minuman menjadi amis. Keahlian memisahkan isi telur inilah salah satu kunci kelezatan minuman teh talua.
  3. Kuning telur dan gula diaduk hingga merata dan berwarna putih. Jika adonan masih berwarna kuning artinya adukan belum sempurna, dan bisa menimbulkan bau amis dalam minuman. Aduk/kocok hingga berwarna putih dan berbusa.
  4. Setelah adukan menyatu, berbusa dan berwarna putih, masukkan air seduhan teh yang telah disiapkan di awal. Campurkan susu kental manis secukupnya sesuai selera.
  5. Beri perasan air jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.
  6. Hidangkan dalam keadaan panas.