Teater, Seni Pertunjukan

Teater adalah sebuah pertunjukan yang merupakan visualisasi drama, ditampilkan di atas panggung dengan disaksikan banyak orang, dan menggunakan naskah sebagai patokannya. Teater juga dapat dimaknai sebagai tempat pertunjukan atau gedung pertunjukan. Asal mula drama dan teater tidak diketahui secara pasti, namun banyak yang meyakini bahwa pertujukan teater berasal dari upacara keagamaan.

Kata teater berasal dari bahasa Yunani Kuno theatron yang artinya drama. Teater diduga berawal dari nyanyian dalam upacara-upacara agama, dimana mereka mengadakan festival tari dan nyanyi untuk menghormati dewa Dionysius, yakni dewa anggur dan kesuburan. Sayembara drama untuk menghormati sang dewa kemudian diselenggarakan pada tahun 534 SM di Athena. Pemenangnya adalah Thespis, seorang aktor dan penulis tragedi pertama yang terkenal di dunia. Meskipun Thespis merupakan tokoh historis, tetapi bangsa Yunani Kuno menganggapnya tokoh legenda. Drama Yunani mencapai puncaknya sekitar tahun 400 SM, dimana saat itu drama masih dipertunjukkan sebagai bagian dari upacara agama, terutama yang berkaitan dengan tragedi. Jenis drama yang berkembang pada masa Yunani Kuno adalah tragedi, satire, komedi lama, dan komedi baru.

Setelah tahun 200 SM pusat kegiatan kesenian berpindah ke Romawi termasuk drama. Dalam perjalanan sejarah, drama-drama Romawi menjadi penting karena pengaruhnya sangat terasa pada masa Renaissance. Banyak penulis Renaissance yang mempelajari drama Yunani melalui saduran-saduran Romawi, seperti William Shakespeare. Drama-drama serius kurang populer masa itu, sedangkan drama komedi, pantomim, dan pertunjukan sensasional lebih diminati. Pada abad Pertengahan, drama berkembang tahun 900-1500 M. Namun drama tersebut kemudian lenyap seiring munculnya reformasi sekitar tahun 1600 M, kecuali di Spanyol. Drama-drama abad Pertengahan antara lain: (1) Liturgi yang berkembang pada tahun 900 M sebagai bagian dari upacara misa yang dimainkan oleh pastor; (2) Cycle yang memainkan drama berdasarkan kisah-kisah Bible; (3) Miracle yang mengisahkan para orang suci; (4) Moral yang mengambil tema kebaikan, kekayaan, kemiskinan, pengetahuan, kebodohan, dan sebagainya; (5) Farce; dan (6) Interlude.

Di Indonesia, drama dan teater sudah ada sejak masa pengaruh budaya Hindu/Budha, dan makin marak sejak Islam masuk ke Indonesia. Kemunculannya berbeda di masing-masing daerah. Bentuknya masih berupa teater tradisional yaitu teater orang maupung teater boneka (wayang), baik yang berasal dari istana maupun rakyat. Teater Istana berkembang ketika sistem monarki mendominasi tata pemerintahan di Nusantara, baik pada masa pengaruh Hindu/Budha maupun Islam. Sifat kesenian istana adalah profesional, dimana seniman yang mengembangkan seni budaya di lingkungan istana kehidupannya ditanggung kerajaan/kesultanan. Karya mereka penuh dengan keteraturan, makna dan simbol, yang tidak sembarang orang diijinkan membawakan kesenian itu. Namun ketika bangsa barat menguasai kehidupan istana maka perlahan sebagian kesenian istana menembus tembok dan menyebar di kalangan rakyat biasa.

Teater rakyat yang lahir di tengah-tengah rakyat umumnya berkaitan erat dengan upacara adat tertentu seperti khitanan, perkawinan, dan selamatan atau syukuran kampung. Saat upacara adat berlangsung teater rakyat menjadi hiburan yang ditonton banyak orang, dan seluruh biaya ditanggung oleh yang menyelenggarakan. Tempat pertunjukan bisa dimana saja, halaman rumah, kebun, balai desa, tanah lapang, pendopo, dan sebagainya. Unsur-unsur pokok teater rakyat adalah cerita, pelaku dan penonton. Unsur cerita dapat disingkat atau dipanjangkan tergantung kepada tanggapan dan suasana penonton, dibawakan dengan akting (laku peran) atau sambil menari dan menyanyi. Kostum para pemain biasanya sesuai tradisi.

Seni Teater di Indonesia mengalami perubahan setelah abad ke-16 ketika VOC masuk dan Belanda berkuasa. Teater Barat masuk untuk menghibur pendatang kulit putih supaya betah tinggal di negara jajahan. Mereka memainkan drama di gedung kesenian Schouwburg di Pasar Baru yang selesai dibangun tahun 1875. Kelompok sandiwara Mama Pushi Indera Bangsawan dari Malaysia berkeliling untuk berpentas di ke kota-kota pulau Sumatera dan Jawa, seperti Medan, Palembang, dan Batavia. Setelah itu muncul kelompok-kelompok sandiwara di pulau Jawa, seperti  Komedi Stambul pimpinan August Mahieu, Indo-Perancis kelahiran Banyumas, Jawa Tengah yang bermain di gedung Schouwburg Surabaya. Selain itu Dardanella pimpinan A.Piedro dengan bintangnya Dewi Ja, Miss Riboet Orion dengan bintangnya Miss Riboet, dan kelompok Bintang Timur. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) seniman teater didorong untuk membuat kreasi yang menyokong Jepang dan diarahkan untuk keperluan propaganda.

Paska kemerdekaan, teater Indonesia berkembang menjadi teater modern, ditandai dengan lahirnya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) tahun 1955 di Jakarta, yang dibidani oleh Usmar Ismail, D. Djajakusuma, dan Asrul Sani. Teater modern di Indonesia lahir dari percampuran teater tradisional dengan teater Barat. Pertunjukan teater modern jauh berbeda dengan teater tradisional, di antaranya dari segi cerita, penataan panggung, penataan cahaya, dan unsur pendukung teater lainnya. Lahirnya teater modern juga memunculkan komunitas teater seperti Teater Populer, Teater Kecil, Teater Koma, Bengkel Teater, Studiklub Teater Bandung, Teater Payung Hitam, dan Teater Gandrik.

Dalam sebuah pertunjukan teater modern terdapat unsur-unsur yang “wajib” ada, yaitu skenario, sutradara, pemain, staf produksi, desainer, properti, dan crew. Terkadang sebuah pementasan tidak menggunakan naskah yang mengatur dialog secara detail, hanya berupa plot cerita sedangkan lainnya mengandalkan spontanitas para pemain. Sutradara bertugas mengatur jalan cerita dalam pertunjukan, koordinator pementasan, dan mencari serta menyiapkan pemain. Umumnya pemain dibagi dalam tiga kategori, yaitu peran utama, peran pembantu, serta figuran. Properti yang digunakan dalam adegan kekerasan harus dipastikan aman dan tidak akan melukai pemain. Ragam seni teater di antaranya adalah drama musikal, teatrikalisasi puisi, teater boneka (wayang), teater dramatik, dan teater gerak. Teater berfungsi sebagai media pendidikan atau penyampaian informasi karena dalam pementasannya selalu mengandung pesan moral. Teater juga bisa menjadi sarana berekspresi bagi para seniman, sarana bersosialisasi, membangun solidaritas, dan meningkatkan rasa percaya diri.