Tayub, Seni Pertunjukan

Tayub adalah bentuk pertunjukan seni yang berumur cukup tua dan diduga sudah ada sejak masih jaman kerajaan di Nusantara. Awalnya merupakan bagian dari rangkaian upacara yang sifatnya religius untuk memohon keselamatan pada Tuhan serta sebagai ungkapan rasa syukur. Ada beberapa pendapat mengenai asal kata “tayub”. Pertama adalah “tata” yang berarti teratur, dan “guyub” yang artinya bersatu atau rukun. Menurut pendapat ini “tayub” dimaknai sebagai suatu bentuk tari yang ditata dengan teratur sehingga menimbulkan kerukunan atau bersatu padu. Istilahnya ditata ben guyub, diatur dengan baik untuk menjaga kerukunan di antara sesama. Kedua, kata “tayub” artinya bersenang-senang dengan ngibing (menari/berjoget) bersama tandak (ledhek atau ronggeng). Ketiga, “nayub” yang berasal dari kata sayub (sayu-sajeng, wayu-wajeng) yang merujuk pada minuman keras, artinya menari-nari dengan minuman keras. Penanggap kesenian tayub di masa lalu memang sering menghadirkan minuman keras, bahkan ada yang mengatakan bahwa tayub tanpa minuman keras bagaikan sayur tanpa garam.

Tari Tayub selain menjadi bagian dari upacara kesuburan terkait dewi padi, juga diselenggarakan dalam upacara jumenengan raja, yang kemudian bergeser menjadi tarian penghormatan untuk tamu agung. Dalam perkembangannya juga digunakan dalam rangkaian upacara keselamatan atau syukuran bagi pejabat yang akan mengemban tugas baru, atau pemberangkatan panglima ke medan perang. Seiring berjalannya waktu, tari Tayub yang semula bersifat sakral dan sering diselenggarakan di lingkungan keraton, berubah menjadi tarian rakyat yang bisa bersifat sakral atau profan sebagai sebuah pertunjukan hiburan serta tari pergaulan.

Tari Tayub biasanya dibawakan oleh perempuan dan laki-laki secara berpasangan. Saat pertunjukan penari tayub memberikan selendang atau sampur kepada tamu yang hadir untuk ikut menari “ngibing” bersamanya. Tamu yang diajak menari kemudian memesan gending (lagu) kepada pemusik yang mengiringi. Gerakan penari yang terkadang erotis untuk menghidupkan suasana sering  ditafsirkan berbeda oleh penonton, yang seringkali menjurus pada perbuatan yang kurang sopan. Hal ini menimbulkan kesan negatif yang kemudian menjadi stigma pada kesenian tayub dan para pelakunya. Untuk memperbaiki citra kesenian tayub yang sudah melegenda seperti halnya ronggeng, berbagai upaya dilakukan oleh banyak pihak. Aturan berkesenian tayub pun diperketat, antara lain para penari mengenakan busana yang lebih tertutup, kemben diganti dengan kebaya berlengan serta kain panjang. Tempat pertunjukannya diubah dengan konsep panggung sehingga ada jarak antara penonton dan penari. Saat pertunjukan berlangsung tidak diijinkan ada minuman beralkohol atau sejenisnya.

Masyarakat Jawa hingga kini masih menjadikan pertunjukan Tayub sebagai bagian dari upacara adat, seperti bersih desa atau bersih dusun yang biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun setelah masa panen. Namun waktu pertunjukannya diubah menjadi siang hari. Upacara tayub untuk mengucapkan rasa syukur para petani ini diselenggarakan secara bersama-sama oleh seluruh warga desa di pendopo atau balai pertemuan. Pengibing pertama yang mendapat penghormatan adalah kepala desa selanjutnya berturut-turut warga yang lain. Dalam sebuah pesta pernikahan, pertunjukan Tayub digelar saat mempelai laki-laki dipertemukan dengan mempelai perempuan, dan biasanya pengantin laki-laki mendapat kehormatan untuk menari terlebih dahulu bersama ledhek.

Pertunjukan tayub biasanya didukung oleh dua orang penari, bisa kurang atau lebih, tergantung kemampuan orang yang menanggap. Waranggana (pesinden) biasanya dua orang, ditambah seorang gerong (vokalis laki-laki), dan sekitar dua belas pemusik gamelan. Instrumen gamelan lengkap berlaras pelog dan slendro untuk menyesuaikan gending yang diinginkan. Pemain musik biasanya berada di luar panggung. Pembuka pertunjukan adalah tetalu, musik instrumental sebanyak 2-3 gending untuk menunggu penari atau ledhek siap. Beberapa penari kemudian muncul membawakan tari pembuka, yang disebut srimpen oleh masyarakat Blora. Selanjutnya ada sambutan dari tuan rumah sebagai pemberitahuan tentang maksud dan tujuan diselenggarakannya pertunjukan tayub. Selendang pertama biasanya diberikan kepada tuan rumah atau penanggap sebagai bentuk penghormatan, setelah itu baru diberikan kepada tamu lain yang hubungannya dekat dengan pihak penanggap. Kesenian tayub saat ini jauh lebih sopan dibandingkan sebelumnya, dimana ada jarak antara penari dan penonton sehingga memperkecil terjadinya hal-hal yang kurang senonoh. Pembuatan daftar orang yang akan nayub sebelum dimulainya pertunjukan meminimalisir sembarang orang dengan maksud tertentu menari bersama ledhek. Begitu juga waktu pertunjukan yang seringkali dialihkan pada siang hari menjadikan orang sungkan untuk bersikap tidak sopan.

Tayub juga dikenal di Betawi sebagai tari-tarian sejenis ronggeng yang dibawakan secara berpasangan. Ada sebuah kisah menarik tentang penari Tayub di Betawi, yaitu Mas Ayu Goendjing asal Pekalongan, yang dipersunting lelaki kaya raya, don juan terkenal di kawasan Jalan Pa Tek Wan (sekarang Jalan Perniagaan Raya). Oey Tam Bah (Oey Tambahsia) nama sang don juan, putera dari saudagar tembakau bernama Oey Tay Lo. Perhelatan pesta diadakan selama sebulan dan Jalan Pa Tek Wan ditutup selama pesta berlangsung. Namun petualangan sang don juan berakhir di tiang gantungan setelah kecemburuan membawanya pada peristiwa pembunuhan terhadap kerabat sang isteri, Mas Ayu Goendjing.