Tarek Pukat, Seni Tari

Tari Tarek Pukat diciptakan oleh Yusrizal tahun 1962 yang mengangkat kearifan masyarakat nelayan di pesisir Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Tarian ini merupakan bentuk apresiasi terhadap budaya dan tradisi masyarakat Aceh pesisir, yang menggambarkan kesatuan dan semangat kebersamaan melalui perilaku gotong royong, bekerja sama serta tolong menolong dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tarek pukat adalah aktivitas nelayan tradisional di daerah pesisir Aceh yang sudah berlangsung sejak abad ke-16. Para nelayan disana tidak mencari ikan dengan cara berlayar sendiri-sendiri menuju laut dan baru menebar jala sebagaimana umumnya. Mereka melakukannya secara bergotong royong, dimana pemimpin para nelayan (pawang) membawa ujung jaring (pukat) ke arah laut dengan sebuah perahu, sementara nelayan lainnya berbagi posisi secara beriringan. Setelah menunggu beberapa waktu, nelayan yang berdiri berderetan dan bersiaga di bibir pantai segera bersiap dengan mengikatkan tali ke pinggang. Secara perlahan, jaring yang telah ditambat agak jauh di laut itu ditarik (ditarek) secara berirama, agar bebannya menjadi lebih ringan. Ikan-ikan yang terkumpul pada jaring kemudian dibagi bersama antara pemilik pukat dan para penarik. Aktivitas ini dilakukan setiap pagi dan sore dengan hasil yang bervariasi baik jenis maupun jumlahnya.

Tari Tarek Pukat dibawakan secara berkelompok oleh 7 orang atau lebih penari perempuan dan 4 atau 5 orang penari laki-laki, namun seringkali hanya oleh penari perempuan saja. Biasanya diawali dengan gerakan menari dalam posisi duduk sambil menepuk dada dan paha seperti tarian Aceh pada umumnya. Para penari melakukan  gerakan secara serempak, bertautan, berurutan, berulang-ulang dengan tempo cepat disertai iringan syair dan musik khas Aceh. Dalam gerakan duduk itu para penari akan merangkai tali yang dibawanya menjadi sebuah jaring atau jala. Atraksi membuat jaring atau pukat ini menjadi bagian pertunjukan yang banyak ditunggu oleh para penonton, sementara bagi yang belum pernah melihatnya menimbulkan decak kagum dan kebingungan tersendiri. Jika ada penari laki-laki maka mereka mengiringi gerakan menjalin tali dengan berdiri di belakang sambil memperagakan gerakan yang menyimbolkan kegiatan menangkap ikan dan mendayung perahu. Setelah jaring atau pukat selesai dibuat lalu sambil berdiri diberikan kepada penari laki-laki, sebagai simbol bahwa seorang istri membantu pekerjaan suaminya untuk pergi bekerja menangkap ikan di laut.

Ragam gerak tari Tarek Pukat terdiri dari:

  1. Surak (berteriak). Surak dalam tarian ini melambangkan semangat dan pertanda bahwa para nelayan ingin berlayar menuju lautan luas untuk mencari ikan. Mereka meneriakkan kata kayoh yang artinya mendayung.
  2. Meulinggang (lenggang Aceh).  Gerak meulinggang atau berlenggang menggambarkan kegiatan membuat pukat atau jaring oleh para perempuan pesisir Aceh, yang dipenuhi suasana ceria dan meriah.
  3. Meukayoh (mendayung). Gerak kayoeh atau mendayung menggambarkan para nelayan Aceh yang tetap berusaha untuk mencari ikan, dan pantang menyerah meski harus menghadapi ombak di lautan. Gerakan kayoeh merupakan perlambang sifat dan karakter masyarakat  Aceh yang pantang menyerah walaupun menghadapi banyak rintangan.
  4. Peugot pukat (buat jaring). Gerak peugot pukat atau membuat jaring ikan sebagai alat untuk mencari nafkah dan penghidupan menggambarkan kerja sama masyarakat pesisir Aceh.
  5. Tarek Pukat (tarik jaring ikan). Gerak tarek pukat atau menarik jala ikan menggambarkan kebersamaan dan gotong royong masyarakat untuk mengumpulkan ikan yang masuk ke dalam jaring. Hal ini memberikan makna bahwa masyarakat pesisir Aceh selalu bekerja sama saat melaut dan mencari ikan sebagai mata pencaharian mereka.

Busana yang dikenakan para penari adalah pakaian tradisional Aceh. Penari perempuan mengenakan baju kurung yang agak longgar,  panjangnya melebihi pinggul, dan berlengan panjang sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Kain songket khas Aceh atau Ija Krong Sungket dililitkan di pinggang menutupi pinggul dan bagian bawah baju kurung. Tali pinggang taloe ki ieng patah sikureueng (tali pinggang patah sembilan), yang terbuat dari emas maupun perak digunakan untuk mengikatkan songket pada pinggang. Tubuh bagian bawah mengenakan celana cekak musang atau sileuweu, yaitu celana panjang yang melebar di bagian bawah dengan hiasan berupa sulaman benang emas. Bagian kepala diberi penutup berupa jilbab dan semacam topi dengan hiasan di bagian depan. Penari juga mengenakan kaos kaki. Penari laki-laki mengenakan atasan lengan panjang dengan sileuweu atau cekak musang, yang dilengkapi sarung songket berbahan sutra (ija lamgugap/ija krong/ija sangket) dan diikatkan di pinggang. Properti yang digunakan oleh penari laki-laki adalah topi nelayan yang terbuat dari rotan atau bambu, sedangkan penari perempuan membawa tali sepanjang 1 m yang akan dijalin menjadi pukat.

Musik pengiring berupa alat musik tradisional Aceh rapa’i dan seurune kalee.  Rapa’i adalah alat musik pukul khas Aceh yang bunyinya menghentak-hentak, sedangkan seurune kalee adalah alat musik tiup dengan karakter suara lembut dan mengalun. Kombinasi keduanya mengiringi lagu tarek pukat yang dinyanyikan oleh pengiring vokal. Para penari juga menyanyikan beberapa bait lagu tersebut secara bersama sama. Tari Tarek Pukat sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu, acara adat dan perayaan lainnya, serta pagelaran budaya (pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata).