Tanah Air Beta, Perfilman

Tanah Air Beta, merupakan judul Film Drama Indonesia, Produksi Alenia Pictures bekerjasama dengan Lifebuoy. Film berdurasi 96 menit ini, rilis pada 17 Juni 2010.

Film Tanah Air Beta, berkisah tentang keluarga yang tercerai-berai karena perpisahan Timor Leste dari Indonesia. Pengambilan gambar dilakukan langsung di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Dalam film ini, Lifebuoy memasukkan pesan-pesan kesehatan yang berhubungan dengan “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)”, antara lain dengan “Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)” dalam beberapa adegan film.

Film garapan Ari Sihasale ini, dilatarbelakangi kisah pasca proses Referendum tanggal 30 Agustus 1999, yang berdampak pengungsian warga Timor - Timur, yang memilih tinggal di Tanah Airnya, Indonesia. Ratusan ribu pengungsi dengan kondisi dan situasi yang memprihatinkan, menyedihkan terpaksa tinggal di sebuah Kamp pengungsian, di daerah Tuapukan dan Uabelo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di daerah pengungsian itu, nasib para pengungsi mengalami berbagai masalah kehidupan, kemanusian, ketidakadilan. Ada yang bersyukur bisa berkumpul dengan keluarganya. Ada yang kehilangan anggota keluarganya. Ada yang berpisah dengan suami, istri maupun anak. Bagi anak-anak yang belum mengerti tentang kondisi itu, hanya bisa meneteskan air mata, memendam pilu yang mendalam. Kenapa harus hidup dipisahkan? Kenapa sampai terjadi situasi seperti itu? Kenapa harus dipisahkan hubungan erat kakak beradik yang saling mengasihi, saling menyayangi?

Diantara para pengungsi itu, ada kisah menarik tentang seorang ibu bernama Tatiana (Alexandra Gottardo), yang berpisah dengan suami dan anak sulungnya saat terjadi pertikaian Dili. Tatiana bersama anaknya Merry (Griffith Patricia) yang berusia 10 tahun terus mencari keluarga yang terpisah. Tatiana mencari suami tercintanya, dan anaknya Merry mencari kakaknya, Mauro (12 tahun) yang disayanginya dan hidup dengan pamannya di Dili.

Pencarian itu pun sampai ke perbatasan Indonesia dan Timor-Timur. Sayang, penjagaan ketat apalagi dipisahkan dengan jembatan air mata (sebuah jembatan yang menjadi perbatasan antara Indonesia dan Timor Timur), harapannya bisa bertemu dengan sanak keluarganya, ternyata hanya sia-sia. Nasib itu bukan hanya dialami Tatiana dan anaknya namun juga dirasakan para pengungsi lainnya.

Waktu tetap berjalan, Tatiana yang tinggal di rumah pengungsi dalam kondisi mengenaskan. Sebuah rumah kecil, beratapkan jerami, dinding rumah dari bilik yang tak rapat, sehingga memudahkan angin untuk masuk, dan hanya terdiri dari 1 ruangan saja. Ruangan itu ditempati untuk tidur, masak dan aktivitas sehari-hari. Memang, hampir semua rumah di kamp pengungsian ini, mempunyai ciri yang sama dan tak jauh berbeda.

Tatiana dengan suka rela sekaligus mengisi kesibukan dengan mengajar di sekolah darurat di kamp pengungsian. Merry, sang anak juga sekolah di tempat itu. Bahkan ada murid bernama Carlo (Yehuda Rumbini), yang sangat jahil dan suka menggangu Merry. Alasan mengganggu karena Carlo ingin sekali mempunyai adik seperti Merry dan dapat merasakan kembali cinta kasih keluarga yang terkoyak akibat pertikaian.

Suatu hari dari seorang petugas relawan yang diperankan Lukman Sardi, memberikan kabar gembira kepada Tatiana tentang anak sulungnya yang masih hidup bersama pamannya di Dili.

Pada keesokan harinya Tatiana ditemani oleh Abu Bakar langsung bergegas menuju perbatasan untuk bertemu dengan Mauro. Namun sayang, ketika sampai disana Mauro menolak bertemu dengan Tatiana dia hanya ingin bertemu dengan Merry adiknya. Karena Mauro merasa Tatiana sudah menelantarkannya. Padahal sebenarnya Ia salah faham. Tatiana selalu datang keperbatasan untuk mencari Mauro, namun tidak pernah bertemu.

Merry mendengar percakapan ibunya dan Abu Bakar tentang Mauro. Setelah mendengar percakapan itu Ia langsung pulang dan membongkar celengannya. Merry berniat pergi ke perbatasan untuk menemui kakaknya seorang diri. Ditengah perjalanan ternyata uang Merry tidak cukup untuk naik kendaraan yang menuju perbatasan dan ahirnya dia harus berjalan kaki.

Tatiana sangat panik ketika mengetahui Merry tidak ada di rumah, Ia ingin segera mencari Merry tapi Abu Bakar melarangnya karena Ia sedang sakit. Hingga akhirnya Abu Bakar meminta Carlo untuk mencari Merry. Carlo pun berhasil menemukan Merry. Perjalanan panjang mereka lalui untuk sampai ke perbatasan. Carlo yang tadinya selalu menjaili Merry sekarang berubah menjadi pelindung Merry. Mereka akhirnya berteman dan tidak bertengkar lagi.

Setelah berhasil sampai ke perbatasan Merry dan Carlo segera mencari Mauro. Namun tak semudah yang mereka bayangkan, butuh waktu cukup Hingga akhirnya mereka berhasil bertemu dengan Mauro. Dan menjelaskan tentang kesalahpahaman di antara Mauro dan Tatiana. Dan Mauro pun bersedia bertemu dengan Tatiana.

 

Sutradara  Ari Sihasale

Produser Mildo Seran, Nia Zulkarnaen

Penulis Cerita Armantono

Pemain Alexandra Gottardo (Tatiana), Asrul Dahlan (Abu Bakar), Griffith Patricia (Merry) , Yehuda Rumbindi (Carlo Gomez), Tessa Kaunang (Ci Irene), Robby Tumewu (Ko Ipin), Ari Sihasale (Dr. Joseph), Lukman Sardi (Lukman), Marcel Raymond (Mauro), Martalita Nadia (Merry Kecil)