Tamborin, Seni Musik

Tamborin tergolong alat musik perkusi tak bernada yang dimainkan dengan cara ditabuh dan digoyang-goyangkan. Instrumen ini umumnya dibuat dari bingkai kayu bulat yang salah satu sisinya ditutupi dengan membran berbahan kulit sapi/lembu, selaput hologram atau plastik. Pada bingkai kayu tamborin terdapat lubang-lubang berisi semacam lempengan logam tipis berukuran  kecil dan dipasang rangkap (berpasangan), yang akan bergemerincing saat dimainkan. Ada juga tamborin berbentuk lengkung yang tak memiliki membran (tamborin cik cik). Cara memainkan tamborin adalah dengan memegangnya dalam posisi tegak di salah satu tangan, sedangkan tangan lainnya memukul atau mengetuk membran serta lempengan logam tipisnya secara bergantian. Untuk yang tanpa membran (tamborin cik cik) cara memainkannya juga sama, tetapi yang dipukul adalah bingkai kayu atau plastiknya. Ada kalanya juga bukan tangan yang memukul bingkai tamborin cik cik, melainkan justru dipukulkan pada anggota tubuh si pemain misal tepi telapak tangan yang bebas atau bagian paha. Kadangkala tamborin digoyang sambil ditabuh hingga terdengar bunyi gemerincing, atau hanya digoyang dan menimbulkan bunyi gemerincing yang riuh seperti dalam pentas musik dangdut. Bunyi yang dihasilkan dengan cara memukul atau mengetuk membran menjadikan tamborin juga tergolong sebagai alat musik membranophone. Bunyi tamborin dengan membran selaput hologram biasanya lebih nyaring dibandingkan dengan yang dilapis kulit hewan atau plastik. Tamborin disebut juga krincingan karena bunyi gemerincing yang dihasilkannya. Berdasarkan ukuran diameter dan beratnya, tamborin dibedakan menjadi tamborin anak dan tamborin dewasa. Proses pembuatannya sama, begitu juga cara memainkannya.  

Alat musik ritmis modern ini diduga berasal dari Eropa, yang saat itu telah menjadi salah satu instrumen dalam korps musik tentara elite Turki Janissaries. Tamborin modern memiliki kemiripan dengan  alat musik sejenis yang berkembang di Cina dan Asia Tengah (Diere), India (Daph), Peru (Chil Chil), dan Greenland (Aelyau). Tamborin dikaitkan dengan ritual pemujaan terhadap Dewi Astarte di wilayah Timur Tengah. Juga dengan acara yang sifatnya riang gembira, misalnya saat pernikahan atau merayakan kemenangan atas musuh. Pada abad XVIII-XIX tamborin modern mulai digunakan oleh komposer-komposer musik klasik terkenal yang banyak bermunculan pada saat itu. Mozart menggunakannya sebagai salah satu instrumen dalam musiknya di tahun 1782. Tidak lama kemudian Hector Berlioz, dan Igor Stravinsky dengan kelompok baletnya “Petrushka”, juga menggunakan tamborin. Alat musik perkusi ini kemudian masuk dalam ansambel musik klasik untuk memperkaya variasi warna suara dalam sebuah pertunjukan, dan sampai sekarang tetap menjadi instrumen dalam sebuah band atau musik klasik. Tamborin umumnya digunakan sebagai pengiring lagu dengan irama yang riang.

Tamborin masuk ke Indonesia melalui bangsa Belanda yang berlomba-lomba membuat grup musik pribadi sejenis musik kamar di Eropa. Fenomena ini muncul setelah kekuasaan absolut kerajaan diganti dengan sistem demokrasi. Bangsa Belanda yang waktu itu menguasai Nusantara pun terkena demam grup musik pribadi untuk menunjang kegiatan mereka, baik pribadi maupun terkait pemerintahan dan niaga. Terlebih alat musik tamborin juga digunakan dalam ritual puji-pujian di gereja yang masih berlangsung hingga kini (tari Tamborin). Dalam perkembangannya, tamborin digunakan sebagai salah satu instrumen musik dangdut yang sangat diandalkan selain gendang dan suling. Begitu juga dengan musik rebana dan qosidah, tetapi tentu saja dimainkannya tidak seheboh dalam musik dangdut, hanya untuk menambah warna suara saja.