Tambora, Masjid

Terletak di Jl. Tambora Masjid (dahulu Jl. Blandongan) Nomor 11, Kelurahan Tambora, Kec. Tambora, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebelah barat dan selatan merupakan perumahan penduduk, sebelah timur Sungai Blandongan, dan sebelah barat gedung SD Yayasan Masjid Jamik Pendidikan Islam Tambora serta rumah penduduk. Berdiri pada lahan seluas 555 m persegi, dikelilingi pagar tembok dengan pintu gerbang dari besi di sebelah timur. Denah masjid berbentuk empat persegi panjang dan luas bangunannya 435 m persegi. Halaman depan masjid diberi ubin.

Dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Ujung Pandang, dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Kemudian dibuang ke Batavia oleh Kompeni dan dijatuhi hukuman kerja paksa. Setelah lima tahun ia dibebaskan dan membangun masjid . sebagai tanda syukur. Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980. Kemudian kepemimpinan dialihkan pada Imam Saiddin sampai wafat, setelah itu beberapa kali mengalami pergantian pimpinan, dan terakhir tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari Gang Tambora. Pada tahun 1945 masjid dijadikan markas perjuangan melawan NICA, bulan Oktober 1945 diserang tentara NICA dan akhirnya Mad Supi dan kawan-kawan ditawan Belanda. Masjid Jami Tambora tercatat sebagai benda cagar budaya pada tahun 1994, dan telah mengalarni pemugaran, yaitu tahun 1979 oleh Proyek Sasana Budaya dan tahun 1980 Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta merenovasi dan menambah ruangan aula dan tempat sholat untuk kaum wanita (sisi selatan) serta penggantian warna cat dinding, dan tahun 1988/1989 oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Ruang utama berukuran 16 x 10 m, di depannya terdapat teras yang pondasinya 20 cm di atas permukaan halaman masjid. Terdapat tiga pintu dengan satu pintu utama berukuran 2,40 x 1,30 m dan tebalnya 20 cm. Di dalamnya terdiri atas tiang-tiang, mihrab, dan mimbar. Pada bagian selatan masjid terdapat bangunan: aula, berdenah empat persegi berukuran 10 x 10 m, ruang sekretariat remaja masjid, ruang koperasi, dan ruang marbot. Bangunan yang terdapat di utara adalah: ruang sekretariat yayasan, dan tempat wudhu. Atap Masjid Jami Tambora merupakan atap tumpang dua berbentuk limasan dari genteng dan pada puncaknya terdapat mustaka berbentuk buah nanas. Di halaman depan masjid di sudut tenggara terdapat bangunan makam bercungkup, yang merupakan makam pendiri masjid yaitu KH. Moestoyib dan Ki Daeng yang wafat tahun 1836.