Tahayul Pada Hari, Bulan, Dan Kejadian, Nilai Budaya

Tahayul dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang mustahil, tidak rasional, dan bersifat ketinggalan jaman. Namun di sisi lain, sebagian besar masyarakat Betawi masih mempercayai tahayul tersebut hingga saat ini. Salah satu tahayul yang dipercayai adalah tahayul pada hari, bulan dan kejadian.

Sebagian masyarakat Betawi menganggap terdapat hari dan bulan baik dan yang buruk untuk melakukan sesuatu pekerjaan atau perhelatan. Masyarakat Betawi percaya bahwa hari Selasa dianggap kurang baik untuk melakukan suatu pekerjaan dan malam Jumat Kliwon yang dianggap sebagai malam keramat yang menyeramkan. Tahayul tersebut berhubungan dengan tata cara perhitungan ruang dan waktu. Jika menikah pada bulan Shafar akan bertanda sial. Sebaliknya, jika menikah pada bulan Dzulhijjah bertanda akan mendapatkan kebahagiaan. Contoh tahayul lain yang dipecayai oleh orang Betawi terkait dengan kejadian adalah hadirnya kupu-kupu di dalam rumah pertanda bahwa akan ada tamu yang datang. Selain itu, jika bayi lahir dengan posisi sungsang pertanda bahwa bayi tersebut akan tumbuh menjadi orang yang tabah. Jika nasi cepat menjadi basi, pertanda ada hal yang tidak beres. Jika ada burung serak tengah malam lewat atap rumah, pertanda akan ada anggota keluarga yang akan sakit atau meninggal.