Suwardi Hagani, Tokoh

Suwardi Hagani putra Betawi yang lahir di Tangerang Selatan, 02 Mei 1969. Lulusan sarjana Arkeologi Universitas Indonesia. Walau kuliah dalam ilmu Arkeologi, Suwardi sangat mencintai alam  dan lingkungan hidup. Dia bertekad untuk menjadi petani dan telah ia  buktikan  selama 25 tahun. Suwardi pun menjadi aktivis lingkungan hidup, limbah  hingga ahirnya ke politik dan bersumpah tidak mau jadi wakil rakyat, tapi  terus berjuang untuk bumi mulai dari lingkungan sendiri.

Putra ke-7 dari 8 bersaudara Bapak H. Abdul Gani --seorang mantan Lurah dan juga peternak  di Tangerang Selatan-- dan ibu Hj. Marnih ini sadar betul bahwa DKI Jakarta adalah kota metropolitan yang sarat dengan pembangunan. Sebagai keturunan  Betawi Pinggiran Jakarta,  tepatnya daerah Pondok Aren, Suwardi memandang perlunya lingkungan hijau setelah pembangunan dilakukan. Hal ini diperlukan agar warga yang datang ke Jakarta, tetap sejuk di tengah-tengah gedung-gedung bertingkat tinggi.  

Aktif dalam kegiatan sosial, politik dan lingkungan hidup sejak mahasiswa seperti memelopori Hari Bebas Kendaraan (car free day) di tahun 1992, Suwardi pun juga menjadi penggerak mengurangi penggunaan kantong plastik dan mengurangi penggunaan bahan styrofoam (Majalah Tempo, Juni 1992), lewat organisasi mahasiswanya, Mapala-UI.

Selain itu ia juga aktif pada aksi bela Muslim dari pembantaian  di Perang Bosnia (kemudian dapat apresiasi Dubes Bosnia di Indonesia, HE Mohammed Cengik), hingga bantuan gempa bumi di Liwa, Lampung Barat 1994 yang menjadi peristiwa romantis bertemu jodoh dengan anggota tim teman sekampusnya, Aisyah Maulina Z., yang kemudian membuahkan 3 orang putra.

Pernah menjadi eksportir berbagai jenis tanaman ke berbagai negara. Tanamannya telah mengisi Istana Presiden Tajikistan, kebun binatang Planckendael di Belgia, berbagai proyek di Singapura serta taman di Sentosa Island.  Sekitar 1000 proyek tata lingkungan pertamanan (landscape) lokal, mulai dari RS Krakatau Medika di Cilegon, Kampung Budaya Sunda Paseban, Kabupaten Bogor hingga Istana Negara, Jakarta dan pernah mendapat penghargaan Eksportir Berprestasi 2008 dari Menteri Pertanian, Anton Apriantono.

Suwardi Hagani sempat terkenal di berbagai media massa karena sukses secara swadaya, berpartisipasi menundukan bau busuk yang sangat mengganggu di Kali Item, dekat Wisma Atlet Asian Games 2018, di Kemayoran, Jakarta. Saat ada acara hajatan besar acara olah raga Asia tersebut.

Saat ini Suwardi Hagani menjabat sebagai sekretaris umum organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) DKI Jakarta, menjadi Tenaga Ahli Wakil Ketua RI bidang Korpolkam, Dr. H. Fadli Zon S.S., M.Sc., dan sebagai anggota Dewan Riset Daerah (DRD) DKI Jakarta periode Gubernur Anies Baswedan.