STASIUN JAKARTA KOTA, WISATA SEJARAH

Stasiun kereta api Jakarta Kota yang terletak di kelurahan Pinangsia, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Di masa itu Batavia memegang peranan yang sangat penting, hingga pemerintah merasa perlu mengembangkan jalur kereta api untuk menghubungkan Batavia dengan kota-kota di sekitarnya seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain. Bagi penggemar sejarah kereta api, Stasiun Jakarta Kota tentunya sangat menarik untuk dikunjungi, begitu juga dengan peminat arsitektur karena bangunannya mewakili seni Art Deco akhir abad 19 di Indonesia. 

Akhir abad ke-19 di Batavia telah ada dua stasiun kereta api, yaitu Batavia Zuid (Stasiun Batavia Selatan), dan Batavia Noord (Stasiun Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Balaikota (Stadhuis) atau kompleks BNI sekarang. Batavia Noord merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang pada tahun 1873 melayani jalur Batavia-Buitenzorg (Bogor). Tahun 1913 jalur ini kemudian dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staats Spoorwegen (SS). Batavia Zuid milik Bataviasche Oosterspoorweg Maatschapij (BOS) melayani jalur Batavia-Kedunggedeh (Bekasi).

Stasiun Batavia Zuid atau Batavia BOS dibangun sekitar tahun 1887, tetapi kemudian ditutup untuk dirobohkan pada tahun 1923 karena di atas lahan yang sama akan dibangun stasiun kereta api yang lebih besar. Selama stasiun ditutup semua pelayanan kereta api dipindahkan ke stasiun Batavia Noord. Tahun 1926 pembangunan stasiun Batavia Zuid mulai dilakukan oleh Hollandsche Beton  Maatchappij sebagai kontraktor, dengan melibatkan Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda) karena status stasiunnya sudah milik negara. Pembangunan selesai pada 19 Agustus 1929, dan Gubernur Jenderal Belanda Andries Cornelies Dirk de Graeff meresmikan penggunaannya pada 8 Oktober 1929 dalam sebuah perayaan besar. Stasiun Batavia Zuid eks-BOS inilah yang dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota sekarang.

Bangunan Stasiun Jakarta Kota bergaya art deco dengan karateristik unsur-unsur persegi dalam bentuk geometris yang dipadu elemen lengkung. Unsur hiasan pada gaya art deco biasanya menggunakan baja dan alumunium yang dipadukan dengan penggunaan kaca blok dan kaca piring hias (vitrolite), sedangkan bahan bangunannya menggunakan semen, beton, batu-batu halus, dan terracotta. Ciri art deco tampak mencolok di ketiga pintu utama stasiun Jakarta Kota, berupa dua menara persegi yang mengapit lengkungan megah di bagian tengah. Atap dengan konstruksi barrel vault yang lazim digunakan pada bangunan Roma kuno terlihat pada area hall utama. Barrel vault atau dikenal juga dengan istilah tunnel vault adalah jenis konstruksi atap lengkung atau setengah lingkaran, yang bukan hanya berperan dalam perkuatan struktur untuk menyokong dan menyalurkan beban tetapi juga dapat memperindah tampilan bangunan. Ciri art deco lainnya tampak pada bangunan peron Stasiun Jakarta Kota yang berbentuk kanopi memanjang dengan  rangka atap berbentuk butterfly shed (kupu-kupu) dan disangga oleh struktur kantilever kolom tunggal dari baja. Begitu juga penggunaan kaca-kaca es warna dan teralis besi berbentuk lurus, yang semuanya adalah untuk memberikan kesan mendalam pada interiornya dengan cahaya warna-warni.

Arsitek dibalik kesederhanaan gedung namun bercita rasa tinggi ini adalah seorang Belanda kelahiran Tulungagung, yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels, yang tergabung dalam sebuah biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA) bersama Hein von Essen dan F.Stolts. Stasiun kereta api Jakarta Kota karya Ghijsels ini merupakan perpaduan struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk tradisional setempat yang disebut Het Indische Bouwen.